Belajar Bersama di Sekolah Menulis

Apa sih sekolah menulis itu? Walah, sampeyan penasaran, apa lagi saya. He2…

Sekolah Menulis, ide ini datang dari Cak Hadi Setiawan, yang kemarin mandegani acara Pelatihan Jurnalistik oleh Komunitas Benjeng Pribumi pada bulan November 2014. Kegiatan ini menjawab tantangan bahwa menulis itu harus dilatih terus menerus. Teori sebagus apapun yang diterima peserta di Pelatihan Jurnalistik kemarin, tidak akan berguna jika tidak dipraktikkan.

Karenanya, Sekolah Menulis ini adalah bagian tindak lanjut dari pelatihan jurnalistik. Peserta diminta menulis satu artikel, lalu nanti tulisannya akan direview oleh narasumber yang kompeten. Kelebihan dan kekurangan hasil tulisan peserta akan menjadi masukan untuk perbaikan tulisannya.

Bulan ini, Komunitas Benjeng Pribumi, kembali mengadakan kegiatan jurnalistik, yaitu Sekolah Menulis. Waktunya sangat pas di hari libur. Minggu, 14 Desember 2014, pukul 09.00 WIB, bertempat di Balai Desa Kalipadang (Jalan Raya Ploso). Narasumber yang dihadirkan Aan Haryono, wartawan Sindo Surabaya. Pengisi acara ini prestasinya luar biasa, antara lain juara jurnalis muda di event nasional, penulis kumpulan cerpen “Pagupon”, dan aktif sebagai narasumber menulis remaja.

Acara ini terbuka untuk umum, khususnya generasi muda Benjeng. Bagi teman-teman yang senang menulis, atau mau belajar menulis dengan baik, mari ikut acara ini. Biaya GRATIS. Khusus teman-teman yang sudah ikut Pelatihan Jurnalistik kemarin, harus ikutan. Supaya ilmunya bisa langsung dipraktekkan dan lebih bermanfaat.

Syaratnya sangat mudah. Peserta harus menulis tentang tradisi desa dan kisah-kisah kearifan lokal di sekitar kita. Bisa bertema sejarah desa, budaya lokal, bahasa-bahasa unik sehari-hari, makanan tradisional, dan sebagainya. Panjang tulisan minimal 1 halaman A4, sepasi 1½, font ukuran 12. Hasil tulisan kirim ke email sangpemimpi64@gmail.com atau inbox facebook Hadi Setiawan. Mohon dikirim paling lambat 10 Desember 2014, supaya narasumbernya bisa mereview semua tulisan peserta.

Jangan takut tulisanmu jelek, karena tulisan kalian nanti akan dibahas langsung oleh narasumber yang kompeten. Diajari dan dibimbing langsung supaya menjadi tulisan yang lebih baik. Format diskusi langsung, lesehan, lebih nyantai. Ya seperti kita ngopi bareng di warung kopi. Tapi nggak sekadar ngobrol saja, malah kita dapat tambahan ilmu yang bermanfaat. Insya Allah…

Saya, Insya Allah menjadi salah satu pesertanya. Saya berharap tulisan yang akan saya kirim nanti, mendapat masukan dan perbaikan dari narasumber. Dulur, Mari kita belajar bersama di Sekolah Menulis. Untuk menginspirasi dan menumbuhkan kreatifitas pemuda dalam berkarya. Salam Generasi Muda Benjeng…

Mencetak Jurnalis Muda Benjeng

Benjeng, Sabtu pagi, satu persatu anak-anak muda berdatangan. Karang taruna, siswa-siswi SMP dan SMK, mulai memenuhi ruang rapat di balai Desa Dermo Kecamatan Benjeng. Pagi ini komunitas lokal Benjeng Pribumi, mengadakan Pelatihan Jurnalistik untuk umum dan pelajar. Karang taruna, organisasi kepemudaan IPPNU & IPNU dan IPM Kecamatan Benjeng, dan pelajar SMP dan SMK antusias mengikuti acara.k

Acara dimulai secara resmi oleh Kepala Desa Dermo, Bapak Mutain. Beliau menyambut gembira dan senang bisa mendukung acara ini. Pesannya kepada anak-anak muda agar memanfaatkan kesempatan selagi muda dengan kegiatan yang positif. Sehingga bisa dipakai bekal nanti saat sudah dewasa. Belajarlah dari pengalaman yang ada, baik pengalaman orang lain atau pribadi, dan ambil sisi baiknya untuk diambil hikmahnya. Setelah mendapat bekal dan motivasi dari Mbah Ta’in, Lurah Dermo, peserta sudah siap menerima materi dari penyaji.

Lailatul Isnaini, cerpenis muda Gresik. Gadis cantik nan rupawan, masih muda banget. Ya iyalah, kalau sudah tua ya ibu-ibu. Pegiat Lembaga Pers Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Gresik ini, menyapa dengan suaranya yang lembut, membuat semangat peserta pelatihan jurnalistik menyimak dengan serius. Writer’s Block, salah satu materi yang dia bahas. Berbagai tips dan trik menulis bagi penulis muda, agar bisa menulis dengan baik. Peserta cukup antusias, terbukti dengan banyaknya pertanyaan ataupun sharing pendapat dengan Mbak narasumber ini. Di akhir presentasi, 5 orang mendapatkan bonus hadiah buku dari penyaji. Karena tugas yang diberikan narasumber, menulis sebuah plot cerita secara singkat, berhasil memikat hati sang penyaji.

Setelah ishoma, istirahat sholat dan makan, peserta kembali ke ruang pertemuan. Di sana ibu Lilis Setiyorini sudah bersiap memberikan materi berikutnya. Didampingi Linda Wulandari, selaku moderator di sesi ini, Bu Lilis memberikan tugas kecil kepada peserta. Terbagi dalam 4 kelompok kecil, mereka menuliskan kata-kata yang ada hubungannya dengan kata yang diminta penyaji. Setelah itu mereka diminta menuliskan dalam satu paragraf, kata-kata yang sudah ditulis oleh kelompoknya. Beberapa peserta diminta untuk membacakan hasil karya tulisnya. Dalam waktu lima menit yang disediakan, hampir semua peserta bisa membuat tulisan sesuai tema yang ditentukan. Menurut Bu Lilis, sebenarnya peserta bisa menulis dengan baik. Buktinya itu tadi adalah salah satu hasil karya tulis, tinggal dikembangkan lebih baik lagi. Tips dari beliau, yang penting menulis dulu, dan mulai segera.

Pemateri berikutnya adalah Abdul Ghofar, wartawan media online kabargresik com. Teknik wawancara, materi yang diberikan kepada peserta pelatihan jurnalistik. Hal ini sangat penting sebagai seorang jurnalis dalam mendapatkan berita. Dengan memperhatikan prinsip 5 W + 1 H, maka berita yang ditulis bisa memberikan informasi yang lengkap dan tuntas kepada pembaca. Bagi wartawan media online seperti Cak Ghofar, mencari berita dengan teknik wawancara, sangat diperlukan. Karena media online sifat beritanya real time, ketika ada peristiwa secepat mungkin dimuat saat itu juga, tidak seperti koran yang beritanya baru keluar besok pagi.

Narasumber terakhir adalah yang ditunggu-tunggu. Ram Surahman, wartawan senior, wong Benjeng asli. Radar Surabaya yang termasuk dalam Jawa Pos Grup, tempat beliau berkarya saat ini. Walaupun paginya berada di Makasar, namun dengan semangat dan komitmen ingin membagi ilmunya bagi teman-teman muda Benjeng, akhirnya tepat jam 2 siang sudah berada di lokasi pelatihan jurnalistik. Gaya bicaranya yang semangat, membuat kantuk peserta jadi hilang. Banyak tips yang dibagi, antara lain tulisan yang baik adalah satu hela nafas, jangan panjang-panjang. Tulisan yang baik, tidak mengulang kata-kata yang sama dalam satu kalimat. Memberi kalimat yang nyambung antara paragraf sebelum dan sesudahnya agar menjadi satu artikel yang baik, juga diberikan tipsnya

Selain teknik-teknik dalam menulis, Cak Ram juga memberikan motivasi-motivasi melalui cerita pengalaman beliau saat meniti karir di dunia kewartawanan di Surabaya. menurut beliau, menulis yang baik itu harus di latih, apalagi sejak muda seperti peserta pelatihan jurnalistik saat ini. Teruslah menulis, dilatih dan dikembangkan. Karena nanti saat sudah di dunia kerja, jika kita memiliki keahlian dalam menulis, akan membuat kita menjadi sesorang yang lebih dari orang lain. Kita bukan menjadi orang biasa, atau pekerja seperti umumnya, atau pegawai yang biasa saja, tapi kita mempunyai nilai lebih dari yang lainnya.

Diakhir kegiatan, ketua panitia pelatihan jurnalistik, Hadi Setiawan, mengharapkan rencana tindak lanjut kegiatan ini agar tidak berhenti sampai di sini. Dalam forum ini disepakati akan ada pertemuan lanjutan yaitu “sekolah menulis”. Hasil dari pelatihan jurnalistik hari ini, agar disalurkan dan dipraktekkan, yaitu dengan tugas menulis potensi desa yang ada disekitar kita. Mulai dari tradisi, sejarah, budaya, makanan, bahasa-bahasa lokal dan sebagainya. Satu bulan ke depan akan di berikan informasi tentang waktu dan tempat pertemuan, membahas hasil tulisan peserta. Sekolah menulis ini, dikonsep dengan acara yang santai saja, namun akan dihadirkan seorang narasumber yang kompeten untuk memberikan pembinaan dan bimbingan agar menjadi penulis yang handal.

Atas terselenggaranya Pelatihan Jurnalistik oleh Komunitas Benjeng Pribumi, kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya dan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Bapak Kepala Desa Dermo, Mbah Ta’in, beserta segenap warga yang membantu sarana dan prasarana. Matur nuwun sanget kagem seluruh narasumber: Isnaini Laili, Lilis Setiyorini, Abdul Ghofar dan Ram Surahman. Terima Kasih kepada teman-teman peserta: karang taruna, siswa-siswi SMP/SMA/SMK, organisasi kepemudaan di Benjeng yang telah turut berpartisipasi. Dan terakhir konco-konco Benjeng Pribumi: Hadi Setiawan, Zainuri, Kiswarika, Andrik Pamungkas, Linda Wulandari dan teman-teman lainnya yang turut menyukseskan acara ini, nedo nrimo pengeran sing mbales….

SAM_4940

Pelatihan Jurnalistik Benjeng

Panganan opo jurnalistik iku?

Mbuh, eson dhewe yo ga sepiro denger kok?

Dulur, Sabtu ini, 22 November 2014, teman-teman komunitas lokal Benjeng Pribumi akan menggelar Pelatihan Jurnalistik untuk umum dan pelajar. Insya allah bertempat tidak jauh dari ibu kota kecamatan, tepatnya di Desa Dermo. Di salah satu ruang ruang rapat balai Desa Dermo.Selain pelajar SMP dan SMA, panitia mengharapkan anggota atau pengurus Karang Taruna bisa ikut acara ini. Karena hanya dengan anak muda yang baik, terampil dan berprestasi, nantinya bisa memajukan dan mengharumkan Benjeng di masa akan datang.

Janur gunung, kadingaren, kok ada acara umum seperti ini. Biasanya pelatihan jurnalistik paling sering diadakan sekolah-sekolah, untuk siswa-siswi. Biasanya pula, yang ikut acara seperti ini, ujung-ujungnya menjadi pengelola Majalah Dinding, Buletin atau Majalah. Memangnya siapa sih komunitas Benjeng Pribumi? Kok baru dengar, he2…

Panitia pelaksana, komunitas Benjeng Pribumi, dari brosur acara yang bisa dibaca, mereka adalah komunitas pecinta seni dan budaya. Anggotanya anak-anak muda, ada juga yang sudah berumur tapi berjiwa muda. Background pekerjaan bermacam-macam, mulai dari mahasiswa, karyawan swasta, pedagang sayur, wiraswasta sampai PNS turut menjadi pegiat di komunitas lokal ini.

Kegiatan mereka saat ini difokuskan dalam dunia tulis menulis. Berdiri sejak tahun 2012, sudah menghasilkan beberapa buku yang ditulis rame-rame. Babat Alas Benjeng, 2012, buku pertama yang menghimpun cerita rakyat asal-usul dan sejarah desa se-Kecamatan Benjeng. Buku selanjutnya adalah kumpulan cerita pendek, yang ditulis oleh 8 orang penulis muda, bertajuk “Benjeng Always in My Heart”, terbit tahun 2013. Buku terakhir yang diterbitkan yaitu “Sajak Bumi Benjeng”, kumpulan puisi berisi tentang bumi Benjeng dengan segala kelebihan dan keistimewaannya.

Dengan mengusung tema “mari belajar menulis bersama”, pelatihan jurnalistik ini, sedianya akan diisi narasumber yang kompeten di bidangnya. Ram Surahman, wartawan Radar Surabaya, putra Benjeng yang ingin mengamalkan ilmunya buat dulur-dulur Benjeng. Cak Ram, begitu panggilannya, sudah lama ingin membuat acara sejenis khusus bagi arek Benjeng. Namun karena kesibukannya beberapa waktu lalu, beliau tidak sempat. Baginya ini adalah sarana balas budi bagi wong Benjeng, yang secara tidak langsung ikut membuat karirnya sukses di bidang jurnalistik profesional.

A’an Hariyono, wartawan Sindo dan penulis muda, juga akan memberikan pengalaman berharganya buat konco plek kabeh. Mas A’an, sering diajak kerja sama dengan salah satu lembaga pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Gresik untuk mempercantik tulisan majalah biar lebih enak dibaca. Selain itu sebagai penulis muda, karyanya sering mendapat prestasi di tingkat nasional.

Narasumber lainnya, Lailatul Isnaini, beliau adalah seorang cerpenis dan pegiat di lembaga pers di Universitas Muhammadiyah Gresik. Anak muda kreatif ini, patut dicontoh semangatnya. Dengan usia yang masih sangat muda sudah menghasilkan karya yang luar biasa. Menjadi pemicu bagi kita agar bisa meniru prestasinya.

Lilis Setiyorini, menjadi narasumber berikutnya. Pengajar di SMP Negeri 2 Benjeng,  guru matematika. Nah loh, ini pelatihan jurnalistik apa diajak berhitung. Wah jangan salah, beliau ini termasuk salah satu guru berprestasi di Kabupaten Gresik. Dan yang membanggakan, beliau ini asli wong Benjeng. Selain kreatif dalam mengajar, tulisan-tulisannya mendapat apresiasi dari pengajarnya saat beliau mengikuti diklat di Jogja. Dan gara-gara bisa menulis dengan baik, mendokumentasikan cara mengajar kepada anak didiknya, menjadi acuan bagi guru-guru lain meniru cara mengajarnya yang bisa dibaca di blog miliknya.  Disela-sela kesibukan persiapan acara diklat dan seminar ke Jogja esoknya, insya alah beliau menyempatkan hadir memberikan tips dan triknya dalam menulis.

Sepertinya pelatihan jurnalistik Benjeng Pribumi sangat menarik. Saya harus ikut menjadi salah satu peserta. Semoga mendapat pengalaman langsung dari orang-orang luar biasa ini, semakin menumbuhkan semangat dan menambah kemampuan saya dalam menulis yang baik. Apalagi tidak dipungut biaya alias GRATISSS…

Wis rek, ojok atek mikir maneh, rugi nek riko gak melok…

pelatihan jurnalistik benjeng

Tretek (jembatan) mBulang

Hari minggu, satu-satunya hari yang paling aku nantikan, aku dambakan sepanjang pekan kurindukan setiap malam, berharap esok pagi menjadi hari Minggu. Hari libur, bebas dari pelajaran sekolah, tidak ada tugas, ulangan dan ujian. Bebas sebebas-bebasnya, waktunya bersenang-senang. Bagiku, seorang siswa SMP, tiada hal yang paling menyenangkan selain tanggal merah.

Minggu pagi ini, aku sudah janjian ketemu teman. Kemarin waktu ketemu di kelas, kita sudah mengatur waktu dan membuat acara kecil, khusus teman-teman dekat saja. Setelah mempertimbangkan berbagai alternatif usulan maka ditetapkan acaranya khas anak muda, meriah dan tidak banyak biaya, rujakan….! :)

Bulan lalu, acara yang sama sudah di rumah teman di sekitaran Bulurejo. Beberapa waktu lalu juga, geng lima cewek rumpi ini sudah mangkal di salah satu anggotanya di Benjeng utara, Karangploso Klampok. Dan untuk besok disepakati kita ngumpul di rumahnya Sinta, Bulangkulon.

Bulang, anak-anak lebih familiar dengan sebutan itu. Belum pernah ke sana, tapi ancer-ancernya masuk Munggugianti ke selatan. Okelah, gampang, kalaupun nyasar, nanti tanya orang.

Pagi ini mentari bersinar cerah. Mendung tipis bergelayut, berjalan pelan mengikuti arah angin berhembus. Tugas rutin mingguan seorang cewek, umbah-umbah alias cuci baju sudah beres. Jemuran basah sudah berjejer rapi di hanger baju, dicantolkan di sepanjang tali tampar yang diikat kuat antara pohon mangga depan rumah.

Tugas beres, cantikpun sudah. Mandinya sekalian waktu bilas cucian di jublang (kolam) belakang rumah. Wangi segar sabun Giv dan harum sampo Emeron, ditambah semerbak parfum cewek-cewek masi kini, serasa bunga desa yang ada dalam senandung lagu Rhoma Irama.

Asyik, sepeda motornya bapak lagi ngganggur, boleh dipinjam tapi bensinnya nipis. Oke deh pak, aq isi dulu satu liter, pakai uangku. Dan sebelum pamit bapak, aq minta tambahan uang saku, jaga-jaga kalau bensin habis atau ban bocor, kan bensinnya sudah aku beliin. Lha, sami mawon:)

Sebagai cewek baru gede, aq sudah diijinkan berkendara sepeda motor. Tidak butuh waktu lama untuk bisa berkendara dengan baik. Dan kini aku menjadi langganan tukang antar Ibu belanja sayur ke pasar Benjeng, atau kadang-kadang mbonceng Ibu buwuh ke orang hajatan di desa sebelah. Aku senang-senang saja, seperti dapat hobi baru, walaupun sesungguhnya seperti tukang ojek baru… :)

Waktu sudah pukul 9 pagi. Pagi ini aku sudah siap pergi ke Bulang. Setelah pamit Bapak dan Ibu, sepeda motor distater, kutarik gasnya, kendaraan melaju pelan. Melewati jalan desa yang bergelombang, pilih-pilih jalan yang mulus, mengurangi goncangan. Keluar jalan desa, roda sudah menapak jalan aspal yang mulus. Motor kupacu agak kencang, kuoper perseneling ke gigi 3, dan itu bagiku ternyata sudah cukup kencang.

Melewati pasar Benjeng ke arah barat menuju Munggugianti. Jalanan lancar, sesekali mobil melintas, dan kadang-kadang truk mengagetkan dengan bunyi klaksonnya. Hanya di pasar Benjeng saja cukup ramai lalu lalang orang yang menyeberang hingga laju kendaraan sesekali berhenti memberi kesempatan penyeberang jalan melintas.

*****

 

Memasuki wilayah Desa Munggugianti, sepeda motor kupacu pelan, turun dari jalan aspal lalu belok kiri masuk kampung Munggurawuh. Itu jawaban orang tua yang sampat aku tanya, untuk meyakinkan jika aku tidak salah belok.

Iya dik ini Munggu Rawuh, nanti setelah lewat jembatan Kali Lamong sudah masuk desa mBulang…

Waduh nyasar dong saya. Kalau Munggugianti itu sebelah mana pak?

Iya sama saja dik, Munggu Rawuh itu ya Munggugianti, sama saja…

Ooo…, nggih matur nuwun pak….

Ternyata menurut cerita yang aku ketahui beberapa waktu lalu, nama Desa Munggugianti dahulu disebut dengan Munggu Rawuh. Hingga sekarang, orang seumuran mbah-mbah, sering menyebut desa ini dengan Munggu Rawuh.

Sepeda motor kupacu menuju selatan, belok ke kanan lalu ke kiri, kemudian lurus lagi. Perkampungan terakhir yang aku lewati tadi, terdapat telaga di kiri jalan. Selanjutnya hamparan sawah sejauh memandang, di kanan kiri jalan. Jalanan sepi, satu dua kendaraan roda dua yang lewat berlawanan arah kujumpai, lalu kembali sepi…

Dari kejauhan aku lihat jembatan, ah, akhirnya sudah nyampek jembatan, dan sebentar lagi nyampek Bulang. Semakin dekat semakin jelas terlihat jembatan mBulang.

Aku terkesima. Kaget, aku tidak menduga kalau jembatannya sepanjang itu. Apa lagi sungai di bawahnya sangat lebar dan sangat dalam, seperti jurang curam dipegunungan. Jalanan sepi, tidak ada orang yang bisa aku jadikan teman lewat. Aduh, bagaimana ini…

*****

 

Aku berhenti sesaat. Namun aku tidak bisa berpikir panjang. Dengan tekad membaja 45, ditambah sepeda motor ini seperti melaju dengan sendirinya, akhirnya aku mengikuti saja untuk menjaga keseimbangan laju motor. Melewati jembatan kayu balok, meski pelan, goncangan sangat terasa, bunyi glodak-glodak saling bersahutan ketika roda bergantian menggilas kayu, yang sepertinya tidak terpasang dengan kuat.

Sudah separuh jalan, aku tidak berani menengok ke bawah, pandangan lurus ke depan. Dan aku semakin sadar jika jembatan ini sangat panjang, aku menjadi takut. Dan itu memacu adrenalin keberanianku.

Waktu seakan berhenti, lama sekali tidak sampai ke ujung jembatan sisi selatan. Semakin lama bunyi-bunyi kayu itu seakan menerorku untuk mempercepat laju kendaraan. Goncangan sepeda sekuat tenaga aku kendalikan, aku jaga keseimbangan tanpa menyentuh lantai jembatan, aku tidak ingin berhenti ditengah jembatan.

Demi menjaga keseimbangan, seolah aku menahan napas lebih dari batas waktu normal. Dan ketika mencapai kayu terakhir jembatan Mbulang, akhirnya aku bisa bernafas lega. Aku tidak mau menoleh ke belakang, sepeda motor kupacu lebih cepat. Aku takut, tapi aku lega sudah lepas dari situasi itu.

Keberanian tak terduga. Akupun terheran-heran dengan kenekatanku bisa menyeberang jembatan kayu tua ini. Aku seperti kerasukan sesuatu yang membakar semangat juang ‘45. Sungguh jika aku tahu sebelumnya kalau jembatan ini seperti itu, tentu aku akan cari jalan alternatif.

*****

 

Sampai di rumah Sinta di Bulangkulom, aku ceritakan pengalaman pertamaku menyeberang jembatan mBulang, seperti menyeberang jembatan sirotol mustataqim. Teman-teman malah menertawaiku. Bagaimana tidak, lha wong Sinta tiap hari ke sekolah juga lewat situ. Itu belum seberapa, kalau musim hujan jembatan kayu seperti timbul di atas air Kali Lamong dengan arus yang sangat deras…!

Walaupun bagi Sinta dan kebanyakan warga Bulang hal itu biasa, tapi bagiku itu luar biasa. Aku salut bagi teman-teman sekolahku yang tiap hari melalui jembatan mBulang, dan mereka tetap semangat dalam menuntut ilmu. Rumahku yang tidak jauh dari sekolah, jalan lebih dekat tanpa halangan yang berarti, harusnya aku lebih giat belajar.

Rujakan di rumah Sinta berlangsung seru. Dan tentu saja temanya adalah jembatan Mbulang. Dan aku seperti menjadi terdakwa di pengadilan yang diintegorasi teman-temanku, yang ujung-ujungnya diejek dan tertawakan. Namun aku senang-senang saja, bahkan tertawaku lebih kencang dari yang lain… :)

Setelah acara rujakan di rumah Sinta selesai, waktunya pulang. Aku bilang sama teman-teman, aku tidak mau melewati jembatan itu lagi. Harus lewat jalan lain. Walaupun  muter lebih jauh, ndak masalah.

Akhirnya aku lewat selatan Bulangkulon. Melewati Balongmojokulon, ke arah timur Balongomojokrajan. Dan saya baru tahu SMPN 2 Benjeng terletak desa ini. Kemudian ke arah timur, perempatan Glindah ke utara, ke desa  Gluranploso. Walaupun di Kacangan juga lewat jembatan Kali Lamong, namun jembatannya terbuat dari beton. Jadi seperti jalan biasa. Dan teman-teman yang rumahnya ke arah utara terpaksa menemani aku melewati jalan alternatif…. :)

Hari itu pengalaman tak terlupakan dalam hidupku. Pengalaman pertamaku menyeberang jembatan Mbulangkulon. Mengenangnya selalu menyenangkan….

Benjeng E-KTP-an

“Yuk…, riko wis poto E-KTP tah. Eson jange nang kecamatan. Iki maeng wis diabani Wak Bau liwat stiker mesjid, RT centong kene saiki wayahe.”

“Adingonoh…, saiki tah. Walah yuk jange mrontok nang sawah, ambek cacakmu. Embangono engko sore ga kenek tah? Lakare jare Wak Bayan wingi jare sampek tengah wengi.”

“Imbokloh…, bengi-bengi ngono pegawene sik nang kecamatan ta? Yo mbuh engko tak takokne Wak Bayan nang kono.”

Alhamdulillah. Ditengah kerepotan, diantara kesibukan, namun masih menyempatkan hadir, menunaikan urusan E-KTP. Waktunya bersamaan panen padi musim tanam kedua tahun ini, adalah waktu yang memerlukan tenaga dan perhatian lebih. Merontok padi dari tangkainya, mengusung karungan gabah dari sawah ke rumah, dan segera menjemur gabah yang belum kering betul. Meski lelah, payah, tapi terbayar gabah yang melimpah, siap ditukar rupiah…. :)

Perangkat desa yang dari kemarin hari sudah memberikan undangan E-KTP, pagi ini woro-woro warga sekampung untuk segera datang dikantor kecamatan, foto E-KTP…! Rombongan warga, yang sudah menyiapkan diri, siap berangkat. Bagi yang masih repot, sudah menyisihkan waktu siang ketika luang , atau nanti malam selepas kesibukan, sekalian begadang ndak masalah.

Seumur-umur, baru sekarang datang ke kantornya Pak Camat, itupun ndak ketemu orangnya. E-KTP, meski ndak tahu untuk apa, pasrah saja waktu di foto, jari discan, tanda tangan dan mata dikeker. Yang penting E-KTP ndak ditarik biaya, alias gratis… Dan yang lebih penting, katanya, bisa untuk ngurus utang-utangan…! ^_^

Minimarket Benjeng

Ndak tahu kenapa, di Benjeng, dulu belum ada mini market seperti Alfamart atau Indomaret. Padahal di Balongpanggang yang sama-sama kecamatan ndeso, sudah ada. Apalagi di wilayah Cerme, jumlahnya sudah hampir satu pasang jari tangan.

