Tradisi Tinjo Bandeng

Menjelang hari raya idul fitri, tradisi keluarga di daerah saya, Benjeng, setiap keluarga “tinjo” atau “ater-ater” kepada sanak saudara. Tinjo berasal dari kata jawa, bisa diartikan memberikan bingkisan kepada keluarga. Biasanya dilakukan ketika punya hajatan keluarga, atau menjelang hari raya idul fitri.

Kalau sekarang mungkin sama seperti parsel lebaran jaman sekarang. Umumnya paket parsel ini berisi beras  satu gantang (setara 3 kg) plus satu ekor ikan bandeng mentah segar. Ikan bandeng yang digunakan tinjo biasanya 1 kg isi 3 ekor.

Dimulai dari keluarga muda ke keluarga yang lebih tua. Saudara muda tinjo terlebih dahulu adalah simbol penghormatan kepada saudara lebih tua. Kalau yang tua lebih dulu itu ndak ilok, bisa kuwalat. Setelah itu keluarga yang lebih tua akan tinjo balik kepada keluarga yang lebih muda.

Yang ditinjo biasanya memiliki hubungan keluarga, misal orang tua, mertua, saudara kandung atau saudara jauh.  Selain itu masyarakat juga memberikan tinjo kepada tokoh masyarakat yang dituakan. Misal yang paling umum adalah pak modin dan kepala desa.

Seiring perkembangan jaman, tradisi tinjo masih lestari, namun isinya tidak lagi melulu beras dan bandeng mentah. Yang pasti semuanya makanan, ada yang masih mentah atau sudah matang tinggal makan, bermacam-macam jenisnya, yang penting bisa digunakan untuk menyambut hari raya idul fitri.

Intinya tradisi tinjo memelihara kerukunan antar keluarga dan menjaga penghormatan kepada sesama. Dulur, hari ini sampeyan sudah beli bandeng…?

6 Responses to “Tradisi Tinjo Bandeng”


  1. 1 cakpenMbenjeng September 2, 2010 pukul 11:05 am

    Betul, cak..di tempatku di Bengkelo-lor tradisi ini masih terjaga dengan baik..Emang seneng rasanya bisa tukar tukar masakan. Kalau di desa saya sudah dalam bentuk masakan mateng, jadi tinggal ngemplok wae..Cuma bedanya, tinjonya hanya dari yang “Muda” ke yang “TUA”….bukan bolak balik…Uniknya meski hanya satu arah, tapi yang muda juga biasanya akan dapat tinjo juga dari famili lain yang merasa lebih muda…Trus ada satu lagi, patugas yang ngantar masakan tersebut akan diberi tips (uang) dari tuan rumah yang menerima..Wah pokonya seneng lah bagi anak anak yang kebagian tugas nganterin tinjo….akan punya banyak uang tuk lebaran…he he he..

  2. 2 mybenjeng September 2, 2010 pukul 11:14 am

    @ Cakpen Mbenjeng
    wah cilikan sampeyan mesti dikongkon ater tinjo…
    nek aq mbiyen, duit tips dijupuk sing ngongkon, paling dike’i buruhan 500 repes, tapi iku wis uakeh jaman semono…

  3. 3 idhamcholidmuhammady April 13, 2011 pukul 6:58 pm

    cak matur nuwon mergo sampeyan saiki ngresik dadi dikenal
    karo wong sak jagat lan ojo lali kenalno panganane sing
    khas ngresik pudak,otak-otak,sego krawu,segoentep…..LLLn

  4. 5 hafid November 22, 2011 pukul 9:00 am

    waduh ,sama banget ma balongpanggang
    di daerah q ni jg pake’ acara tinjo tp g;hrs pake’ bandeng cak
    udah di ganti ma mknan lngsung santap

  5. 6 tokoagen Januari 17, 2013 pukul 2:10 pm

    mantep nie tradisi orang gresik, sangat kental dengan budaya islamnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: