Archive Page 2

Benjeng E-KTP-an

“Yuk…, riko wis poto E-KTP tah. Eson jange nang kecamatan. Iki maeng wis diabani Wak Bau liwat stiker mesjid, RT centong kene saiki wayahe.”

“Adingonoh…, saiki tah. Walah yuk jange mrontok nang sawah, ambek cacakmu. Embangono engko sore ga kenek tah? Lakare jare Wak Bayan wingi jare sampek tengah wengi.”

“Imbokloh…, bengi-bengi ngono pegawene sik nang kecamatan ta? Yo mbuh engko tak takokne Wak Bayan nang kono.”

Alhamdulillah. Ditengah kerepotan, diantara kesibukan, namun masih menyempatkan hadir, menunaikan urusan E-KTP. Waktunya bersamaan panen padi musim tanam kedua tahun ini, adalah waktu yang memerlukan tenaga dan perhatian lebih. Merontok padi dari tangkainya, mengusung karungan gabah dari sawah ke rumah, dan segera menjemur gabah yang belum kering betul. Meski lelah, payah, tapi terbayar gabah yang melimpah, siap ditukar rupiah…. 🙂

Perangkat desa yang dari kemarin hari sudah memberikan undangan E-KTP, pagi ini woro-woro warga sekampung untuk segera datang dikantor kecamatan, foto E-KTP…! Rombongan warga, yang sudah menyiapkan diri, siap berangkat. Bagi yang masih repot, sudah menyisihkan waktu siang ketika luang , atau nanti malam selepas kesibukan, sekalian begadang ndak masalah.

Seumur-umur, baru sekarang datang ke kantornya Pak Camat, itupun ndak ketemu orangnya. E-KTP, meski ndak tahu untuk apa, pasrah saja waktu di foto, jari discan, tanda tangan dan mata dikeker. Yang penting E-KTP ndak ditarik biaya, alias gratis… Dan yang lebih penting, katanya, bisa untuk ngurus utang-utangan…! ^_^

Minimarket Benjeng

Ndak tahu kenapa, di Benjeng, dulu belum ada mini market seperti Alfamart atau Indomaret. Padahal di Balongpanggang yang sama-sama kecamatan ndeso, sudah ada. Apalagi di wilayah Cerme, jumlahnya sudah hampir satu pasang jari tangan.

Sekarang, mulai pertengahan 2011, sudah berdiri mini market dengan jaringan terbanyak di Indonesia, Alfamart, di Jalan Raya Munggugianti. Dan baru saja akhir Januari 2012, sudah dibuka minimarket Indomaret di Jalan Raya Benjeng, depan Kantor Polsek Benjeng.

Dengan berdirinya minimarket di Benjeng, semoga menjadi pendorong pertumbuhan bisnis-bisnis baru, khususnya di lokasi sekitar minimarket. Biasanya pedagang makanan, mulai mangkal di sekitar situ.

Wah, artinya sekarang Benjeng sudah mulai ndak ndeso-ndeso amat dong? Bisa jadi begitu. Paling nggak kalo saya di gojlok, sudah bisa jawab kalau di Benjeng minimal sudah ada minimarket terkenal seperti di kota-kota.

Keri Cak…

Jaman dahulu kala, tersebutlah sepasang pengantin baru yang dilanda asmara. Di sebuah desa kecil yang damai, dikelilingi hutan yang masih belum banyak dijamah manusia. Hanya suara-suara burung dan binatang hutan, menambah syahdunya dua anak muda yang sedang bercengkrama di bawah pohon bambu yang rindang.

Dua anak muda yang sedang dimabuk cinta, tidak menghiraukan keluarga yang lalu lalang sibuk dengan pekerjaan rumah tangga. Bagi pengantin baru, hari ini ibarat bulan madu, seperti cuti sebentar dari penat pekerjaan sawah ladang, atau menggembala ternak. Hari ini canda tawa, kasih mesra tiada bosan.

