Doa & Perjuangan Ibu di Bobor Yuyu

Banyak kisah sukses yang bermula dari doa ibu. Nah, kalau yang ini bukan hanya doa, tapi juga kerja keras seorang Ibu bagi putranya tercinta.

Pada akhir bulan April lalu, ada lomba menulis kuliner khas Gresik yang digelar koran Radar Gresik. Saya baru tahu 9 hari menjelang deadline. Saya antusias mengikuti lomba menulis tersebut. Dan yang pertama terbayang adalah masakan Emak saat masa kecil dahulu, Bobor Yuyu.

Seperti anak desa pada umumnya, saya dibesarkan dengan segala kesederhanaan dan keterbatasan sejak kecil. Tidak seperti sekarang, makanan instan dan siap saji banyak dijual dan bisa dibeli. Saat masa kecil, hampir semua masakan sehari-hari, baik sayur dan lauknya memanfaatkan hasil bumi dari sawah. Salah satunya makanan tradisional dari binatang sawah, yuyu alias kepiting sawah. Bobor yuyu makanan yang sudah akrab saat usia saya SD. Aroma dan rasanya memang khas. Saya masih bisa mengenang aromanya meski sudah lama sekali tidak makan bobor yuyu. Menginjak bangku SMA di Surabaya saya sudah jarang makan bobor yuyu.

Lomba penulisan ini tidak menitikberatkan pada resep masakan, tapi deskripsi dan sejarah kuliner khas Gresik. Agar lebih afdol, cara masak bobor yuyu paling tidak saya harus tahu. Di sinilah peran penting seorang narasumber, yaitu Emak saya sendiri, sebagai pembuat bobor yuyu! He2….. Untungnya pula beberapa teman kerja ternyata banyak yang suka masakan ini, merekapun punya resep masakan bobor yuyu.

Dalam hal menulis yang bagus, saya sangat diuntungkan karena pernah terlibat dalam pembuatan buku Sang Gresik Bercerita oleh Komunitas Mataseger. Dengan praktek langsung menulis yang baik yang dibimbing Bapak Henri Nurcahyo, dan tips membuat tulisan yang enak dibaca oleh Bapak Dukut Imam Widodo, saya banyak diberi wawasan yang sangat berguna. Kemampuan menulis saya juga dilatih di komunitas Benjeng Pribumi yang sedang rajin membuat pelatihan jurnalistik. Akhirnya penulisan artikel kuliner bobor yuyu khas ndeso ini selesai. Butuh beberapa hari dengan banyak editan, maklum penulis pemula.

Lomba ini juga mensyaratkan foto kuliner yang ditulis. Ini adalah tahap yang sulit. Kalau saja ada warung atau depot bobor yuyu, tentu lebih mudah. Sayangnya masakan langka ini di wilayah Benjeng dan sekitarnya tidak dijual bebas. Yang memasakpun sudah jarang. Untungnya masih ada Emak, yang bisa diminta tolong membuatkan bobor yuyu. Saya katakan juga jika ini untuk persyaratan lomba menulis kuliner. Beliau tentu bersedia tapi tidak berjanji, karena sekarang menjelang kemarau, hujan sudah jarang turun. Sehingga yuyu sudah mulai jarang terlihat di sawah.

Walau dengan susah payah akhirnya beliau berhasil mendapat yuyu 10 ekor, tidak banyak tapi cukup. Emak menceritakan, sebenarnya beliau juga sungkan jika ketemu orang-orang di sawah jika ketahuan mencari yuyu. Maka beliau mencari waktuyang tepat, yakni di waktu siang tengah hari, saat semua petani sudah pulang ke rumah beristirahat. Emak sungkan jika nanti ada perkataan walaupun candaan (gojlogan), “wong di zaman sekarang kok masih mencari yuyu seperti zaman susah dulu.” Mendengar itu sayapun spontan berkata, “besok kalau menang hadiahnya untuk Emak.” Dan Emakpun mengamini. Padahal saya juga tidak yakin kalau bisa menang.

Masakan bobor yuyu karya Emak akhirnya sudah jadi. Masalah lain muncul, kamera yang bagus tidak ada. Kamera HP saya gambarnya jelek, untungnya ada pinjaman HP adik yang hasil fotonya lumayan. Untuk mendapat pencahayaan yang cukup, hidangan bobor yuyu saya bawa ke luar ruangan di samping rumah. Masakan nuansa tempo dulu akan lebih terlihat jika disandingkan dengan properti zaman dulu. Lalu muncul ide tikar pandan dan kendi. Untungnya Mbok Dhe Nap, kerabat yang rumahnya persis di sebelah, masih punya itu semua. Hasil jeprat-jepret akhirnya terpilih foto yang terbaik, lalu dikirimkan ke panitia via email.

Sebulan berlalu, akhirnya saya mendapat telepon dari Radar Gresik, untuk hadir dalam acara pengumuman pemenang lomba penulisan kuliner Gresik di WEP, 4/06/2015. Perkiraan saya, masuk 10 besar sudah bagus, syukur kalau mendapat hadiah, kalaupun tidak juga sudah senang karena masuk nominasi. Tapi alhamdulillah ternyata nama saya disebut meraih juara III kategori umum Penulisan Kuliner Khas Gresik. Judul tulisan: Aneka Kearifan Lokal Olahan Yuyu Sawah.

Selain tropi dan piagam, sebuah amplop besar saya terima. Saya sungguh penasaran isinya, tapi istri saya buru-buru mengingatkan, “yang itu untuk emak lho.” Sesuai nazar, saya memang akan memberikan hadiahnya untuk Emak, hal itu saya ungkapkan kepada istri. Keesokan harinya, Emak menerima dengan suka cita, katanya untuk tambahan biaya menggarap sawah.

Barokahe Emak nggawekno bobor yuyu. Nedo nrimo Mak, pengeran sing mbales…

1 Response to “Doa & Perjuangan Ibu di Bobor Yuyu”


  1. 1 dukunesse Januari 29, 2016 pukul 3:19 pm

    selamat ….!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: