Buku Benjeng Tempo Dulu

Buku Benjeng Tempo Dulu

ARANE DUSUN DADI JENENG KECAMATAN

Mungkin karena bunyinya aneh dan unik, atau sebab lafalnya yang singkat dan mantap, Ben Jeng! Menjadikan nama Kecamatan di Gresik selatan ini mudah diingat, gampang diucap. Ada bermacam versi asal-usul Benjeng, versi yang populer Benjeng berasal dari kata mbenjeng, dalam bahasa Jawa berarti besok. Kepala Desa Bulurejo Imam Shofwan menceritakan konon jaman dahulu suatu saat mengalami musim paceklik, kemarau yang berkepanjangan menyebabkan persediaan bahan makanan menipis, hasil panen sebelumnya tidak mencukupi hingga musim panen berikutnya.

Demi menyambung hidup, warga desa yang mayoritas petani berhutang kepada tetangga desa yang berkecukupan. Saling menolong, gotong royong menjadi tradisi budaya yang kental pada masa itu, setelah memperoleh bahan makanan yang cukup, merekapun berjanji akan segera bayar utang jika sudah panen.

Waktu berlalu, hari berganti. Tiba waktu yang telah disepakati. Panen raya melimpah, warga desa berkecukupan pangan. Hingga beberapa waktu kemudian, warga desa tetangga datang menagih janji, namun dengan berbagai alasan mereka menunda kewajiban. Setiap ditagih, jawabannya “mbenjeng mawon“. Konon karena kata-kata tersebut akhirnya desa ini dikenal dengan nama Benjeng, pengucapannya mirip kata mbenjeng yang berarti besok.

Versi lain menyebutkan …..

Selengkapnya Anda bisa baca buku “Bendjeng Tempo Doeloe.” Yang digagas Komunitas Benjeng Pribumi. Penulis Supai dan kawan-kawan. Selamat membaca.

Foto dari: Kantor Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Gresik.

Banjir Benjeng dan Kopi Plus Gorengan

Banjir Benjeng sumbernya dari luapan Kali Lamong. Sungai ini hilirnya berada di wilayah Jombang, Lamongan, melewati wilayah Mojokerto, Balongpanggang, Benjeng hingga bermuara di teluk Lamong Gresik.

Kali Lamong melintasi 8 desa di wilayah Kecamatan Benjeng bagian selatan. Mulai dari Lundo, Sedapurklagen, Deliksumber, Munggugianti, Bulangkulon, Bengkelolor, Bulurejo dan Gluranploso.

Banjir Benjeng bisa dikatakan “banjir kiriman.” Meskipun di wilayah Benjeng tidak ada hujan, tapi jika di hilirnya hujan deras dengan durasi lama, maka wilayah Benjeng terkena dampak yang parah. Dari 23 desa, rata-rata separuhnya terdampak banjir. Banjir paling besar hanya menyisakan 5 desa Kecamatan sebelah utara yang bebas banjir.

Datangnya banjir dimulai dari Desa Sedapurklagen. Mengalir ke timur dan utara menggenangi Dusun Lumpang Sedapurklagen, Desa Deliksumber, Desa Kedungrukem, Desa Munggugianti, Kantor Kecamatan dan Muspika hingga Pasar Benjeng. Selain itu desa yang berada di aliran Kali Lamong sudah pasti terkena banjir juga. Yaitu Desa Lundo, Desa Bulangkulon, Desa Bengkelolor dan Desa Gluranploso.

Banjir pagi hari di Sedapurklagen sampai ke wilayah Kecamatan Benjeng pada sore hari, kira2 kurang lebih butuh waktu 6 jam, dengan catatan air datangnya konstan/konsisten. Jika hanya beberapa jam saja air di Kali Lamong surut, banjir biasanya sampai di Desa Deliksumber dan atau Kedungrukem.

Semua desa di atas yang terkena banjir berada sebelah selatan jalan raya/kabupaten. Jika banjir semakin besar, banjir meluap ke utara. desa2 di sebelah utara jalan raya/kabupaten akan terdampak. Air “menyeberang” di beberapa titik: Ngablak Kedungrukem, PLN Munggugianti, Lapangan Benjeng, Perempatan Pasar Benjeng. Wilayah utara yang terkena banjir Desa Kalipadang Gesing, Desa Sirnoboyo Perumahan Batara, Desa Bulurejo Benjeng Nyanyat, Desa Dermo, Desa Klampok, Desa Kedungsekar, Desa Karangankidul, Desa Munggugebang.

Dampak banjir akses jalan desa dan jalan kabupaten lumpuh. Sawah tergenang, bisa berakibat gagal panen. Rumah, jalan lingkungan, sekolah, gedung pemerintahan dan sarana prasarana umum lainnya terendam, aktifitas masyarakat terganggu.

Dan ketika banjir mulai datang semua orang bisa pulang lebih cepat menghindari banjir, maka staf dan pegawai Kecamatan Benjeng justru harus bertahan dan menunggu banjir sampai surut. Standby siaga, membuka posko bencana banjir. Koordinasi dan berbagi informasi. Membuat laporan banjir untuk Bapak Bupati dan instansi lain yang terkait, juga media yang meliput saat peristiwa banjir tahunan.

Inilah loyalitas, pengabdian dan dedikasi kami. Namun begitu di tengah kerelaan kami saat bertugas siaga bencana banjir, entah datang darimana selalu saja ada di meja kami, kopi hangat dan gorengan… 😀😀😀

I Love Benjeng

Aku pancene sueneng poll ambek Benjeng. Tanah kelahiranku. Masio ndeso, nggone adoh, tapi aku tetep tresno.

Biyen duwe cita-cita, mari sekolah nyambut gawe sing adoh, lungo nang Jakarta opo Suroboyo. Tapi njekthek yo mbalik nang ndeso. Ngrewangi emak nang sawah. Ngramut pitik ambek rojokoyo.

Sekolah yo tau nang kutho, bareng nyambut gawe yo gak adoh. Opo maneh rabi oleh tonggo deso, gumbul moro tuwo. Yo cek epo maneh takdire menungso. Tak syukuri ae, gak atek ngersulo. Sik akeh wong sing uripe soroh. Mugo-mugo uripku mene sansoyo mulyo.

Benjeng ket biyen mulo dadi papan panggonanku. Urip,  mangan, sembarang dingah yo nang tlatah Benjeng. Aku yo rumongso duwe utang budi kanggo desoku. Mulo saiki aku yo kepingin ngangkat apike jeneng desoku. Gak nggawe cidro ambek ngisin-ngisini tonggo teparo, bapak ibu ambek mbah buyutku sing babat alas desoku.

Wis ngene ae, angen-angenku. Tak sambi ambek dhadhak, mbubuti suket nang sawah mburi. Mugo-mugo konco, dulur, kuabeh tetep krasan nang Benjeng, sing lungo adoh pancet kangen Benjeng, sing pendatang ayo podho mbangun Benjeng dadi kecamatan sing rejo…

Benjeng Gresik, 21 November 2016

Doa & Perjuangan Ibu di Bobor Yuyu

Banyak kisah sukses yang bermula dari doa ibu. Nah, kalau yang ini bukan hanya doa, tapi juga kerja keras seorang Ibu bagi putranya tercinta.

Pada akhir bulan April lalu, ada lomba menulis kuliner khas Gresik yang digelar koran Radar Gresik. Saya baru tahu 9 hari menjelang deadline. Saya antusias mengikuti lomba menulis tersebut. Dan yang pertama terbayang adalah masakan Emak saat masa kecil dahulu, Bobor Yuyu.

Seperti anak desa pada umumnya, saya dibesarkan dengan segala kesederhanaan dan keterbatasan sejak kecil. Tidak seperti sekarang, makanan instan dan siap saji banyak dijual dan bisa dibeli. Saat masa kecil, hampir semua masakan sehari-hari, baik sayur dan lauknya memanfaatkan hasil bumi dari sawah. Salah satunya makanan tradisional dari binatang sawah, yuyu alias kepiting sawah. Bobor yuyu makanan yang sudah akrab saat usia saya SD. Aroma dan rasanya memang khas. Saya masih bisa mengenang aromanya meski sudah lama sekali tidak makan bobor yuyu. Menginjak bangku SMA di Surabaya saya sudah jarang makan bobor yuyu.

Lomba penulisan ini tidak menitikberatkan pada resep masakan, tapi deskripsi dan sejarah kuliner khas Gresik. Agar lebih afdol, cara masak bobor yuyu paling tidak saya harus tahu. Di sinilah peran penting seorang narasumber, yaitu Emak saya sendiri, sebagai pembuat bobor yuyu! He2….. Untungnya pula beberapa teman kerja ternyata banyak yang suka masakan ini, merekapun punya resep masakan bobor yuyu.

Dalam hal menulis yang bagus, saya sangat diuntungkan karena pernah terlibat dalam pembuatan buku Sang Gresik Bercerita oleh Komunitas Mataseger. Dengan praktek langsung menulis yang baik yang dibimbing Bapak Henri Nurcahyo, dan tips membuat tulisan yang enak dibaca oleh Bapak Dukut Imam Widodo, saya banyak diberi wawasan yang sangat berguna. Kemampuan menulis saya juga dilatih di komunitas Benjeng Pribumi yang sedang rajin membuat pelatihan jurnalistik. Akhirnya penulisan artikel kuliner bobor yuyu khas ndeso ini selesai. Butuh beberapa hari dengan banyak editan, maklum penulis pemula.

Lomba ini juga mensyaratkan foto kuliner yang ditulis. Ini adalah tahap yang sulit. Kalau saja ada warung atau depot bobor yuyu, tentu lebih mudah. Sayangnya masakan langka ini di wilayah Benjeng dan sekitarnya tidak dijual bebas. Yang memasakpun sudah jarang. Untungnya masih ada Emak, yang bisa diminta tolong membuatkan bobor yuyu. Saya katakan juga jika ini untuk persyaratan lomba menulis kuliner. Beliau tentu bersedia tapi tidak berjanji, karena sekarang menjelang kemarau, hujan sudah jarang turun. Sehingga yuyu sudah mulai jarang terlihat di sawah.

Walau dengan susah payah akhirnya beliau berhasil mendapat yuyu 10 ekor, tidak banyak tapi cukup. Emak menceritakan, sebenarnya beliau juga sungkan jika ketemu orang-orang di sawah jika ketahuan mencari yuyu. Maka beliau mencari waktuyang tepat, yakni di waktu siang tengah hari, saat semua petani sudah pulang ke rumah beristirahat. Emak sungkan jika nanti ada perkataan walaupun candaan (gojlogan), “wong di zaman sekarang kok masih mencari yuyu seperti zaman susah dulu.” Mendengar itu sayapun spontan berkata, “besok kalau menang hadiahnya untuk Emak.” Dan Emakpun mengamini. Padahal saya juga tidak yakin kalau bisa menang.

Masakan bobor yuyu karya Emak akhirnya sudah jadi. Masalah lain muncul, kamera yang bagus tidak ada. Kamera HP saya gambarnya jelek, untungnya ada pinjaman HP adik yang hasil fotonya lumayan. Untuk mendapat pencahayaan yang cukup, hidangan bobor yuyu saya bawa ke luar ruangan di samping rumah. Masakan nuansa tempo dulu akan lebih terlihat jika disandingkan dengan properti zaman dulu. Lalu muncul ide tikar pandan dan kendi. Untungnya Mbok Dhe Nap, kerabat yang rumahnya persis di sebelah, masih punya itu semua. Hasil jeprat-jepret akhirnya terpilih foto yang terbaik, lalu dikirimkan ke panitia via email.

Sebulan berlalu, akhirnya saya mendapat telepon dari Radar Gresik, untuk hadir dalam acara pengumuman pemenang lomba penulisan kuliner Gresik di WEP, 4/06/2015. Perkiraan saya, masuk 10 besar sudah bagus, syukur kalau mendapat hadiah, kalaupun tidak juga sudah senang karena masuk nominasi. Tapi alhamdulillah ternyata nama saya disebut meraih juara III kategori umum Penulisan Kuliner Khas Gresik. Judul tulisan: Aneka Kearifan Lokal Olahan Yuyu Sawah.

Selain tropi dan piagam, sebuah amplop besar saya terima. Saya sungguh penasaran isinya, tapi istri saya buru-buru mengingatkan, “yang itu untuk emak lho.” Sesuai nazar, saya memang akan memberikan hadiahnya untuk Emak, hal itu saya ungkapkan kepada istri. Keesokan harinya, Emak menerima dengan suka cita, katanya untuk tambahan biaya menggarap sawah.

Barokahe Emak nggawekno bobor yuyu. Nedo nrimo Mak, pengeran sing mbales…

Belajar Bersama di Sekolah Menulis

Apa sih sekolah menulis itu? Walah, sampeyan penasaran, apa lagi saya. He2…

Sekolah Menulis, ide ini datang dari Cak Hadi Setiawan, yang kemarin mandegani acara Pelatihan Jurnalistik oleh Komunitas Benjeng Pribumi pada bulan November 2014. Kegiatan ini menjawab tantangan bahwa menulis itu harus dilatih terus menerus. Teori sebagus apapun yang diterima peserta di Pelatihan Jurnalistik kemarin, tidak akan berguna jika tidak dipraktikkan.

Karenanya, Sekolah Menulis ini adalah bagian tindak lanjut dari pelatihan jurnalistik. Peserta diminta menulis satu artikel, lalu nanti tulisannya akan direview oleh narasumber yang kompeten. Kelebihan dan kekurangan hasil tulisan peserta akan menjadi masukan untuk perbaikan tulisannya.

Bulan ini, Komunitas Benjeng Pribumi, kembali mengadakan kegiatan jurnalistik, yaitu Sekolah Menulis. Waktunya sangat pas di hari libur. Minggu, 14 Desember 2014, pukul 09.00 WIB, bertempat di Balai Desa Kalipadang (Jalan Raya Ploso). Narasumber yang dihadirkan Aan Haryono, wartawan Sindo Surabaya. Pengisi acara ini prestasinya luar biasa, antara lain juara jurnalis muda di event nasional, penulis kumpulan cerpen “Pagupon”, dan aktif sebagai narasumber menulis remaja.

Acara ini terbuka untuk umum, khususnya generasi muda Benjeng. Bagi teman-teman yang senang menulis, atau mau belajar menulis dengan baik, mari ikut acara ini. Biaya GRATIS. Khusus teman-teman yang sudah ikut Pelatihan Jurnalistik kemarin, harus ikutan. Supaya ilmunya bisa langsung dipraktekkan dan lebih bermanfaat.

Syaratnya sangat mudah. Peserta harus menulis tentang tradisi desa dan kisah-kisah kearifan lokal di sekitar kita. Bisa bertema sejarah desa, budaya lokal, bahasa-bahasa unik sehari-hari, makanan tradisional, dan sebagainya. Panjang tulisan minimal 1 halaman A4, sepasi 1½, font ukuran 12. Hasil tulisan kirim ke email sangpemimpi64@gmail.com atau inbox facebook Hadi Setiawan. Mohon dikirim paling lambat 10 Desember 2014, supaya narasumbernya bisa mereview semua tulisan peserta.

Jangan takut tulisanmu jelek, karena tulisan kalian nanti akan dibahas langsung oleh narasumber yang kompeten. Diajari dan dibimbing langsung supaya menjadi tulisan yang lebih baik. Format diskusi langsung, lesehan, lebih nyantai. Ya seperti kita ngopi bareng di warung kopi. Tapi nggak sekadar ngobrol saja, malah kita dapat tambahan ilmu yang bermanfaat. Insya Allah…

Saya, Insya Allah menjadi salah satu pesertanya. Saya berharap tulisan yang akan saya kirim nanti, mendapat masukan dan perbaikan dari narasumber. Dulur, Mari kita belajar bersama di Sekolah Menulis. Untuk menginspirasi dan menumbuhkan kreatifitas pemuda dalam berkarya. Salam Generasi Muda Benjeng…


Menjadi satu bagian kecil yang bangun kota ini… Walau tulisannya mungkin jauh dari kesan Gresik (sorry…)

Blog Stats

  • 223.143 hits