Terdengarlah tawa-tiwi, dan suara lirih namun tapi cukup jelas. Diantara suara burung dan hembusan angin sepoi, berkata sang gadis dengan mesra, “keri Cak…” Kata dalam bahasa jawa “keri Cak” berarti “geli abang”. Tidak jelas apa yang mereka lakukan, tapi bisa dibayangkan biasanya kalau urusan geli, besar kemungkinan karena ketiak dan telapak kaki. Mungkin mereka bermain siapa yang paling kuat tahan geli, ketika ketiak atau telapak kaki saling digelitik.

Gabungan dua kata, etimologi, “keri dan cak”, lambat laun menjadi Kricak. Akhirnya kondanglah desa kecil ini dengan sebutan Kricak. Dusun Kricak sendiri termasuk dalam pememrintahan Desa Karangankidul Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik. Sedangkan asal-usul sejarah nama Kricak dengan versi pengantin baru, adalah salah satu cerita rakyat yang berkembang di desa ini.

Versi lain dari asal-usul nama Kricak, adalah gabungan dari dua kata “keri nang incak”. Artinya “geli di telapak kaki”. Anda tahu sendiri jaman dahulu belum ada sandal, apalagi sepatu kets dan fantovel. Karena sering “nyeker” ndak pakai alas kaki, telapak kaki mereka tebal, sampai “kapalen”.

Desa ini banyak tanaman berduri, seperti bambu, klampis, dan lom. Dan jika rantingnya yang banyak duri tadi mengering dan patah, jatuh ke tanah, maka berserakanlah duri di mana-mana. Selain itu Mungkin juga dulu banyak batu kerikil kecil yang lancip.

Nah, bagi orang jaman dahulu, yang sudah biasa keluar masuk hutan, dengan kaki nyeker tanpa alas kaki, hingga telapak kaki tebal kapalen, maka ketika berjalan di atas tanah yang banyak durinya, tidak ada rasa sakit. Waktu berjalan, di telapak yang ada hanya rasa geli. Mungkin juga karena ilmu kanuragan orang jaman dahulu sangat hebat, sehingga duri tajam bagi mereka hanya Kricak, “keri nang incak…”

Anda punya versi lain cerita ini, silakan menambahkan, terima kasih, nedo nrimo…

Ber-Ramadhan Yuk…

Alhamdulillah, dapat bertemu kembali dengan bulan penuh rahmat, maghfirah, dan ampunan. Bulan Ramadhan menjadi bulan yang spesial bagi umat islam. Semoga ramadhan tahun ini kita semua mendapat hikmah yang semakin menambah iman kita, amin.

Mengingat masa kecil ketika di bulan Ramadhan. Paling malas jika dibangunkan untuk makan sahur. Dengan mata masih sayu, jalan masih sempoyongan, “nyawa” masih belum genap, pergi ke meja makan. Tanpa cuci muka langsung ambil nasi dan lauk seadanya dipiring, langsung santap. Sambil nonton tv, acara komedi, membuat mata semakin melek.

Setelah makan sahur, saatnya imsak menjelang adzan shubuh. Biasanya tidur lagi, bahkan bablas sampai jam tujuh pagi, kalau tidak ada yang bangunkan. Supaya tidak ngantuk, saatnya berangkat ke masjid sholat shubuh. Di bulan ramadhan ini anak-anak semangat berjamaah sholat shubuh di masjid. Iya karena yang membuat semangat adalah aktifitas setelah seholat, yaitu jalan-jalan.

Bubaran sholat, sarung dislempangkan di pundak, lalu pergi bareng sama teman, jalan-jalan pagi. Suasana canda tawa bersama banyak orang menjadi ramai, apalagi bertemu dengan banyak kelompok-kelompok lain, terutama lawan jenis, yang sedang menikmati segarnya udara pagi. Setelah matahari mulai muncul dari peraduannya, waktunya untuk pulang.

Seperti hari-hari biasa, bermain adalah kesukaan anak-anak, tidak terkecuali di bulan Ramadhan. Namun sebahian anak-anak membatasi aktifitas fisik mereka, kuatir tidak kuat sampai waktunya berbuka nanti. Menjelang adzan dhuhur, bagi yang “poso bedug” (puasa setengah hari) mereka sudah siapkan hidangan “berbuka”. Maka ketika ketika adzan dhuhur terdengar dari masjid dan mushola, mereka langsung santap makanan dengan lahapnya.

Setelah “berbuka siang”, saatnya sholat dhuhur berjamaah di masjid/mushola. Setelah sholat, ini adalah aktifitas yang menyenangkan, tidur siang di mushola. Karena tengah hari, biasanya panas, anak-anak enggan pulang ke rumah, mereka tetap di masjid. Ada yang ngobrol ngalor ngidul, atau tiduran di mushola yang lantainya dingin, sampai waktu sholat ashar.

Setelah mandi sore, menjelang adzan maghrib, anak-anak kembali ke masjid. Karena di sini sudah disiapkan ta’jil, makanan dan minuman untuk berbuka puasa, biasanya lebih enak daripada ta’jil di rumah. Apalagi makannya rame-rame, apapaun makanan dan minumannya semuany jadi maknyus…

“Ngangsu Banyu Nang Ronjot”

Wilayah Benjeng dan balongpanggang terkenal dengan unen-unen “rendeng angel ndodok, ketigo angel cewok”. Yang artinya jika musim hujan susah duduk, karena sering banjir. Dan bila musim kemarau tiba susah cebok, karena sumber air mengering.

Iya, di wilayah Benjeng, sebagian wilayahnya sumber air tanahnya asin. Tandon air telaga sangat membantu menampung air. Meski begitu, jika musim kemarau agak lama, ditelaga pun habis. Warga mengungsi ke desa tetangga yang sumber air tanahnya bagus. Atau dengan terpaksa warga membeli air tanki dari sumber air gunung dan PDAM, yang perjrigennya lebih mahal daripada air PDAM yang dijual di kota.

Saat musim kemarau saat ini, warga Benjeng direpotkan dengan air bersih. Karena tandon air di kolam belakang (jublang) sudah mengering. Warga mulai mengambil air di telaga desa, kolam dengan volume air yang cukup besar, tapi tidak sebesar waduk. Biasanya jaraknya cukup jauh, sehingga harus di tempuh, minimal dengan sepeda ontel.

Siapkan ronjot kayu, naikkan di boncengan belakang sepeda, lalu taruh jrigen di atasnya, biasanya muat sampai 4-5 jrigen. Ada lagi ronjot yang lebih praktis, sebatang kayu sepanjang setengah meter, ditata melintang di boncengan belakang sepeda, lalu diikat yang kuat. Pegangan jrigen yang sudah diberi tali dicantolkan di ujung kiri dan kanan ronjot, sehingga posisinya di sampingkiri dan kanan roda belakang.

Telaga desa, khusus untuk air minum, tidak boleh digunakan mandi atau cuci, seperti kolam (jublang) di belakang rumah. Jika ingin menggunakan, warga cukup ambil air dengan jrigen lalu dibawa pulang ke rumah. Airnya relatif bersih daripada kolam belakang rumah. Lokasi telaga biasanya di luar pemukiman, sehingga cukup jauh, dan capek,  kalau dijangkau dengan jalan kaki.

Dirumah, penampungan air secara sederhana menggunakan genuk dari tanah liat. Setelah ngangsu (ambil air) beberapa kali, hingga genuk penuh air, dan beberapa timba untuk cuci kaki dan air wudlu. Mungkin, capeknya ngangsu mungkin setara dengan main bola di lapangan, artinya daripada main bola lebih baik ngangsu banyu…. 🙂

Konsumsi air banyak dihabiskan mandi dan cuci. Kalau untuk masak di dapur, tidak seberapa. Meski begitu saya berani jamin, kalau urusan mandi, sehari masih 2 kali, kalau ga percaya silakan cek bau badan wong benjeng, he2…

Agustusan dan ‘Posoan’

Sekarang memang masih Juli, masih di pekan pertama, awal bulan. Agustus masih relatif lama, satu bulan lagi. Bulan depan adalah tradisi perayaan kemerdekaan negera Republik Indonesia. Selain seremonial upacara di lapangan kecamatan oleh pegawai dinas instansi, tradisi kemeriahan di dusun-dusun adalah lomba-lomba khas Agustusan oleh anak muda karang taruna.

