Jasa-jasa Jiwo Suto
Juli 4, 2009 at 1:28 pm | In gresik, nggersik-an | 1 CommentAda tiga jasa besar Syekh Abdul Kholiq Al Hamid yang bisa kita catat dalam perjalanan hidup beliau, antara lain dalam penyebaran agama islam dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Berikut ini catatan-catatan kecil tokoh Gresik utara yang sangat terkenal itu.
1. Salah satu pendiri masjid jami’ Ainul Yaqin
Untuk mengupas dan mengungkap jasa-saja beliau, maka kita tidak akan lepas dari keberadaan masjid jami’ Ainul Yaqin Ujungpangkah. Sebab di tempat itulah seorang penghulu (naib) menjalankan tugas kesehariannya melayani umat (masyarakat ujungpangkah), khususnya hal-hal yang menyangkut masalah keagamaan. Bahkan menurut cerita, pada lokasi sekitar masjid dan alon-alon Ujungpangkah dahulu merupakan sentral aktifitas kehidupan masyarakat Ujungpangkah yang masih diwarnai oleh pengaruh Hindu – Budha.
Di depan masid dulu terdapat dua tugu/candi bentar (dalam konsep Hindu – Budha bangunan tersebut disebut paduraksa) yang berfungsi sebagai pintu gerbang sebuah kerajaan, tapal batas dan pura, tempat pemujaan kepada leluhur .
Dengan diangkatnya Jiwo Suto sebagai penghulu di Ujungpangkah oleh Kanjeng Sepuh, maka beliau membangun sebuah surau/langgar dimana di tempat itu sebagai sarana melaksanakan aktifitasnya sebagai penghulu. Maka, mulailah beliau melakukan akulturasi (memadukan budaya Hindu – Budha dengan Islam) sehingga secara lambat laun bangunan candi atau tugu yang semula menjadi tempat pemujaan dialih fungsikan menjadi qori agung atau gapura pintu masuk surau/langgar.
Pada saat yang sama pada tahun 1857 dilakukan renovasi masjid agung Sunan Giri. Dalam cerita rakyat Ujungpangkah tiang Masjid Jami’ Ainul Yaqin merupakan kiriman dari Sunan Giri yang dibawa oleh santirnya bernama Raden Mas Kiriman. Oleh karena itu, masjid jami’ Ujungpangkah diberi nama Ainul Yaqin sesuai dengan salah satu nama Kanjeng Sunan Giri.
Dari cerita rakyat di atas dan proses renovasi Masjid Agung Sunan Giri, dapat ditarik garis lurus bahwa apabila empat tiang (soko) Masjid Jami’ Ainul Yaqin merupakan sisa tiang Masjid Agung Sunan Giri yang telah direnovasi tahun 1857. Maka proses pembangunan masjid jami’ Ainul Yaqin tidak lepas dari jasa Abdul Kholik Al Hamid (Jiwo Suto) karena pada tahun tersebut beliau masih hidup (menjabat sebagai penghulu) dan bertempat tinggal di sekitar masjid jami’ Ainul Yaqin.
2. Pahlawan dan pejuang kemerdekaan
Secara kronologis masa hidup Jiwo Suto adalah masa dimana bangsa Indonesia sedang berjuang melawan penjajah (masa revolusi kemerdekaan). Peran serta dan ketokohan beliau sebagai seorang wali menjadi benteng awal dan penggerak perjuangan merebut kemerdekaan, hal tersebut sama halnya dilakukan oleh Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan, dan tokoh-tokoh lainnya.
Kebencian beliau terhadap penjajah dapat dilihat jelas atas kesediaan dan keterlibatan Jiwo Suto yang mau menggantikan posisi Kanjeng Sepuh diadu dengan banteng di Alun-alun Surakarta sebagai hukuman atas sikap Kanjeng Sepuh yang membenci kehadiran Belanda di tanah Jawa (Solo).
Pertanyaan adalah, mengapa Jiwo Suto bersedia menggantikan Kanjeng Speuh menerima hukuman diadu dengan banteng di Solo? Apa sebatas seorang guru yang membela sang murid? Ataukah jiwo suto ingin mendapat ujian atau imbalan dari Kanjeng Sepuh? Jawabannya jelas, bahwa rasa nasionalisme dan kecintaan Jiwo Suto terhadap bangsa dan negara ini menjadi dasar baginya untuk berani mengambil resiko serta sebagai ungkapan dan sikap perlawanannya terhadap kehadiran penjajah Belanda di Indonesia.
Dari berapa uraian di atas, maka dapat di simpulkan bahwa Jiwo Suto mempunyai jasa dan andil yang besar tidak hanya bagi masyarakat Ujungpangkah secara khusus, tetapi juga terhadap bangsa dan negara.
3. Penyebar Islam (Waliyullah) di Gresik Utara
Tidak diragukan lagi bahwa Jiwo Suto merupakan salah satu dari sekian banyak waliyullah (penyebar islam) di Gresik Utara. Hal tersebut dapat dikeumakan karena peran dan kedudukan beliau sebagai guru sekaligus penasehat Kanjeng Sepuh yang sudah tentu mempunyai posisi penting dan berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan Kanjeng Sepuh atas wilayah yang dipimpinnya (wilayah kawedanan Sidayu dan sekitarnya).
Peran dan perjuangan beliau semakin Nampak jelas bagi masyarakat Ujungpangkah tatkala beliau diangkat menjadi penghulu (naib), dimana jabatan tersebut menyebabkan Jiwo Suto adalah sebagai figur sentral (panutan) masyarakat, sebagai tempat menambah ilmu, memecahkan berbagai masalah dan persoalan masyarakat tidak hanya terbatas masalah-masalah agama tetapi juga masalah sosial.
Atas jasa beliau tersebut, maka tak heran jika Jiwo Suto dikenal luas oleh masyarakat Ujungpangkah, SIdayu dari semua lapisan, semua generasi dan semua golongan. Bahkan bagi masyarakat Ujungpangkah dan Sidayu, tokoh ini dianggap sebagai lem perekat sejarah Ujungpangkah dan Sidayu, yang menyatukan keanekaragaman masyarakat kedua wilayah tersebut.
Sumber : majalah warta giri pemkab gresik
Syekh Abdul Kholiq Al Hamid (Jiwo Suto)
Juli 2, 2009 at 11:00 am | In gresik, nggersik-an | 1 CommentSyekh Abdul Kholiq Al Hamid (Jiwo Suto) adalah putra dari pasangan Yasmin dan Suminah namun karena kemashuran, ketokohan sang kakek maka nama Syekh Abdul Hamid lebih melekat pada dirinya dari pada nama Yasmin ayahandanya, sehingga beliau oleh masyarakat Ujungpangkah dipanggil Syekh Abdul Hamid atau dijuluki Jiwo Suto.
Waliyullah yang lahir dan dibesarkan di Ujungpangkah ini diperkirakan hidup antara tahun 1792-1861 atau abad 18-19 Masehi. Kesimpulan sementar aini diambil karena riwayat hidup beliau yang sejaman atau satu generasi dengan Adipati Suryoadiningrat (Kanjeng Sepuh) Bupati Gresik di SIdayu yang hidup pada tahun 1817-1858 M.
Sejarah singkat perjalanan hidup Syekh Abdul Kholiq Al Hamid (Jiwo Suto).
Jiwa pengelana sudah terlihat sejak kecil pada diri beliau, terbukti dalam usianya yang relative muda Abdul Kholiq Al Hamid sudah gemar berkelana dengan dibimbing oleh eyangnya bernama Syekh Abdul Hamid secara batin. Sebagaimana kebiasaan pengelana pada umumnya Abdul Kholiq Al Hamid tidak makan dan minum selama berkelana. Hal ini dimungkinkan sebagai upaya mensucikan batin, namun karena karomah yang dimilikinya, maka bila sewaktu-waktu beliau dahaga, maka cukup baginya membaca bismillah, maka rasa haus tak lagi dirasakannya.
Dalam pengembaraannya Abdul Kholiq Al Hamid tak lupa mengunjungi para wali yang lebih tua darinya dengan maksud untuk berguru dan meimba ilmu padanya, nama-nama waliyullah yang pernah dikinjunginya antara lain:
- Syekh Abdur Rosyid atau Mbah Sridi, pesareannya berada di Dusun Koang (Kebondalem Desa Kebonagung). Karena merasa lebih muda usianya Abdul Kholiq Al Hamid memanggil Syekh Abdur Rosyid dengan sapaan Kakang/Kang, maka dari sapaan itu, kini dusun tersebut dikenal dengan nama dusun Koang.
- Syekh Abdur Rohman (Mbah Panglen), pesareannya kini lebih dikenal dengan nama makam Panglen di Dusun Koang Kebondalem Kebonagung. Setelah dirasa cukup berguru dan menimba ilmu pada keduanya, maka Abdul Kholiq Al Hamid berpamitan untuk meneruskan pengembaraannya, namun sebelum berpisah Abdul Kholiq Al Hamid member gelar kepada Syekh Abdur Rohman dengan sapaan Mbah Panglen sebab dalam kesehariannya Syekh Abdur Rohman sebagai penjual barang-barang panglen (barang-barang kelontong).
Setelah berpamitan pada keduanya, Abdul Kholiq Al Hamid meneruskan pengembaraannya. Dalam pengembaraanya selama Sembilan tahun dan baru pada usia 23 tahun beliau menikah dengan gadis pilihannya bernama Siti Rohmah, gadis asal Dusun Siraman Dukun. Gadis bernama Siti Rohmah ini adalah anak seorang janda bernama Mukholidah. Alas an pernikahan beliau dengan Siti Rohmah adalah sebagai upaya proses isalamisasi (penyebaran Islam) di wilayah Dukun saat itu.
Setelah menikah, beliau melanjutkan pengembaraannya. Kali ini tidak berlangsung lama, hanya satu tahun, sebab secara kebetulan ketika beliau singgah di Kuncen Sidayu beliau bertemu Adipati Surya Adiningrat (Kanjeng Sepuh) yang tak lain adalah Bupati Gresik ke-8 Sidayu. Beliau menetap sebagai guru dan penasehat di bidang keagamaan di Kesepuhan Sidayu selama hamper 2 tahun. Dalam pengabdian tersebut terjadi peristiwa maha penting dalam babak sejarah perjalanan hidup Abdul Kholiq Al Hamid yaitu peristiwa adu banteng dengan manusia yang akhirnya menyatukan desa Pangkah dengan Sidayu dalam satu kesaman cerita rakyat (volk loor).
Adapun adu banteng dengan manusia di alon-alon kota Surakarta (Solo) dituturkan oleh Shohibul Hikayat sebagai berikut:
“Kanjeng Sepuh pada masa pemerintahan selalau berseberangan dengan kebijakan Kasunanan Solo (Raden Sayyid Abdur Rohman – yang juga ayahandanya sendiri), Kanjeng Sepuh sering dianggap kontoversial dan sangat membenci kehadiran Belanda di Jawa.
Karena Kanjeng Sepuh dianggap tidak se ide dan selalu menentang kebijakan pusat, maka sebagai hukumannya Kanjeng Sepuh diundag ke Solo untuk diadu dengan seekor banteng. Mendengar panggilan tersebut, Kanjeng Sepuh tampak susah, lesu dan bingung, dalam kebingungan tersebut Kanjeng Sepuh meminta bantuan kepada sang guru (Jiwo Suto) untuk membantunya.
Melihat sang murid dalam masalah, maka Jiwo Suto bertanya kepada Kanjeng Sepuh, “Apa yang sedang terjadi, sehingga Kanjeng tampak gelisah?”. Kanjeng Speuh menjawab, “Siapa yang tidak susah, sebentar lagi aku akan diadu dengan seekor banteng”. Jiwo Suto balik menjawab, Mengapa Kanjeng mesti susah, saya siap menggantikan jika menghendaki”.
