Tretek (jembatan) mBulang

Hari minggu, satu-satunya hari yang paling aku nantikan, aku dambakan sepanjang pekan kurindukan setiap malam, berharap esok pagi menjadi hari Minggu. Hari libur, bebas dari pelajaran sekolah, tidak ada tugas, ulangan dan ujian. Bebas sebebas-bebasnya, waktunya bersenang-senang. Bagiku, seorang siswa SMP, tiada hal yang paling menyenangkan selain tanggal merah.

Minggu pagi ini, aku sudah janjian ketemu teman. Kemarin waktu ketemu di kelas, kita sudah mengatur waktu dan membuat acara kecil, khusus teman-teman dekat saja. Setelah mempertimbangkan berbagai alternatif usulan maka ditetapkan acaranya khas anak muda, meriah dan tidak banyak biaya, rujakan….!🙂

Bulan lalu, acara yang sama sudah di rumah teman di sekitaran Bulurejo. Beberapa waktu lalu juga, geng lima cewek rumpi ini sudah mangkal di salah satu anggotanya di Benjeng utara, Karangploso Klampok. Dan untuk besok disepakati kita ngumpul di rumahnya Sinta, Bulangkulon.

Bulang, anak-anak lebih familiar dengan sebutan itu. Belum pernah ke sana, tapi ancer-ancernya masuk Munggugianti ke selatan. Okelah, gampang, kalaupun nyasar, nanti tanya orang.

Pagi ini mentari bersinar cerah. Mendung tipis bergelayut, berjalan pelan mengikuti arah angin berhembus. Tugas rutin mingguan seorang cewek, umbah-umbah alias cuci baju sudah beres. Jemuran basah sudah berjejer rapi di hanger baju, dicantolkan di sepanjang tali tampar yang diikat kuat antara pohon mangga depan rumah.

Tugas beres, cantikpun sudah. Mandinya sekalian waktu bilas cucian di jublang (kolam) belakang rumah. Wangi segar sabun Giv dan harum sampo Emeron, ditambah semerbak parfum cewek-cewek masi kini, serasa bunga desa yang ada dalam senandung lagu Rhoma Irama.

Asyik, sepeda motornya bapak lagi ngganggur, boleh dipinjam tapi bensinnya nipis. Oke deh pak, aq isi dulu satu liter, pakai uangku. Dan sebelum pamit bapak, aq minta tambahan uang saku, jaga-jaga kalau bensin habis atau ban bocor, kan bensinnya sudah aku beliin. Lha, sami mawon…🙂

Sebagai cewek baru gede, aq sudah diijinkan berkendara sepeda motor. Tidak butuh waktu lama untuk bisa berkendara dengan baik. Dan kini aku menjadi langganan tukang antar Ibu belanja sayur ke pasar Benjeng, atau kadang-kadang mbonceng Ibu buwuh ke orang hajatan di desa sebelah. Aku senang-senang saja, seperti dapat hobi baru, walaupun sesungguhnya seperti tukang ojek baru…🙂

Waktu sudah pukul 9 pagi. Pagi ini aku sudah siap pergi ke Bulang. Setelah pamit Bapak dan Ibu, sepeda motor distater, kutarik gasnya, kendaraan melaju pelan. Melewati jalan desa yang bergelombang, pilih-pilih jalan yang mulus, mengurangi goncangan. Keluar jalan desa, roda sudah menapak jalan aspal yang mulus. Motor kupacu agak kencang, kuoper perseneling ke gigi 3, dan itu bagiku ternyata sudah cukup kencang.

Melewati pasar Benjeng ke arah barat menuju Munggugianti. Jalanan lancar, sesekali mobil melintas, dan kadang-kadang truk mengagetkan dengan bunyi klaksonnya. Hanya di pasar Benjeng saja cukup ramai lalu lalang orang yang menyeberang hingga laju kendaraan sesekali berhenti memberi kesempatan penyeberang jalan melintas.

*****

 

Memasuki wilayah Desa Munggugianti, sepeda motor kupacu pelan, turun dari jalan aspal lalu belok kiri masuk kampung Munggurawuh. Itu jawaban orang tua yang sampat aku tanya, untuk meyakinkan jika aku tidak salah belok.

Iya dik ini Munggu Rawuh, nanti setelah lewat jembatan Kali Lamong sudah masuk desa mBulang…

Waduh nyasar dong saya. Kalau Munggugianti itu sebelah mana pak?

Iya sama saja dik, Munggu Rawuh itu ya Munggugianti, sama saja…

Ooo…, nggih matur nuwun pak….

Ternyata menurut cerita yang aku ketahui beberapa waktu lalu, nama Desa Munggugianti dahulu disebut dengan Munggu Rawuh. Hingga sekarang, orang seumuran mbah-mbah, sering menyebut desa ini dengan Munggu Rawuh.

Sepeda motor kupacu menuju selatan, belok ke kanan lalu ke kiri, kemudian lurus lagi. Perkampungan terakhir yang aku lewati tadi, terdapat telaga di kiri jalan. Selanjutnya hamparan sawah sejauh memandang, di kanan kiri jalan. Jalanan sepi, satu dua kendaraan roda dua yang lewat berlawanan arah kujumpai, lalu kembali sepi…

Dari kejauhan aku lihat jembatan, ah, akhirnya sudah nyampek jembatan, dan sebentar lagi nyampek Bulang. Semakin dekat semakin jelas terlihat jembatan mBulang.

Aku terkesima. Kaget, aku tidak menduga kalau jembatannya sepanjang itu. Apa lagi sungai di bawahnya sangat lebar dan sangat dalam, seperti jurang curam dipegunungan. Jalanan sepi, tidak ada orang yang bisa aku jadikan teman lewat. Aduh, bagaimana ini…

*****

 

Aku berhenti sesaat. Namun aku tidak bisa berpikir panjang. Dengan tekad membaja 45, ditambah sepeda motor ini seperti melaju dengan sendirinya, akhirnya aku mengikuti saja untuk menjaga keseimbangan laju motor. Melewati jembatan kayu balok, meski pelan, goncangan sangat terasa, bunyi glodak-glodak saling bersahutan ketika roda bergantian menggilas kayu, yang sepertinya tidak terpasang dengan kuat.

Sudah separuh jalan, aku tidak berani menengok ke bawah, pandangan lurus ke depan. Dan aku semakin sadar jika jembatan ini sangat panjang, aku menjadi takut. Dan itu memacu adrenalin keberanianku.

Waktu seakan berhenti, lama sekali tidak sampai ke ujung jembatan sisi selatan. Semakin lama bunyi-bunyi kayu itu seakan menerorku untuk mempercepat laju kendaraan. Goncangan sepeda sekuat tenaga aku kendalikan, aku jaga keseimbangan tanpa menyentuh lantai jembatan, aku tidak ingin berhenti ditengah jembatan.

Demi menjaga keseimbangan, seolah aku menahan napas lebih dari batas waktu normal. Dan ketika mencapai kayu terakhir jembatan Mbulang, akhirnya aku bisa bernafas lega. Aku tidak mau menoleh ke belakang, sepeda motor kupacu lebih cepat. Aku takut, tapi aku lega sudah lepas dari situasi itu.

Keberanian tak terduga. Akupun terheran-heran dengan kenekatanku bisa menyeberang jembatan kayu tua ini. Aku seperti kerasukan sesuatu yang membakar semangat juang ‘45. Sungguh jika aku tahu sebelumnya kalau jembatan ini seperti itu, tentu aku akan cari jalan alternatif.

*****

 

Sampai di rumah Sinta di Bulangkulom, aku ceritakan pengalaman pertamaku menyeberang jembatan mBulang, seperti menyeberang jembatan sirotol mustataqim. Teman-teman malah menertawaiku. Bagaimana tidak, lha wong Sinta tiap hari ke sekolah juga lewat situ. Itu belum seberapa, kalau musim hujan jembatan kayu seperti timbul di atas air Kali Lamong dengan arus yang sangat deras…!

Walaupun bagi Sinta dan kebanyakan warga Bulang hal itu biasa, tapi bagiku itu luar biasa. Aku salut bagi teman-teman sekolahku yang tiap hari melalui jembatan mBulang, dan mereka tetap semangat dalam menuntut ilmu. Rumahku yang tidak jauh dari sekolah, jalan lebih dekat tanpa halangan yang berarti, harusnya aku lebih giat belajar.

Rujakan di rumah Sinta berlangsung seru. Dan tentu saja temanya adalah jembatan Mbulang. Dan aku seperti menjadi terdakwa di pengadilan yang diintegorasi teman-temanku, yang ujung-ujungnya diejek dan tertawakan. Namun aku senang-senang saja, bahkan tertawaku lebih kencang dari yang lain…🙂

Setelah acara rujakan di rumah Sinta selesai, waktunya pulang. Aku bilang sama teman-teman, aku tidak mau melewati jembatan itu lagi. Harus lewat jalan lain. Walaupun  muter lebih jauh, ndak masalah.

Akhirnya aku lewat selatan Bulangkulon. Melewati Balongmojokulon, ke arah timur Balongomojokrajan. Dan saya baru tahu SMPN 2 Benjeng terletak desa ini. Kemudian ke arah timur, perempatan Glindah ke utara, ke desa  Gluranploso. Walaupun di Kacangan juga lewat jembatan Kali Lamong, namun jembatannya terbuat dari beton. Jadi seperti jalan biasa. Dan teman-teman yang rumahnya ke arah utara terpaksa menemani aku melewati jalan alternatif….🙂

Hari itu pengalaman tak terlupakan dalam hidupku. Pengalaman pertamaku menyeberang jembatan Mbulangkulon. Mengenangnya selalu menyenangkan….

4 Responses to “Tretek (jembatan) mBulang”


  1. 1 cak jupri Mei 25, 2013 pukul 12:37 pm

    ha2
    pernah lewat jembatan bulangkulon
    medeni…!!!

  2. 2 aliyulwafa Juni 27, 2013 pukul 10:55 am

    Alhamdulillah, Masih tetap aktif ngeBlog… Lanjutkan Mas..

  3. 3 ilyasafsoh.com Juli 23, 2013 pukul 1:45 pm

    kosisten ngeblog cak


  1. 1 kuliner Lacak balik pada Oktober 3, 2015 pukul 10:29 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: