Kemarau Bediding
Mei 12, 2008 at 9:40 pm | In 1 | 26 CommentsSeminggu ini, suhu udara pagi di daerah kami membuat orang malas mandi. Cukup dingin, dan lebih dingin lagi ketika menyiram ke sekujur tubuh di kamar mandi. Menjelang tengah malam hingga pagi, dinginnya seakan menusuk tulang. Membuat orang semakin mancal kemul (menutup selimut rapat-rapat), semakin lelap dalam tidur melenakan setiap muslim melewatkan kewajiban subuhnya.
Bagi pekerja pabrik yang baru pulang kerja di shif malam tentu cukup menyiksa dalam perjalanan pulang ke rumah. Hempasan angin semakin menusuk ke sekujur tubuh. Bagi pedagang sayur yang memulai aktifitasnya pada dini hari, dingin malam ini sangat menggoda untuk libur dari kerjaan daripada berjuang melawan kantuk, kalau saja tidak ingat akan menafkahi anak dan istri.
Menurut ahli cuaca, saat ini adalah peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, sepanjang hari-hari ini kami sudah memasuki musim kemarau basah yang ditandai dengan suhu udara yang cukup dingin. Dan kami lebih familiar dengan istilah kemarau bediding.
Jadi teringat waktu SMA di Surabaya, yang tiap hari terbiasa dengan suhu puanasnya, meski musim hujan atau kemarau. Saat liburan sekolah mudik ke Gresik, yang kebetulan musim bediding, tengah malam dinginnya sangat menyiksa, semua sendi seakan mati rasa, walau sudah pakai selimut dobel.
Ah, besok pagi mandi apa nggak (lagi) ya?
Suwuk Embah dan Jahe
Mei 7, 2008 at 10:33 pm | In 1 | 16 CommentsMulai hari senin kemarin siswa sekolah menengah pertama (SMP) melaksanakan ebtanas, eh, ujian nasional. Selama empat hari ini menjadi klimaks dari 3 tahun belajar di bangku sekolah. Waktu yang harus dipergunakan sebaik-baiknya, oleh siswa dan dukungan orang tua, agar si anak tidak mengulang setahun lagi atau lulus dengan ijasah SMP kejar paket. Walaupun tidak ada beda menurut saya, toh sama-sama lulus.
Saya jadi teringat pada waktu ebtanas SD. Saat hari pertama, pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke sekolah, para orang tua meminta suwuk (doa) anak-anaknya kepada Yai Tro. Suatu hal yang biasa pada masa itu ketika seseorang menghadapi hari-hari bersejarah dalam hidupnya, agar sukses dan diberi kemudahan.
Yai Tro adalah sesepuh desa ini. Orang tua yang dituakan, selain karena ketuaannya tentu saja karena ilmu suwuknya. Saya memanggilnya Embah, karena beliau Bapak dari Ibu saya.
Pagi itu, dihadapan beberapa anak SD yang diantar orangtuanya, mulut Yai Tro komat-kamit mengucap doa sambil memejamkan mata. Di akhir doa beliau mendekatkan mulutnya ke kening sang anak, kemudian bruss… Hembusan lembut tapi mantap hingga meninggalkan bekas basah di setiap kening anak-anak.
Setelah di suwuk, beliau memberikan syarat lain yaitu harus mengunyah jahe sebesar jempol. Agar tidak terlalu pedas boleh dicampur gula pasir. Dalam hati, saya tidak begitu yakin dan percaya, tapi setelah dewasa saya baru tahu setelah baca artikel kesehatan di koran. Ternyata Jahe mengandung zat yang berguna meningkatkan daya konsentrasi, tentu hal ini sangat dibutuhkan untuk membantu siswa dalam mengerjakan ebtanas, wow…!
Sekali lagi benar kata pak Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos, beliau mengajak kita semua untuk tegakkan akal sehat. Satu pelajaran lain bahwa tradisi remeh yang tidak masuk akal, mungkin di situ ada nilai ilmiah lain yang harus kita gali lebih dalam.
Pasar Hewan
Mei 2, 2008 at 2:41 pm | In 1 | 18 CommentsTanggal 1 Mei 2008 kemarin adalah hari libur nasional. Maka Kamis pagi saya manfaatkan liburan ini sebaik-baiknya. Setelah cukup pusing menentukan pilihan (halah…) akhirnya saya memutuskan untuk jalan-jalan ke pasar sapi Balongpanggang, yang lebih populer dengan sebutan kemisan, atau pasar kemis karena adanya setiap hari kamis pagi sampai tengah hari. Well, liburan yang berkelas bukan?
Dari rumah berjarak hanya 2 km, dengan naik motor saya ngajak teman biar gak bengong sendirian di sana. Pasar hewan Balongpanggang seluas lapangan sepak bola. Separuh lapangan banyak onggokan kayu tertata rapi untuk menambatkan sapi dan kambing yang akan dijual. Sedangkan sisanya untuk parkir “mobil pribadi sapi” (truk & pick up) dan stan beberapa warung makanan. Meskipun namanya pasar hewan, jangan bayangkan di pasar ndeso ini terdapat bermacam jenis hewan yang dijual, tapi di sini yang dijual hanya sapi dan kambing. Di luar itu, ada beberapa pedagang barang bekas, jamu/obat kuat, dan penjual kreatif lainnya dengan teriakan kampanye yang khas.