Mendengar jawaban Jiwo Suto, Kanjeng Sepuh terdiam dan berfikir kemudian bertanya, “Apa hal itu boleh dilakukan?” Jiwo Suti kembali meyakinkan kepada Kanjeng Sepuh, “Kanjeng, marilah kita berganti baju, dengan demikian wajah kita pun akan berubah” (mungkin inilah yang disebut ilmu maleh rupo).
Dengan karomah dan kekuasaan Allah SWT, wajah keduanya berubah setelah berganti baju, maka berangkatlah keduanya dan berganti posisi, dimana Kanjeng Sepuh menjadi kusir dan Jiwo Suto duduk di belakang. Singkat cerita, sampailah kedua di lapangan Solo, di situ sudah berkumpul beribu massa untuk menyaksikan adu banteng ini.
Jiwo Suto (yang sudah berganti wajah Kanjeng Sepuh) turun dari kereta dan langsung menuju lapangan. Bantengpun dilepas dan terjadilah pertarungan sengit, karena pertarungan berlangsung lama, maka Jiwo Suto minta ijin kepada Susuhunan Solo untuk membunuh banteng tersebut. Setelah mendapat ijin, maka kepala banteng itu langdung dipukul dan ihancurkan berkeping-keping.
Setelah perarungan berakhir, maka kembalilah keduanya ke SIdayu. Mengingat jasa Jiwo Suto yang begitu besar kepada beliau, maka Kanjeng Speuh member hadiah kepada Abdul Kholiq Al Hamid untuk mengjadi penghulu (naib) selama tjuh turunan di Ujungpangkah.
Setelah Kanjeng Sepuh wafat tahun 1858 M, maka Abdul Kholiq Al Hamid pun kembali ke Siraman Dukun untuk menemui istrinya. Karena beliau tidak mempunyai keturunan yang hidup, maka beliau mengadopsi keponakannya bernama Jaziroh sebagai anak angkatnya. Hamper 5 tahun Jaziroh diasuhnya, namun dia akhirnya memilih tinggal dan kembali kepada orang tuanya.
Tak lama kemudian, istri beliau wafat dan selang beberapa tahun beliaupun menyusulnya dan dikebumikan di Siraman Dukun.
Selama hamper 25 tahun Abdul Kholiq Al Hamid disemayamkan di Siraman Dukun dalam perkembangannya di Siraman terjadi malapetaka (Pagebluk), dimana penduduk desa terjangkit macam-macam penyakit sehingga banyak yang meninggal. Akhirnya dalam suatu malam salah satu sesepuh desa tersebut mendapat petunjuk Allah SWT/nglamat, bahwa pagebluk yang menimpa penduduk Siraman ini akan berakhir bila jenazah Abdul Kholiq Al Hamid dipindah ke tanah kelahirannya di Pangkah.
Berdasarkan petunjuk Allah tersebut, maka jenasah beliau digali dan dipindah ke Pangkah dan keanehan terjadi manakala jasad yang terbaring selama 25 tahun tersebut ketika diangkat tetap utuh dan tidak rusak sama sekali. Atas keagungan, kebesaran Allah dan keanehan tersebut maka Abdul Kholiq Al Hamid mendapat julukan Jiwo Suto. Jiwo berarti jiwa, Suto berarti utuh, suci, sempurna. Dan sejak itu hingga kini nama Abdul Kholiq Al Hamid lebih dikenal dengan nama Jiwo Suto. Pesareannya berada di belakang Masjid Jami’ Ainul Yaqin Ujungpangkah.
sumber: majalah warta giri
Tradisi Selapanan
Juni 14, 2009 at 1:16 pm | In 1 | 8 CommentsHari kelahiran, dalam bahasa jawa disebut weton, adalah gabungan hari yang unik antara hari masehi dan hari pasaran (kalender jawa).
Dalam kalender masehi jumlah hari ada 7, yaitu hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu. Sedangkan hari pasaran ada 5, dimulai dari Pon, Wage, Kliwon, Legi dan Pahing. Peringatan weton pertama dalam tradisi jawa yang sudah turun temurun adalah selapanan. Tradisi memperingati hari lahir ini, dilakukan setelah 35 hari kelahiran bayi.
Kenapa harus 35 hari ya? Karena dari mbah dukun memang disuruh begitu kok…
Ternyata jawabannya sederhana. Misalnya Jumat Legi, maka jumlah 7 hari masehi dan 5 hari pasaran, akan bertemu dan menjadi kombinasi hari yang sama Jumat Legi, pada hari ke-35. Hitungan ini seperti mata pelajaran matematika anak kelas lima SD, Angka kelipatan 7 dan angka 5, akan bertemu dan sama di angka 35.
Lagi pula penemu tradisi selapan, lebih mudah mengingat hari kelahiran daripada mengitung kelipatan hari, apalagi kalau tidak ada kalender seperti sekarang.
Dalam tradisi, sebelum selapan bayi tidak boleh di bawa bepergian. Si Ibu ndak boleh keluyuran ke tetangga, harus banyak minum jamu, perut dipasang bengkung (korset). Tidak boleh begini tidak boleh begitu, dilarang ini dilarang itu.
Pantangan ini menurut saya memang sangat berguna agar orang tua tetap berhati-hati merawat bayi. Begitu juga si Ibu yang masih dalam masa penyembuhan, harus mendapat perhatian yang lebih.
Mitos lainnya kalau menjelang maghrib, bayi harus digendong, supaya tidak di makan buto (raksasa) Betoro Kolo. Nah kalau yang ini memang saya laksanakan, bukannya takut dengan buto, tapi anak saya tergaget-kaget dengar suara adzan dari speaker masjid, yang letaknya tidak jauh dari rumah kami…
Nah, kalau sampean masih ingat wetonnya ndak?
Nama Desa dan Dusun se-Kecamatan Benjeng
Juni 12, 2009 at 12:41 am | In gresik, nggersik-an | 5 CommentsKecamatan Benjeng Kabupaten Gresik membawahi 23 administrasi pemerintahan desa, yang memiliki 79 dusun. Berikut ini nama desa diikuti dengan nama dusun se-Kecamatan Benjeng:
- Desa Lundo: Telbek, Ngegot, Lundo, Jemek, Patuk dan Gempal
- Desa Balungtunjung: Balungtunjung, Balongkepuh, Balongmojo Kidul
- Desa Balongmojo: Balongmojo Kulon, Balongmojo Krajan, Balongmojo Sawahan
- Desa Bulangkulon: Bulangkulon, Mergayu, Prambon
- Desa Sedapurklagen: Sedapurklagen, Lumpang, Kedungploso
- Desa Deliksumber: Bulang, Sumber, Delikwetan, Delik kulon
- Desa Kedungrukem: Kedungglugu, Kedungrukem, Bulakploso, Ngablak
- Desa Munggugianti: Munggu, Gianti
- Desa Bengkelolor: Boro, Bengkelo, Batokan
- Desa Gluranploso: Gluran, Lepit, Bengkelokidul, Ploso
- Desa Bulurejo: Benjeng, Rayung, Bulurejo, Nyanyat, Balongwangon, Kacangan
- Desa Dermo: Dermo
- Desa Kedungsekar: Kedungkakap, Kedungsekar kidul, Kedungsekarlor, Kedungsambi
- Desa Klampok: Klampok, Ngepung, Karangploso, Kalipang
- Desa Kalipadang: Kalipadang, Gesing, Kalimoro, Kalisari, Ploso
- Desa Sirnoboyo: Paras, Karangasem, Sirnoboyo, Setran, Wonokerto
- Desa Karangankidul: Kricak, Karangan, Kalanganyar
- Desa Munggugebang: Munggusoyi, Munggugebang, Ngemplak
- Desa Banter: Banter, Bareng
- Desa Metatu: Purworejo, Medangan, Metatu
- Desa Jogodalu: Jogodalu, Wonosari, Gempol
- Desa Punduttrate: Pundut, Trate, Karangpundut
- Desa Jatirembe: Jatirembe
Biar anda tidak kesasar, berikut ini saya lampirkan peta Kecamatan Benjeng.

Peta Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik
Otonomi Award untuk Gresik
Juni 4, 2009 at 11:31 am | In gresik, nggersik-an | 5 CommentsSetelah lama berharap kabupaten tercinta saya, Gresik, bisa menjadi salah satu pemenang dalam penghargaan bergengsi Otonomi Award Jawa Pos, akhirnya tahun ini Bapak Bupati Gresik bisa membawa pulang pialanya. Wah, bangga rasanya…
Satu-satunya daerah kabupaten yang meraih trophy otonomi award kategori unik, daerah dengan komitmen menonjol pada kerjasama antar daerah dalam penyediaan pelayanan cuci darah bagi warga miskin tahun 2009.
Cuci darah (haemodialisa) adalah salah satu cara pengobatan bagi penderita gagal ginjal stadium 5 seumur hidup, tentu selain cangkok ginjal. Biaya cuci darah yang terbilang tinggi yaitu mencapai Rp. 750 ribu tiap satu kali cuci darah, tentu memberatkan bagi pasien. Jangankan pasien keluarga miskin (gakin), pasien dari kalangan mampu saja tentu akan merasa berat dengan biaya pengobatan cuci darah ini. Apalagi bagi pasien gagal ginjal stadium 5, diperlukan cuci darah sampai 2 kali seminggu.
Untuk melindungi masyarakat Gresik dari tingginya biaya pengobatan tersebut serta pelayanan ksehatan yang optimal bagi warga Gresik, Bupati Gresik mengeluarkan Peraturan Bupati No. 73 tahun 2008, tentang : Pelayanan Hemodialisa di RSUD Ibnu Sina. Perbup tertanggal 21 Nopember 2008 ini menetapkan pelayanan cuci darah bagi masyarakat tidak mampu yang tidak dilayani jamkesmas, hanya dengan KTP Gresik. Sedang yang bukan warga Gresik diberi keringanan sampai 50 % dengan menunjukkan surat keterangan tidak mampu (SKTM). Toleransi ini diberikan sampai batas waktu Akhir 2008 lalu. Pada tahun 2009 mestinya mereka sudah diperlakukan sebagai pasien umum.
Tentu kedaan ini menjadi dilematis bagi pihak rumah sakit, karena memberhentikan cuci darah akan berakibat fatal bagi pasien, sehingga sampai saat ini kami masih memberikan toleransi.”ini demi kemanusiaan”. Secara intensif kami terus berkoordinasi dengan pihak Pemda dimana pasien berasal, agar Pemkab bersangkutan mau menanggulangi biaya warganya. Sampai saat ini dari 142 pasien, 40 diantaranya dari luar Gresik.
Tentang Unit Haemodialisa yang pada Juli 2008 mendapat ISO 9001 :2000 dari WQA mempunya mesin cuci darah sebanyak 15 unit, “kami mengoperasikan 14 mesin sedangkan 1 mesin yang lain stand by sebagai cadangan. Jadi tiap hari kami dapat melayani cuci darah sebanyak 42 pasien/hari dengan asumsi 1 mesin dapat melayani 3 orang pasien. Bahkan kalau ada tambahan pasien darurat, kami mengoperasikan mesin tersebut sampai 4 kali sift. Dalam keadaan normal tanpa ada tambahan pasien, maka jam kerja di ruang Haemodialisa (cuci darah) mulai jam 06.30 – 20.00. kadang sampai jauh malam kalau ada tambahan pasien darurat, karena dalam 1 kali cuci darah membutuhkan waktu 4 jam.
Sumber: Pemkab Gresik
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