Namun kebetulan, Agustus nanti juga bersamaan dengan awal bulan Romadhon. dan biasanya kalu bulan puasa, kegiatan-kegiatan fisik biasanya dikurangi, dan kegiatan ibadah di malan hari semakin ditingkatkan. Praktis, kegiatan lomba-lomba khas tujuhbelasan untuk anak-anak yang relatif membutuhkan fisik yang lebih biasanya juga “diliburkan”.

Namun beberapa teman-teman karang taruna yang masih tergugah semangat juang 45, masih merayakan tradisi perayaan Agustusan untuk adik-adik dan anak-anak di lingkungan mereka. Mereka melaksanakannya di bulan sebelum Agustus yaitu Juli, supaya tidak bersamaan Romadhon. Dan sebagian kecil lainnya setelah bulan Agustus, yaitu September. Saya salut untuk mereka, saya tahu susahnya menunaikan “tugas kecil” tersebut, karena saya pernah menjadi bagian panitia ‘tujuhbelasan’ di kampung.

Bagi saya tradisi perayaan Agustusan sangat bagus untuk memupuk nasionalisme. Sebisa mungkin kita peringati dengan meriah. Kalaupun tidak, minimal secara sederhana, tapi jangan sampai tidak sama sekali.

Selamat menyongsong peringatan Hari Kemerdekaan Ke 65 RI dan selamat menyambut bulan Romadhon 1432 H…

Nggacar (Tangkai) Kedelai

Mengenang masa kecil pada musim-musim seperti ini, peralihan musim hujan ke musim kemarau. Biasanya saat seperti ini petani sudah mulai panen kedelai. Orang tua kami memanen di sawahnya sendiri, atau bergantian menjadi buruh tani di sawah tetangga. Tangkai kedelai yang sudah berwarna coklat tua, daunnya mengering, dipotong satu-satu dengan sabit.

Hasil sabitan ditaruh dibelakang petani, dijajar bertumpuk, agar nanti mudah diangkut. Setelah selesai satu petak sawah, kemudian diangkut, petani membawa ikat, menumpuk tangkai kedelai menjadi satu ikat besar, lalu dipikul menuju sisi petak sawah. Ditaruh dan ditumpuk menjadi satu, seperti gunung kecil setinggi orang dewasa, hingga semuanya selesai. Lalu selanjutnya proses penggilingan/pemecahan kulit kedelai, menjadi butri-butir kedelai yang siap dijual.

Sedangkan anak-anak kecil seperti kami, bila musim panen kedelai, seusai sekolah kami mencari sawah yang sudah selesai dipanen, kemudian kami memungut sisa-sisa tangkai kedelai yang berceceran, kami menyebutnya nggacar. Tangkai kedelai sisa ini biasanya dari sabitan yang kurang cermat, dan ceceran pengangkutan ketika buruh tani mengangkut dengan pikul atau ikat pelepah pisang.

Setelah dapat satu ikat kecil, dibawa pulang. Lalu digeblok, tangkai kedelai dipukul dengan kayu sebesar lengan, hingga kulit kedelai pecah. Biji kedelai bercampur dengan debu dan kawul kulit kedelai, lalu dibersihkan hingga didapat butir-butir kedelai yang bersih. Rata-rata kami bisa mendapatkan 1/4 kg sampai 1/2 kg.

Biji kedelai kami jual, harganya pada waktu itu cukup wah…, karena kami tidak pernah punya uang sendiri sebanyak itu. Meski hasil keringat sendiri, sebagian uang kami berikan kepada orang tua, sisanya kami buat jajan dan saku sekolah esok hari.