Saya sering lewat depan pasar hewan ini. Biasanya bau yang khas dari kotoran sapi cukup menusuk hidung. Namun ketika saya masuk dan berbaur dengan sapi-sapi ini, bau itu malah tidak terasa. Lebih tepatnya berangsur hilang karena hidung saya mulai terbiasa dengan baunya. Lagi pula pagi itu saya belum mandi, jadi bau badan saya sama sapi mungkin ga jauh beda, wakaka…
Sebagaimana pasar adalah tempat perputaran uang dan berkumpulnya pedagang, maka tak luput dari makelar, begitu juga di pasar hewan. Dalam komunitas ini istilahnya adalah blantik. Penampilan paling khas dari makelar hewan rojokoyo (hewan ternak berkaki empat) adalah rata-rata mereka memakai topi laken, topi koboi ala jagoan Amerika jaman bahala. Hanya saja dari obervasi saya yang cukup mendalam dan saya yakin akurat, ternyata blantik di sini tidak berkuda tidak pula berpistol…
Lokasi pasar hewan di Kabupaten Gresik:
- Pasar hewan Kencana, desa Mentaras, kecamatan Dukun, hari pasaran Kliwon.
- Pasar hewan Panceng, desa Sorowati, kecamatan Panceng hari pasaran Selasa.
- Pasar hewan Surojenggolo, desa Kedungpring, kecamatan Balongpanggang, hari pasaran Selasa.
- Pasar hewan Balongpanggang, desa Balongpanggang, kecamatan Balongpanggang, hari pasaran Kamis.
Hari Baik…
April 29, 2008 at 12:08 am | In 1 | 16 CommentsHari ini, Minggu Kliwon bulan Bakda Mulud, benar-benar hari baik. Setelah melakukan perhitungan dengan rumus kejawen, berdasar faktor sandang pangan gedhong loro pati (sandang, pangan, kekayaan, sial, kematian) maka didapatkan hari baik. Hari ini setidaknya dua teman saya melaksankan pernikahan. Selain karena cuaca cerah tidak hujan, bagi saya memang benar-benar hari baik karena hari ini adalah hari libur.
Teman saya yang satu kantor menikah dengan gadis cantik tetangga rumahnya. Dan satunya lagi, teman karang taruna, menemukan gadis pujaannya, tetangga provinsi, he2… Tepatnya dari Kabupaten Pati Jawa Tengah, Kecamatan Jakenan Desa Tlogorejo.
Bersama teman-teman paguyuban karang taruna, saya ikut ngantar pengantin putra ke Pati. Bagi wong ndeso seperti kami, perjalanan jauh ini kami anggap seperti nglencer (rekreasi), walaupun menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam, itu sudah termasuk macetnya dan berhenti istirahat.
Ternyata nggak di Gresik nggak di Pati, hari ini memang hari baik. Sama-sama cerah tidak hujan, dan sama-sama hari libur… ![]()
Tokoh Wanita Gresik
April 22, 2008 at 4:02 am | In 1 | 20 CommentsMasih dalam rangka memperingati Hari Kartini, saya mencoba mencatat perempuan- perempuan perkasa di Gresik. Tokoh perempuan fenomenal yang telah mengukir sejarah Gresik dengan prestasinya yang tidak bisa kita lupakan adalah sebagai berikut:
- Nyai Ageng Pinatih, ibunda Joko Samudro (Sunan Giri), saudagar kaya yang memangku jabatan Syahbandar Pelabuhan Gresik. Seorang wanita yang mengurusi segala administrasi perdagangan, sebagai penengah perselisihan antar saudagar dengan nahkoda kapal, pemberi petunjuk dan nasihat tentang cara berdagang di pelabuhannya.
- Masmundari, pelukis damar kurung (lampion) khas Gresik. Peraih berbagai penghargaan seni rupa dari komunitas seniman dan pemerintah. Damar kurung dalam sejarahnya digunakan saat Padusan menjelang bulan ramadhan, kerlap-kerlip cahayanya menjadikan suasana bulan puasa lebih meriah. Saat ini damar kurung menjadi salah satu ikon Gresik.
- Dari catatan buku Grissee Tempo Doeloe, pada tahun 1932 di Gresik pernah ada yang namanya Nyonya Toekoel, Nonya S. Koempoel, dan Nyonya S. Soedirman. Beliau-beliau adalah para kawula muda terpelajar di Jawi Wetan yang tergabung dalam partai Persatoean Bangsa Indonesia yang sangat vokal dalam menentang kebijakan pejabat kolonial Belanda di Gresik.
Di tahun 2008 ini, tidak banyak tokoh wanita Gresik yang cukup dikenal. Pemakai kebaya anggun dengan lenggok jalan penuh santun di Kota Pudak ini, hanya beberapa saja yang bisa saya catat. Dari bidang pemerintahan yang saya ketahui adalah sebagai berikut :
- Yetty Sri Suparyati, Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Gresik. Saat ini juga menjabat Plt Asisten III Pemkab Gresik.
- Ninik Sudiharni, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gresik.
- Malahatul Fardah, Kepala Bagian Organisasi pada Sekretariat Daerah Kabupaten Gresik.
- Indah Shofianah, Camat Gresik. Beliau adalah satu-satunya camat perempuan di Kabupaten Gresik.
Tentunya tokoh wanita dari bidang lain dengan kemampuan dan prestasinya tidak bisa disepelekan dalam majukan kota ini. Hanya keterbatasan pengetahuan saya saja yang belum mengenal beliau-beliau dengan baik.
Untuk semua perempuan Indonesia, Jangan nunggu kondangan untuk berkebaya… ![]()
Setahun sekali rayakanlah Kartinimu, Kartini kita. Selamat ber-Kartini untuk Indonesia yang lebih baik.
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