Sekarang, mulai pertengahan 2011, sudah berdiri mini market dengan jaringan terbanyak di Indonesia, Alfamart, di Jalan Raya Munggugianti. Dan baru saja akhir Januari 2012, sudah dibuka minimarket Indomaret di Jalan Raya Benjeng, depan Kantor Polsek Benjeng.

Dengan berdirinya minimarket di Benjeng, semoga menjadi pendorong pertumbuhan bisnis-bisnis baru, khususnya di lokasi sekitar minimarket. Biasanya pedagang makanan, mulai mangkal di sekitar situ.

Wah, artinya sekarang Benjeng sudah mulai ndak ndeso-ndeso amat dong? Bisa jadi begitu. Paling nggak kalo saya di gojlok, sudah bisa jawab kalau di Benjeng minimal sudah ada minimarket terkenal seperti di kota-kota.

Keri Cak…

Jaman dahulu kala, tersebutlah sepasang pengantin baru yang dilanda asmara. Di sebuah desa kecil yang damai, dikelilingi hutan yang masih belum banyak dijamah manusia. Hanya suara-suara burung dan binatang hutan, menambah syahdunya dua anak muda yang sedang bercengkrama di bawah pohon bambu yang rindang.

Dua anak muda yang sedang dimabuk cinta, tidak menghiraukan keluarga yang lalu lalang sibuk dengan pekerjaan rumah tangga. Bagi pengantin baru, hari ini ibarat bulan madu, seperti cuti sebentar dari penat pekerjaan sawah ladang, atau menggembala ternak. Hari ini canda tawa, kasih mesra tiada bosan.

Terdengarlah tawa-tiwi, dan suara lirih namun tapi cukup jelas. Diantara suara burung dan hembusan angin sepoi, berkata sang gadis dengan mesra, “keri Cak…” Kata dalam bahasa jawa “keri Cak” berarti “geli abang”. Tidak jelas apa yang mereka lakukan, tapi bisa dibayangkan biasanya kalau urusan geli, besar kemungkinan karena ketiak dan telapak kaki. Mungkin mereka bermain siapa yang paling kuat tahan geli, ketika ketiak atau telapak kaki saling digelitik.

Gabungan dua kata, etimologi, “keri dan cak”, lambat laun menjadi Kricak. Akhirnya kondanglah desa kecil ini dengan sebutan Kricak. Dusun Kricak sendiri termasuk dalam pememrintahan Desa Karangankidul Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik. Sedangkan asal-usul sejarah nama Kricak dengan versi pengantin baru, adalah salah satu cerita rakyat yang berkembang di desa ini.

Versi lain dari asal-usul nama Kricak, adalah gabungan dari dua kata “keri nang incak”. Artinya “geli di telapak kaki”. Anda tahu sendiri jaman dahulu belum ada sandal, apalagi sepatu kets dan fantovel. Karena sering “nyeker” ndak pakai alas kaki, telapak kaki mereka tebal, sampai “kapalen”.

Desa ini banyak tanaman berduri, seperti bambu, klampis, dan lom. Dan jika rantingnya yang banyak duri tadi mengering dan patah, jatuh ke tanah, maka berserakanlah duri di mana-mana. Selain itu Mungkin juga dulu banyak batu kerikil kecil yang lancip.

Nah, bagi orang jaman dahulu, yang sudah biasa keluar masuk hutan, dengan kaki nyeker tanpa alas kaki, hingga telapak kaki tebal kapalen, maka ketika berjalan di atas tanah yang banyak durinya, tidak ada rasa sakit. Waktu berjalan, di telapak yang ada hanya rasa geli. Mungkin juga karena ilmu kanuragan orang jaman dahulu sangat hebat, sehingga duri tajam bagi mereka hanya Kricak, “keri nang incak…”

Anda punya versi lain cerita ini, silakan menambahkan, terima kasih, nedo nrimo…



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.