Sejarah Pemerintahan Kecamatan Benjeng

*Sejarah Pemerintahan Kecamatan

Benjeng sudah dikenal pada jaman dahulu. Sejak tahun 1934, Pemerintahan Kecamatan Benjeng menjadi wilayah administrasi Kawedanan Gresik dibawah Kabupaten Surabaya (status kawedanan setingkat pembantu bupati). Saat itu Surabaya merupakan Kota Praja (Geemente). Kemudian pada masa orde baru, Kabupaten Surabaya dirubah menjadi Kabupaten Gresik dengan ibu kota Gresik.

Perubahan tersebut berdasarkan Peraturan Daerah nomor 2 DPRD-II/1974, tanggal 20 Maret 1974, dikuatkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 30 tahun 1974, tanggal 1 November 1974. Peraturan ini menetapkan pengalihan status nama Kabupaten Surabaya menjadi Kabupaten Daerah Tingka II Gresik, beribu kota di Gresik. Seluruh kegiatan pemerintahan beangsur-angsur dipindahkan ke sini.

Sejak saat itu pula Kecamatan Benjeng statusnya menjadi bawahan administrasi dari Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur. Adapun pejabat yang pernah memimpin pemerintahan Kecamatan Benjeng setelah tahun 1974 adalah sebagai berikut:

  • Saleh
  • Ahmad
  • Muklasin
  • Marsudi
  • Yahya
  • Santoso Kusnadi
  • Kusnan
  • Drs. Saputro, (1992-1999)
  • Drs, Kuwadijo, M.M, (1999-2005)
  • Suryo Wibowo, S.Sos, M.Si, (2005-sekarang)

Menurut Bapak Kemis, 69 tahun, mantan pegawai Kecamatan Benjeng pada tahun 1969, pada saat itu selain Camat, jumlah pegawai hanya 4 orang, terdiri dari 1 orang kepala kantor (TU), 2 orang mantri polisi, dan 1 orang penjaga kantor. Dengan menempati satu rumah kecil, yang difungsikan sebagai ruangan kerja kantor kecamatan, dan tempat konferensi kepala desa se-kecamatan. Dulu letak kantor berada di sisi utara Jalan Raya Benjeng, yang sekarang ditempati sebagai rumah dinas camat.

Pada tahun 1973, dibangun kantor baru, bertempat di seberang kantor lama, Jalan Raya Benjeng nomor 8 Desa Bulurejo. Kantor baru ini lebih besar dan memiliki fasilitas pendopo dan rumah dinas Camat. Namun sejak tahun 1992, rumah dinas camat dipindah ke tempat baru di seberang jalan Kantor Kecamatan Benjeng, sampai sekarang.

*Letak Geografis

Kecamatan Benjeng berada di wilayah selatan Kabupaten Gresik, tepatnya arah Barat Daya. Dari Gresik kota berjarak sekitar 28 km. Dengan batas wilayah sebelah barat Kecamatan Balongpanggang, sebelah timur Kecamatan Cerme, sebelah utara Kecamatan Duduksampeyan, sebelah selatan Kecamatan Kedamean.

Terletak di titik koordinat 07 15’ 46,9” Lintang Selatan dan 112 29’ 54,3 Bujur Timur. Berada di ketinggian + 4 meter di atas permukaan laut. Memiliki luas wilayah 6.128,43 Ha, mayoritas dijadikan lahan pertanian sekitar 83%. Kecamatan Benjeng membawahi 23 administrasi pemerintahan desa, yang memiliki 79 dusun, 104 RW dan 331 RT.

*Arti nama

Arti kata Benjeng, masyarakat di sini mendefinisikan berasal dari kata Jawa yaitu “benjeng atau bendjing”, yang artinya besok. Alkisah jaman dahulu daerah ini dilanda musibah, sehingga gagal panen. Masyarakat meminta bantuan bahan makanan ke desa tetangga, agar bisa bertahan hidup untuk anak dan keluarga. Mereka berjanji mengembalikan hutang bila panen tiba.

Namun ketika waktu yang disepakati telah tiba dan ditagih, mereka sering menunda, walaupun sebenarnya hasil panen mereka melimpah. Dengan berbagai alasan kemudian mereka selalu menjawab “mbenjeng mawon, wektu panen malih” artinya ”besok saja, ketika panen lagi”. Setiap kali ditagih di musim panen berikutnya, jawaban mereka sama. Kemudian saking kesalnya orang-orang disekitar sini menyebut daerah/desa ini dengan mbenjeng (artinya besok), hingga pengucapannya bergeser menjadi Benjeng seperti sekarang ini.

*Pemerintahan Desa

Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik membawahi 23 administrasi pemerintahan desa, yang memiliki 79 dusun. Berikut ini nama desa diikuti dengan nama dusun se-Kecamatan Benjeng:

  1. Desa Lundo: Telbek, Ngegot, Lundo, Jemek, Patuk dan Gempal
  2. Desa Balungtunjung: Balungtunjung, Balongkepuh, Balongmojo Kidul
  3. Desa Balongmojo: Balongmojo Kulon, Balongmojo Krajan, Balongmojo Sawahan
  4. Desa Bulangkulon: Bulangkulon, Mergayu, Prambon
  5. Desa Sedapurklagen: Sedapurklagen, Lumpang, Kedungploso
  6. Desa Deliksumber: Bulang, Sumber, Delikwetan, Delik kulon
  7. Desa Kedungrukem: Kedungglugu, Kedungrukem, Bulakploso, Ngablak
  8. Desa Munggugianti: Munggu, Gianti
  9. Desa Bengkelolor: Boro, Bengkelo, Batokan
  10. Desa Gluranploso: Gluran, Lepit, Bengkelokidul, Ploso
  11. Desa Bulurejo: Benjeng, Rayung, Bulurejo, Nyanyat, Balongwangon, Kacangan
  12. Desa Dermo
  13. Desa Kedungsekar: Kedungkakap, Kedungsekar kidul, Kedungsekarlor, Kedungsambi
  14. Desa Klampok: Klampok, Ngepung, Karangploso, Kalipang
  15. Desa Kalipadang: Kalipadang, Gesing, Kalimoro, Kalisari, Ploso
  16. Desa Sirnoboyo: Paras, Karangasem, Sirnoboyo, Setran, Wonokerto
  17. Desa Karangankidul: Kricak, Karangan, Kalanganyar
  18. Desa Munggugebang: Munggusoyi, Munggugebang, Ngemplak
  19. Desa Banter: Banter, Bareng
  20. Desa Metatu: Purworejo, Medangan, Metatu
  21. Desa Jogodalu: Jogodalu, Wonosari, Gempol
  22. Desa Punduttrate: Pundut, Trate, Karangpundut
  23. Desa Jatirembe

Koran Gresik

Saya senang baca koran, apalagi berita lokal Gresik. Saat senggang saya sempatkan (nunut) baca koran kantor, Jawa Pos. Korannya dirut PLN, Dahlan Iskan, sekarang menyajikan satu halaman khusus untuk kota pudak. Beberapa waktu lalu, satu halaman Jawapos, jadi rebutan berita Gresik dan Sidoarjo, namun sering sekali porsi berita Sidoarjo lebih banyak.

Koran baru Radar Surabaya, menawarkan paket tree in one. Koran lokal ini memberikan Radar Surabaya dan menambahkan 2 paket lagi, Radar Sidoarjo dan Radar Gresik. Saya tertarik juga untuk mencobanya. Khusus halaman gresik, mereka hanya menyediakan satu halaman, hampir sama dengan Jawapos sekarang, tapi harga lebih murah, hanya separuhnya.

Koran lainnya, Duta Masyarakat, hanya sesekali menampilkan kabar Gresik, kalau ada peristiwa besar saja atau kejadian yang layak diliput. Termasuk koran-koran lain, mungkin hampir sama tipenya dengan Duta Masyarakat.

Sebagai warga Gresik, harusnya berita tentang Gresik menjadi sarapan pagi bacaan warga kota pudak. Bagi saya berita tentang kota sebelah, tidak sepenting dan semenarik warta kota sendiri. Walaupun berita nasional, olahraga dan hiburan, memang kadang lebih menarik.

Saya mendambakan koran (tabloid, dsb) lokal Gresik menebarkan informasi, baik politik, ekonomi, kriminal, pendidikan, pembangunan, hiburan dan sebagainya dari semua wilayah Gresik. Dan semua informasi semoga bisa dimanfaatkan dengan baik oleh warganya.

Dari luas wilayah, tentunya tidak ada hal yang tidak layak untuk dijadikan berita. Mulai dari ujung utara, Panceng, Ujungpangkah, Sidayu, Dukun dan Bungah. Wilayah Kota, Gresik, Kebomas dan Manyar. Wilayah selatan Duduksampeyan, Cerme, Benjeng, Balongpanggang. Dan wilayah paling selatan Menganti, Kedamean, Driyorejo dan Wringinanom. Serta kabar dari seberang pulau Bawean, Sangkapura dan Tambak.

Dulur, mungkin selama ini sudah ada koran/tabloid lokal gresik, dan saya saja yang belum pernah tahu. Kalau ada koran/tabloid lain yang memberitakan Gresik, tolong direkomendasikan ke saya. Tapi kalau memang benar-benar belum ada, kita bikin saja koran lokal Gresik, beritanya full nggersik:D

Angkutan Umum Gresik

Potensi pengembangan transportasi Kabupaten gresik dalam menunjang sektor ekonomi serta sebagai penghubung antar wilayah – wilayah sekitarnya dapat dikatakan sangat baik dan potensial, hal ini dapat dilihat dari beberapa penjelasan berikut :

  • Terdapat jalan tol Gresik – Surabaya yang mempermudah hubungan antara Gresik Surabaya.
  • Secara umum kondisi jaringan jalan yang melayani pergerakan regional dalam kondisi baik dengan jenis permukaan beraspal (aksebilitas baik).
  • Jalan Kabupaten sebagiannya merupakan jalan poros desa (JPD). Hal ini merupakan prioritas untuk membuka daerah terisolir yang memiliki potensi ekonomi.
  • Jaringan rel kereta api melintasi wilayah Kabupaten Gresik bagian tengah, melintang dari arah barat ke timur yang jangkauannya meliputi Jawa Timur, Jawa tengah hingga Jawa Barat.
  • Terdapat pelabuhan berpotensi untuk perkembangan ekonomi lokal.
  • Perubahan status fungsi jalan yang semula berstatus sebagai jalan Kabupaten menjadi jalan propinsi yang mempermudah perawatan.

Angkutan Pedesaan di Kabupaten Gresik

  • Gub.Suryo-Karang Cangkring
  • Gub.Suryo-Panceng
  • Gub.Suryo-Ujungpangkah
  • Gub.Suryo-Cerme-Metatu
  • Gub.Suryo-Balongpanggang

Angkutan Kota di Kabupaten Gresik

  • Merah (A)
  • Biru (B)
  • Kuning (C)
  • Hijau (D)
  • Putih (E)
  • Hitam (F)
  • Coklat (G)

Angkutan Perbatasan di Kabupaten Gresik

  • Surabaya(Petekan)-Gresik(Gub.Suryo)
  • Surabaya(Ps. Turi)-Gresik(Gub.Suryo)
  • Surabaya(Osowilangun)-Gresik(Karang cangkring)
  • Balongpanggang-Ps.Turi
  • Joyoboyo-Menganti
  • Krian-Menganti-Cerme
  • Balongpanggang-Mojokerto
  • Krian-Palang Pilang
  • Pasar Taman-Karang Andong-Kedamean
  • Balongpanggang-Mantup-Ngimbang
  • Menganti-Lespandangan
  • Kriyan-Wringinanom-Lespandangan

sumber: www.gresik.go.id

Asal-usul Balongpanggang

Kecamatan Balongpanggang Kabupaten Gresik, terletak di arah barat daya dari Kota Gresik, berjarak sekitar 30 KM. Berbatasan dengan Kecamatan Mantup Lamongan, di sebelah barat. Sebelah timur Kecamatan Benjeng, sebelah selatan Kecamatan Dawarblandong Mojokerto dan sebelah utara Kecamatan Sarirejo Lamongan.

Membawahi 25 administrasi pemerintahan desa, tipe daerah agraris, mayoritas mata pencaharian pertanian. Di kecamatan ini terkenal dengan “Pasar Kemis”, yaitu pasar hewan (sapi dan kambing) yang ada setiap hari Kamis. Dulu terletak di lapangan Surojenggolo Desa Kedungpring, namun sekarang sudah pindah Ke lapangan Desa Balongpanggang.

Desa Balongpanggang menjadi ibu kota kecamatan. Kantor Muspika (Kecamatan Koramil dan Polsek ), Puskesmas, UPT Dinas Pendidikan berada di wilayah ini. Ramainya pasar desa Balongpanggang menjadi pusat bisnis dan perputaran uang, tempat berkumpulnya banyak orang, menambah terkenalnya desa ini. Ditambah lagi ada terminal Lyn BP, Balongpanggang-Pasar Turi, menjadi semakin dikenal bahkan sampai Surabaya.

Asal-usul sejarah Balongpanggang

Dari kata Balongpanggang, anda mungkin pernah berpikir Balong sama dengan “tulang”. Sehingga Balongpanggang diartikan tulang dipanggang. Kemudian anda membayangkan di daerah ini dahulu kala masyarakatnya sangat miskin dan serba kekurangan, hanya untuk mengganjal perut agar tidak keroncongan, mereka rela memanggang tulang hewan yang dagingnya sudah tidak ada lagi, untuk di makan. Wah ngeri tuh… :)

Asal usul Balongpanggang menurut cerita rakyat yang berkembang, kisah ini berawal dari Sunan Giri III, yaitu Sunan Margi. Beliau melakukan perjalanan dari Giri (Gresik) menuju ke Majapahit. Jalur yang dilewati melalui Cerme, Benjeng, Balongpanggang menuju ke barat, Mantup Lamongan.

