“Ngangsu Banyu Nang Ronjot”

Wilayah Benjeng dan balongpanggang terkenal dengan unen-unen “rendeng angel ndodok, ketigo angel cewok”. Yang artinya jika musim hujan susah duduk, karena sering banjir. Dan bila musim kemarau tiba susah cebok, karena sumber air mengering.

Iya, di wilayah Benjeng, sebagian wilayahnya sumber air tanahnya asin. Tandon air telaga sangat membantu menampung air. Meski begitu, jika musim kemarau agak lama, ditelaga pun habis. Warga mengungsi ke desa tetangga yang sumber air tanahnya bagus. Atau dengan terpaksa warga membeli air tanki dari sumber air gunung dan PDAM, yang perjrigennya lebih mahal daripada air PDAM yang dijual di kota.

Saat musim kemarau saat ini, warga Benjeng direpotkan dengan air bersih. Karena tandon air di kolam belakang (jublang) sudah mengering. Warga mulai mengambil air di telaga desa, kolam dengan volume air yang cukup besar, tapi tidak sebesar waduk. Biasanya jaraknya cukup jauh, sehingga harus di tempuh, minimal dengan sepeda ontel.

Siapkan ronjot kayu, naikkan di boncengan belakang sepeda, lalu taruh jrigen di atasnya, biasanya muat sampai 4-5 jrigen. Ada lagi ronjot yang lebih praktis, sebatang kayu sepanjang setengah meter, ditata melintang di boncengan belakang sepeda, lalu diikat yang kuat. Pegangan jrigen yang sudah diberi tali dicantolkan di ujung kiri dan kanan ronjot, sehingga posisinya di sampingkiri dan kanan roda belakang.

Telaga desa, khusus untuk air minum, tidak boleh digunakan mandi atau cuci, seperti kolam (jublang) di belakang rumah. Jika ingin menggunakan, warga cukup ambil air dengan jrigen lalu dibawa pulang ke rumah. Airnya relatif bersih daripada kolam belakang rumah. Lokasi telaga biasanya di luar pemukiman, sehingga cukup jauh, dan capek,  kalau dijangkau dengan jalan kaki.

Dirumah, penampungan air secara sederhana menggunakan genuk dari tanah liat. Setelah ngangsu (ambil air) beberapa kali, hingga genuk penuh air, dan beberapa timba untuk cuci kaki dan air wudlu. Mungkin, capeknya ngangsu mungkin setara dengan main bola di lapangan, artinya daripada main bola lebih baik ngangsu banyu….🙂

Konsumsi air banyak dihabiskan mandi dan cuci. Kalau untuk masak di dapur, tidak seberapa. Meski begitu saya berani jamin, kalau urusan mandi, sehari masih 2 kali, kalau ga percaya silakan cek bau badan wong benjeng, he2…

4 Responses to ““Ngangsu Banyu Nang Ronjot””


  1. 1 cakpen Juli 21, 2011 pukul 3:42 pm

    jadi inget masa kecil, itu sudah jadi makanan kita sehari hari. Ngangsu jadi rutinitas sambil olah raga. Namun skarang kita tdk perlu ngangsu sendiri karena di desa saya sudah jadi profesi bagi orang tertentu. Dg tarif tertentu. Dan mereka tdk pake motor atau onthel tapi sudah pake grobak yg bisa muat bnyak crigen…dan ini berjalan ampek skarang..

  2. 2 arahman Juli 23, 2011 pukul 12:42 pm

    opoooooooo opoooo annnn … sasaji salam satu jiwa

  3. 3 Indra Gunawan Juli 26, 2011 pukul 2:32 pm

    mugo mugi benjeng2 wonten solusi ingkang paling sae kangge tiang benjeng…terus toyo PDAM ipun saget melebet wonten benjeng sekitarnya.


  1. 1 facenook of sex Lacak balik pada Mei 31, 2015 pukul 4:19 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: