Pelatihan Jurnalistik Benjeng

Panganan opo jurnalistik iku?

Mbuh, eson dhewe yo ga sepiro denger kok?

Dulur, Sabtu ini, 22 November 2014, teman-teman komunitas lokal Benjeng Pribumi akan menggelar Pelatihan Jurnalistik untuk umum dan pelajar. Insya allah bertempat tidak jauh dari ibu kota kecamatan, tepatnya di Desa Dermo. Di salah satu ruang ruang rapat balai Desa Dermo.Selain pelajar SMP dan SMA, panitia mengharapkan anggota atau pengurus Karang Taruna bisa ikut acara ini. Karena hanya dengan anak muda yang baik, terampil dan berprestasi, nantinya bisa memajukan dan mengharumkan Benjeng di masa akan datang.

Janur gunung, kadingaren, kok ada acara umum seperti ini. Biasanya pelatihan jurnalistik paling sering diadakan sekolah-sekolah, untuk siswa-siswi. Biasanya pula, yang ikut acara seperti ini, ujung-ujungnya menjadi pengelola Majalah Dinding, Buletin atau Majalah. Memangnya siapa sih komunitas Benjeng Pribumi? Kok baru dengar, he2…

Panitia pelaksana, komunitas Benjeng Pribumi, dari brosur acara yang bisa dibaca, mereka adalah komunitas pecinta seni dan budaya. Anggotanya anak-anak muda, ada juga yang sudah berumur tapi berjiwa muda. Background pekerjaan bermacam-macam, mulai dari mahasiswa, karyawan swasta, pedagang sayur, wiraswasta sampai PNS turut menjadi pegiat di komunitas lokal ini.

Kegiatan mereka saat ini difokuskan dalam dunia tulis menulis. Berdiri sejak tahun 2012, sudah menghasilkan beberapa buku yang ditulis rame-rame. Babat Alas Benjeng, 2012, buku pertama yang menghimpun cerita rakyat asal-usul dan sejarah desa se-Kecamatan Benjeng. Buku selanjutnya adalah kumpulan cerita pendek, yang ditulis oleh 8 orang penulis muda, bertajuk “Benjeng Always in My Heart”, terbit tahun 2013. Buku terakhir yang diterbitkan yaitu “Sajak Bumi Benjeng”, kumpulan puisi berisi tentang bumi Benjeng dengan segala kelebihan dan keistimewaannya.

Dengan mengusung tema “mari belajar menulis bersama”, pelatihan jurnalistik ini, sedianya akan diisi narasumber yang kompeten di bidangnya. Ram Surahman, wartawan Radar Surabaya, putra Benjeng yang ingin mengamalkan ilmunya buat dulur-dulur Benjeng. Cak Ram, begitu panggilannya, sudah lama ingin membuat acara sejenis khusus bagi arek Benjeng. Namun karena kesibukannya beberapa waktu lalu, beliau tidak sempat. Baginya ini adalah sarana balas budi bagi wong Benjeng, yang secara tidak langsung ikut membuat karirnya sukses di bidang jurnalistik profesional.

A’an Hariyono, wartawan Sindo dan penulis muda, juga akan memberikan pengalaman berharganya buat konco plek kabeh. Mas A’an, sering diajak kerja sama dengan salah satu lembaga pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Gresik untuk mempercantik tulisan majalah biar lebih enak dibaca. Selain itu sebagai penulis muda, karyanya sering mendapat prestasi di tingkat nasional.

Narasumber lainnya, Lailatul Isnaini, beliau adalah seorang cerpenis dan pegiat di lembaga pers di Universitas Muhammadiyah Gresik. Anak muda kreatif ini, patut dicontoh semangatnya. Dengan usia yang masih sangat muda sudah menghasilkan karya yang luar biasa. Menjadi pemicu bagi kita agar bisa meniru prestasinya.

Lilis Setiyorini, menjadi narasumber berikutnya. Pengajar di SMP Negeri 2 Benjeng,  guru matematika. Nah loh, ini pelatihan jurnalistik apa diajak berhitung. Wah jangan salah, beliau ini termasuk salah satu guru berprestasi di Kabupaten Gresik. Dan yang membanggakan, beliau ini asli wong Benjeng. Selain kreatif dalam mengajar, tulisan-tulisannya mendapat apresiasi dari pengajarnya saat beliau mengikuti diklat di Jogja. Dan gara-gara bisa menulis dengan baik, mendokumentasikan cara mengajar kepada anak didiknya, menjadi acuan bagi guru-guru lain meniru cara mengajarnya yang bisa dibaca di blog miliknya.  Disela-sela kesibukan persiapan acara diklat dan seminar ke Jogja esoknya, insya alah beliau menyempatkan hadir memberikan tips dan triknya dalam menulis.

Sepertinya pelatihan jurnalistik Benjeng Pribumi sangat menarik. Saya harus ikut menjadi salah satu peserta. Semoga mendapat pengalaman langsung dari orang-orang luar biasa ini, semakin menumbuhkan semangat dan menambah kemampuan saya dalam menulis yang baik. Apalagi tidak dipungut biaya alias GRATISSS…

Wis rek, ojok atek mikir maneh, rugi nek riko gak melok…

pelatihan jurnalistik benjeng

Tretek (jembatan) mBulang

Hari minggu, satu-satunya hari yang paling aku nantikan, aku dambakan sepanjang pekan kurindukan setiap malam, berharap esok pagi menjadi hari Minggu. Hari libur, bebas dari pelajaran sekolah, tidak ada tugas, ulangan dan ujian. Bebas sebebas-bebasnya, waktunya bersenang-senang. Bagiku, seorang siswa SMP, tiada hal yang paling menyenangkan selain tanggal merah.

Minggu pagi ini, aku sudah janjian ketemu teman. Kemarin waktu ketemu di kelas, kita sudah mengatur waktu dan membuat acara kecil, khusus teman-teman dekat saja. Setelah mempertimbangkan berbagai alternatif usulan maka ditetapkan acaranya khas anak muda, meriah dan tidak banyak biaya, rujakan….! :)

Bulan lalu, acara yang sama sudah di rumah teman di sekitaran Bulurejo. Beberapa waktu lalu juga, geng lima cewek rumpi ini sudah mangkal di salah satu anggotanya di Benjeng utara, Karangploso Klampok. Dan untuk besok disepakati kita ngumpul di rumahnya Sinta, Bulangkulon.

Bulang, anak-anak lebih familiar dengan sebutan itu. Belum pernah ke sana, tapi ancer-ancernya masuk Munggugianti ke selatan. Okelah, gampang, kalaupun nyasar, nanti tanya orang.

Pagi ini mentari bersinar cerah. Mendung tipis bergelayut, berjalan pelan mengikuti arah angin berhembus. Tugas rutin mingguan seorang cewek, umbah-umbah alias cuci baju sudah beres. Jemuran basah sudah berjejer rapi di hanger baju, dicantolkan di sepanjang tali tampar yang diikat kuat antara pohon mangga depan rumah.

Tugas beres, cantikpun sudah. Mandinya sekalian waktu bilas cucian di jublang (kolam) belakang rumah. Wangi segar sabun Giv dan harum sampo Emeron, ditambah semerbak parfum cewek-cewek masi kini, serasa bunga desa yang ada dalam senandung lagu Rhoma Irama.

Asyik, sepeda motornya bapak lagi ngganggur, boleh dipinjam tapi bensinnya nipis. Oke deh pak, aq isi dulu satu liter, pakai uangku. Dan sebelum pamit bapak, aq minta tambahan uang saku, jaga-jaga kalau bensin habis atau ban bocor, kan bensinnya sudah aku beliin. Lha, sami mawon:)

Sebagai cewek baru gede, aq sudah diijinkan berkendara sepeda motor. Tidak butuh waktu lama untuk bisa berkendara dengan baik. Dan kini aku menjadi langganan tukang antar Ibu belanja sayur ke pasar Benjeng, atau kadang-kadang mbonceng Ibu buwuh ke orang hajatan di desa sebelah. Aku senang-senang saja, seperti dapat hobi baru, walaupun sesungguhnya seperti tukang ojek baru… :)

Waktu sudah pukul 9 pagi. Pagi ini aku sudah siap pergi ke Bulang. Setelah pamit Bapak dan Ibu, sepeda motor distater, kutarik gasnya, kendaraan melaju pelan. Melewati jalan desa yang bergelombang, pilih-pilih jalan yang mulus, mengurangi goncangan. Keluar jalan desa, roda sudah menapak jalan aspal yang mulus. Motor kupacu agak kencang, kuoper perseneling ke gigi 3, dan itu bagiku ternyata sudah cukup kencang.

Melewati pasar Benjeng ke arah barat menuju Munggugianti. Jalanan lancar, sesekali mobil melintas, dan kadang-kadang truk mengagetkan dengan bunyi klaksonnya. Hanya di pasar Benjeng saja cukup ramai lalu lalang orang yang menyeberang hingga laju kendaraan sesekali berhenti memberi kesempatan penyeberang jalan melintas.

*****

 

Memasuki wilayah Desa Munggugianti, sepeda motor kupacu pelan, turun dari jalan aspal lalu belok kiri masuk kampung Munggurawuh. Itu jawaban orang tua yang sampat aku tanya, untuk meyakinkan jika aku tidak salah belok.

Iya dik ini Munggu Rawuh, nanti setelah lewat jembatan Kali Lamong sudah masuk desa mBulang…

Waduh nyasar dong saya. Kalau Munggugianti itu sebelah mana pak?

Iya sama saja dik, Munggu Rawuh itu ya Munggugianti, sama saja…

Ooo…, nggih matur nuwun pak….

Ternyata menurut cerita yang aku ketahui beberapa waktu lalu, nama Desa Munggugianti dahulu disebut dengan Munggu Rawuh. Hingga sekarang, orang seumuran mbah-mbah, sering menyebut desa ini dengan Munggu Rawuh.

Sepeda motor kupacu menuju selatan, belok ke kanan lalu ke kiri, kemudian lurus lagi. Perkampungan terakhir yang aku lewati tadi, terdapat telaga di kiri jalan. Selanjutnya hamparan sawah sejauh memandang, di kanan kiri jalan. Jalanan sepi, satu dua kendaraan roda dua yang lewat berlawanan arah kujumpai, lalu kembali sepi…

Dari kejauhan aku lihat jembatan, ah, akhirnya sudah nyampek jembatan, dan sebentar lagi nyampek Bulang. Semakin dekat semakin jelas terlihat jembatan mBulang.

Aku terkesima. Kaget, aku tidak menduga kalau jembatannya sepanjang itu. Apa lagi sungai di bawahnya sangat lebar dan sangat dalam, seperti jurang curam dipegunungan. Jalanan sepi, tidak ada orang yang bisa aku jadikan teman lewat. Aduh, bagaimana ini…

*****

 

Aku berhenti sesaat. Namun aku tidak bisa berpikir panjang. Dengan tekad membaja 45, ditambah sepeda motor ini seperti melaju dengan sendirinya, akhirnya aku mengikuti saja untuk menjaga keseimbangan laju motor. Melewati jembatan kayu balok, meski pelan, goncangan sangat terasa, bunyi glodak-glodak saling bersahutan ketika roda bergantian menggilas kayu, yang sepertinya tidak terpasang dengan kuat.

Sudah separuh jalan, aku tidak berani menengok ke bawah, pandangan lurus ke depan. Dan aku semakin sadar jika jembatan ini sangat panjang, aku menjadi takut. Dan itu memacu adrenalin keberanianku.

Waktu seakan berhenti, lama sekali tidak sampai ke ujung jembatan sisi selatan. Semakin lama bunyi-bunyi kayu itu seakan menerorku untuk mempercepat laju kendaraan. Goncangan sepeda sekuat tenaga aku kendalikan, aku jaga keseimbangan tanpa menyentuh lantai jembatan, aku tidak ingin berhenti ditengah jembatan.

Demi menjaga keseimbangan, seolah aku menahan napas lebih dari batas waktu normal. Dan ketika mencapai kayu terakhir jembatan Mbulang, akhirnya aku bisa bernafas lega. Aku tidak mau menoleh ke belakang, sepeda motor kupacu lebih cepat. Aku takut, tapi aku lega sudah lepas dari situasi itu.

Keberanian tak terduga. Akupun terheran-heran dengan kenekatanku bisa menyeberang jembatan kayu tua ini. Aku seperti kerasukan sesuatu yang membakar semangat juang ‘45. Sungguh jika aku tahu sebelumnya kalau jembatan ini seperti itu, tentu aku akan cari jalan alternatif.

*****

 

Sampai di rumah Sinta di Bulangkulom, aku ceritakan pengalaman pertamaku menyeberang jembatan mBulang, seperti menyeberang jembatan sirotol mustataqim. Teman-teman malah menertawaiku. Bagaimana tidak, lha wong Sinta tiap hari ke sekolah juga lewat situ. Itu belum seberapa, kalau musim hujan jembatan kayu seperti timbul di atas air Kali Lamong dengan arus yang sangat deras…!

Walaupun bagi Sinta dan kebanyakan warga Bulang hal itu biasa, tapi bagiku itu luar biasa. Aku salut bagi teman-teman sekolahku yang tiap hari melalui jembatan mBulang, dan mereka tetap semangat dalam menuntut ilmu. Rumahku yang tidak jauh dari sekolah, jalan lebih dekat tanpa halangan yang berarti, harusnya aku lebih giat belajar.

Rujakan di rumah Sinta berlangsung seru. Dan tentu saja temanya adalah jembatan Mbulang. Dan aku seperti menjadi terdakwa di pengadilan yang diintegorasi teman-temanku, yang ujung-ujungnya diejek dan tertawakan. Namun aku senang-senang saja, bahkan tertawaku lebih kencang dari yang lain… :)

Setelah acara rujakan di rumah Sinta selesai, waktunya pulang. Aku bilang sama teman-teman, aku tidak mau melewati jembatan itu lagi. Harus lewat jalan lain. Walaupun  muter lebih jauh, ndak masalah.

Akhirnya aku lewat selatan Bulangkulon. Melewati Balongmojokulon, ke arah timur Balongomojokrajan. Dan saya baru tahu SMPN 2 Benjeng terletak desa ini. Kemudian ke arah timur, perempatan Glindah ke utara, ke desa  Gluranploso. Walaupun di Kacangan juga lewat jembatan Kali Lamong, namun jembatannya terbuat dari beton. Jadi seperti jalan biasa. Dan teman-teman yang rumahnya ke arah utara terpaksa menemani aku melewati jalan alternatif…. :)

Hari itu pengalaman tak terlupakan dalam hidupku. Pengalaman pertamaku menyeberang jembatan Mbulangkulon. Mengenangnya selalu menyenangkan….

Benjeng E-KTP-an

“Yuk…, riko wis poto E-KTP tah. Eson jange nang kecamatan. Iki maeng wis diabani Wak Bau liwat stiker mesjid, RT centong kene saiki wayahe.”

“Adingonoh…, saiki tah. Walah yuk jange mrontok nang sawah, ambek cacakmu. Embangono engko sore ga kenek tah? Lakare jare Wak Bayan wingi jare sampek tengah wengi.”

“Imbokloh…, bengi-bengi ngono pegawene sik nang kecamatan ta? Yo mbuh engko tak takokne Wak Bayan nang kono.”

Alhamdulillah. Ditengah kerepotan, diantara kesibukan, namun masih menyempatkan hadir, menunaikan urusan E-KTP. Waktunya bersamaan panen padi musim tanam kedua tahun ini, adalah waktu yang memerlukan tenaga dan perhatian lebih. Merontok padi dari tangkainya, mengusung karungan gabah dari sawah ke rumah, dan segera menjemur gabah yang belum kering betul. Meski lelah, payah, tapi terbayar gabah yang melimpah, siap ditukar rupiah…. :)

Perangkat desa yang dari kemarin hari sudah memberikan undangan E-KTP, pagi ini woro-woro warga sekampung untuk segera datang dikantor kecamatan, foto E-KTP…! Rombongan warga, yang sudah menyiapkan diri, siap berangkat. Bagi yang masih repot, sudah menyisihkan waktu siang ketika luang , atau nanti malam selepas kesibukan, sekalian begadang ndak masalah.

Seumur-umur, baru sekarang datang ke kantornya Pak Camat, itupun ndak ketemu orangnya. E-KTP, meski ndak tahu untuk apa, pasrah saja waktu di foto, jari discan, tanda tangan dan mata dikeker. Yang penting E-KTP ndak ditarik biaya, alias gratis… Dan yang lebih penting, katanya, bisa untuk ngurus utang-utangan…! ^_^

Minimarket Benjeng

Ndak tahu kenapa, di Benjeng, dulu belum ada mini market seperti Alfamart atau Indomaret. Padahal di Balongpanggang yang sama-sama kecamatan ndeso, sudah ada. Apalagi di wilayah Cerme, jumlahnya sudah hampir satu pasang jari tangan.

Sekarang, mulai pertengahan 2011, sudah berdiri mini market dengan jaringan terbanyak di Indonesia, Alfamart, di Jalan Raya Munggugianti. Dan baru saja akhir Januari 2012, sudah dibuka minimarket Indomaret di Jalan Raya Benjeng, depan Kantor Polsek Benjeng.

Dengan berdirinya minimarket di Benjeng, semoga menjadi pendorong pertumbuhan bisnis-bisnis baru, khususnya di lokasi sekitar minimarket. Biasanya pedagang makanan, mulai mangkal di sekitar situ.

Wah, artinya sekarang Benjeng sudah mulai ndak ndeso-ndeso amat dong? Bisa jadi begitu. Paling nggak kalo saya di gojlok, sudah bisa jawab kalau di Benjeng minimal sudah ada minimarket terkenal seperti di kota-kota.

Keri Cak…

Jaman dahulu kala, tersebutlah sepasang pengantin baru yang dilanda asmara. Di sebuah desa kecil yang damai, dikelilingi hutan yang masih belum banyak dijamah manusia. Hanya suara-suara burung dan binatang hutan, menambah syahdunya dua anak muda yang sedang bercengkrama di bawah pohon bambu yang rindang.

Dua anak muda yang sedang dimabuk cinta, tidak menghiraukan keluarga yang lalu lalang sibuk dengan pekerjaan rumah tangga. Bagi pengantin baru, hari ini ibarat bulan madu, seperti cuti sebentar dari penat pekerjaan sawah ladang, atau menggembala ternak. Hari ini canda tawa, kasih mesra tiada bosan.

Terdengarlah tawa-tiwi, dan suara lirih namun tapi cukup jelas. Diantara suara burung dan hembusan angin sepoi, berkata sang gadis dengan mesra, “keri Cak…” Kata dalam bahasa jawa “keri Cak” berarti “geli abang”. Tidak jelas apa yang mereka lakukan, tapi bisa dibayangkan biasanya kalau urusan geli, besar kemungkinan karena ketiak dan telapak kaki. Mungkin mereka bermain siapa yang paling kuat tahan geli, ketika ketiak atau telapak kaki saling digelitik.

Gabungan dua kata, etimologi, “keri dan cak”, lambat laun menjadi Kricak. Akhirnya kondanglah desa kecil ini dengan sebutan Kricak. Dusun Kricak sendiri termasuk dalam pememrintahan Desa Karangankidul Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik. Sedangkan asal-usul sejarah nama Kricak dengan versi pengantin baru, adalah salah satu cerita rakyat yang berkembang di desa ini.

Versi lain dari asal-usul nama Kricak, adalah gabungan dari dua kata “keri nang incak”. Artinya “geli di telapak kaki”. Anda tahu sendiri jaman dahulu belum ada sandal, apalagi sepatu kets dan fantovel. Karena sering “nyeker” ndak pakai alas kaki, telapak kaki mereka tebal, sampai “kapalen”.

Desa ini banyak tanaman berduri, seperti bambu, klampis, dan lom. Dan jika rantingnya yang banyak duri tadi mengering dan patah, jatuh ke tanah, maka berserakanlah duri di mana-mana. Selain itu Mungkin juga dulu banyak batu kerikil kecil yang lancip.

Nah, bagi orang jaman dahulu, yang sudah biasa keluar masuk hutan, dengan kaki nyeker tanpa alas kaki, hingga telapak kaki tebal kapalen, maka ketika berjalan di atas tanah yang banyak durinya, tidak ada rasa sakit. Waktu berjalan, di telapak yang ada hanya rasa geli. Mungkin juga karena ilmu kanuragan orang jaman dahulu sangat hebat, sehingga duri tajam bagi mereka hanya Kricak, “keri nang incak…”

Anda punya versi lain cerita ini, silakan menambahkan, terima kasih, nedo nrimo…

Ber-Ramadhan Yuk…

Alhamdulillah, dapat bertemu kembali dengan bulan penuh rahmat, maghfirah, dan ampunan. Bulan Ramadhan menjadi bulan yang spesial bagi umat islam. Semoga ramadhan tahun ini kita semua mendapat hikmah yang semakin menambah iman kita, amin.

Mengingat masa kecil ketika di bulan Ramadhan. Paling malas jika dibangunkan untuk makan sahur. Dengan mata masih sayu, jalan masih sempoyongan, “nyawa” masih belum genap, pergi ke meja makan. Tanpa cuci muka langsung ambil nasi dan lauk seadanya dipiring, langsung santap. Sambil nonton tv, acara komedi, membuat mata semakin melek.

Setelah makan sahur, saatnya imsak menjelang adzan shubuh. Biasanya tidur lagi, bahkan bablas sampai jam tujuh pagi, kalau tidak ada yang bangunkan. Supaya tidak ngantuk, saatnya berangkat ke masjid sholat shubuh. Di bulan ramadhan ini anak-anak semangat berjamaah sholat shubuh di masjid. Iya karena yang membuat semangat adalah aktifitas setelah seholat, yaitu jalan-jalan.