Ketika sampai ditempat ini beliau berisitirahat. Sunan Margi adalah Raja  ke tiga dari kerajaan Giri Kedaton. Sebagai raja kerajaan islam yang mendapat gelar Sunan, maka beliau juga berdakwah untuk mengenalkan Islam dan mengajak orang-orang untuk menyembah Allah swt. Islam waktu itu adalah agama baru bagi, mereka lebih terbiasa menyembah gerumbul, pohon-pohon tua, atau tempat-tempat angker sebagai persembahan untuk leluhur nenek moyang.

Keyakinan baru yang dibawa Sunan Margi, agama Islam, menimbulkan ancaman bagi keyakinan/agama lama yang telah diyakini sejak moyangnya. Sehingga ketika Sunan Margi meminta ijin mengambil air wudlu di Balong (kolam/jublang sumber air) untuk melaksanakan sholat, warga menolak, tidak mengijinkan. Mereka memperlakukan Sunan Margi dengan tidak baik.

Karena kehadiran Sunan Margi tidak diharapkan, beliau meneruskan perjalanan ke Mojopahit, lagipula di sini hanya mampir istirahat. Mengambil arah ke barat beliau menuju Mantup Lamongan. Sepeninggal sunan Margi, keanehan terjadi. Balong/kolam sumber air surut, kering kerontang. Dasarnya retak, merekah menganga seperti habis dibakar atau dipanggang. Mungkin ini adalah peringatan dari Allah swt, atas perlakuan warga kepada Sunan Margi, agar masyarakat sadar dan memeluk agama islam.

Kemudian hingga sekarang tempat ini dikenal luas oleh masyarakat menjadi Balongpanggang. Kira-kira artinya kolam kering seperti dipanggang. Balong artinya kolam/jublang sumber air.

Ini sesuai dengan keadaaan geografis saat ini. Desa Balongpanggang sumber air dari tanah, susah keluar, kalaupun ada jarang sekali dan rasanya asin, sehingga tidak bisa untuk diminum. Bahkan untuk mandi badan rasanya lengket (pliket) dan gerah. Masyarakat Balongpanggang memanfaatkan kolam (jublang, balong) sebagai tempat tandon air hujan, untuk mandi dan cuci. Sedangkan konsumsi minum dan memasak mengambil dari air telaga khusus. Saat musim kemarau air telaga kering,  masyarakat membeli air dari gunung Mantup, atau ngangsu di desa tetangga yang sumber airnya mudah didapat, misalnya Desa Kedungsumber.

Versi lain, kata Balong, banyak tertulis dalam buku peta desa lama, lebih dikenal dengan “Kretek Desa”. Balong berarti blok atau kelompok wilayah terkecil. Sebagai penjelasan pembanding, pada surat Pajak Bumi dan Bangunan, yang saya tahu, biasanya tertulis nomor persil/objek dan nomor blok. Setiap blok terbentuk dari seratusan lebih persil/objek tanah, dalam hal ini sawah ladang dan rumah.

Ini sekelumit cerita yang bisa saya tuliskan, mohon maaf kalau jauh dari benar, mungkin karena saya orang Benjeng sehingga tidak tahu banyak  wilayah ini, namun saya punya ikatan emosional dengan tempat ini karena  Bapak saya asli Balongpanggang. Salam…

Saya Aseli Nggersik

Seberapa banyak anda mengucapkan nama-nama kota kecil di kota giri dengan lafal yang benar-benar betul. Misalnya: “Benjeng, Duduksampeyan, Driyorejo, Bungah, Dukun”. Dalam perbincangan bahasa cangkrukan sehari-hari kata tersebut pasti ada embel-embel atau penekanan didepannya, menjadi “Mbenjeng, Nduduk, Ndriyo, Mbungah, Ndukun”, iyo toh…

Tapi yang lebih unik (parah) adalah orang-orang mengucapkan kota pudak ini, Gresik menjadi “NGGERSIK”… Hanya dalam acara-acara resmi saja, Gresik diucapkan dengan benar. Kalau masuk dalam perbincangan bahasa sehari-hari dan cangkrukan warung kopi,  kata gresik kalau tidak dilafalkan “ngggersik” barangkali nggak mantap.

Walaupun tidak sesuai dengan kaidah EYD, toh tidak masalah, yang penting lawan bicara anda mengerti dengan apa yang anda maksudkan. Kalau sampeyan sampai hari ini masih terbiasa melafalkan Nggersik atau Mbenjeng…. Berarti anda memang benar-benar aseli wong nggersik:D

Halaman Berikutnya »