Bubaran sholat, sarung dislempangkan di pundak, lalu pergi bareng sama teman, jalan-jalan pagi. Suasana canda tawa bersama banyak orang menjadi ramai, apalagi bertemu dengan banyak kelompok-kelompok lain, terutama lawan jenis, yang sedang menikmati segarnya udara pagi. Setelah matahari mulai muncul dari peraduannya, waktunya untuk pulang.

Seperti hari-hari biasa, bermain adalah kesukaan anak-anak, tidak terkecuali di bulan Ramadhan. Namun sebahian anak-anak membatasi aktifitas fisik mereka, kuatir tidak kuat sampai waktunya berbuka nanti. Menjelang adzan dhuhur, bagi yang “poso bedug” (puasa setengah hari) mereka sudah siapkan hidangan “berbuka”. Maka ketika ketika adzan dhuhur terdengar dari masjid dan mushola, mereka langsung santap makanan dengan lahapnya.

Setelah “berbuka siang”, saatnya sholat dhuhur berjamaah di masjid/mushola. Setelah sholat, ini adalah aktifitas yang menyenangkan, tidur siang di mushola. Karena tengah hari, biasanya panas, anak-anak enggan pulang ke rumah, mereka tetap di masjid. Ada yang ngobrol ngalor ngidul, atau tiduran di mushola yang lantainya dingin, sampai waktu sholat ashar.

Setelah mandi sore, menjelang adzan maghrib, anak-anak kembali ke masjid. Karena di sini sudah disiapkan ta’jil, makanan dan minuman untuk berbuka puasa, biasanya lebih enak daripada ta’jil di rumah. Apalagi makannya rame-rame, apapaun makanan dan minumannya semuany jadi maknyus…

“Ngangsu Banyu Nang Ronjot”

Wilayah Benjeng dan balongpanggang terkenal dengan unen-unen “rendeng angel ndodok, ketigo angel cewok”. Yang artinya jika musim hujan susah duduk, karena sering banjir. Dan bila musim kemarau tiba susah cebok, karena sumber air mengering.

Iya, di wilayah Benjeng, sebagian wilayahnya sumber air tanahnya asin. Tandon air telaga sangat membantu menampung air. Meski begitu, jika musim kemarau agak lama, ditelaga pun habis. Warga mengungsi ke desa tetangga yang sumber air tanahnya bagus. Atau dengan terpaksa warga membeli air tanki dari sumber air gunung dan PDAM, yang perjrigennya lebih mahal daripada air PDAM yang dijual di kota.

Saat musim kemarau saat ini, warga Benjeng direpotkan dengan air bersih. Karena tandon air di kolam belakang (jublang) sudah mengering. Warga mulai mengambil air di telaga desa, kolam dengan volume air yang cukup besar, tapi tidak sebesar waduk. Biasanya jaraknya cukup jauh, sehingga harus di tempuh, minimal dengan sepeda ontel.

Siapkan ronjot kayu, naikkan di boncengan belakang sepeda, lalu taruh jrigen di atasnya, biasanya muat sampai 4-5 jrigen. Ada lagi ronjot yang lebih praktis, sebatang kayu sepanjang setengah meter, ditata melintang di boncengan belakang sepeda, lalu diikat yang kuat. Pegangan jrigen yang sudah diberi tali dicantolkan di ujung kiri dan kanan ronjot, sehingga posisinya di sampingkiri dan kanan roda belakang.

Telaga desa, khusus untuk air minum, tidak boleh digunakan mandi atau cuci, seperti kolam (jublang) di belakang rumah. Jika ingin menggunakan, warga cukup ambil air dengan jrigen lalu dibawa pulang ke rumah. Airnya relatif bersih daripada kolam belakang rumah. Lokasi telaga biasanya di luar pemukiman, sehingga cukup jauh, dan capek,  kalau dijangkau dengan jalan kaki.

Dirumah, penampungan air secara sederhana menggunakan genuk dari tanah liat. Setelah ngangsu (ambil air) beberapa kali, hingga genuk penuh air, dan beberapa timba untuk cuci kaki dan air wudlu. Mungkin, capeknya ngangsu mungkin setara dengan main bola di lapangan, artinya daripada main bola lebih baik ngangsu banyu…. :)

Konsumsi air banyak dihabiskan mandi dan cuci. Kalau untuk masak di dapur, tidak seberapa. Meski begitu saya berani jamin, kalau urusan mandi, sehari masih 2 kali, kalau ga percaya silakan cek bau badan wong benjeng, he2…



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.