Syekh Abdul Kholiq Al Hamid (Jiwo Suto)

Syekh Abdul Kholiq Al Hamid (Jiwo Suto) adalah putra dari pasangan Yasmin dan Suminah namun karena kemashuran, ketokohan sang kakek maka nama Syekh Abdul Hamid lebih melekat pada dirinya dari pada nama Yasmin ayahandanya, sehingga beliau oleh masyarakat Ujungpangkah dipanggil Syekh Abdul Hamid atau dijuluki Jiwo Suto.

Waliyullah yang lahir dan dibesarkan di Ujungpangkah ini diperkirakan hidup antara tahun 1792-1861 atau abad 18-19 Masehi. Kesimpulan sementar aini diambil karena riwayat hidup beliau yang sejaman atau satu generasi dengan Adipati Suryoadiningrat (Kanjeng Sepuh) Bupati Gresik di SIdayu yang hidup pada tahun 1817-1858 M.

Sejarah singkat perjalanan hidup Syekh Abdul Kholiq Al Hamid (Jiwo Suto).

Jiwa pengelana sudah terlihat sejak kecil pada diri beliau, terbukti dalam usianya yang relative muda Abdul Kholiq Al Hamid sudah gemar berkelana dengan dibimbing oleh eyangnya bernama Syekh Abdul Hamid secara batin. Sebagaimana kebiasaan pengelana pada umumnya Abdul Kholiq Al Hamid tidak makan dan minum selama berkelana. Hal ini dimungkinkan sebagai upaya mensucikan batin, namun karena karomah yang dimilikinya, maka bila sewaktu-waktu beliau dahaga, maka cukup baginya membaca bismillah, maka rasa haus tak lagi dirasakannya.

Dalam pengembaraannya Abdul Kholiq Al Hamid tak lupa mengunjungi para wali yang lebih tua darinya dengan maksud untuk berguru dan meimba ilmu padanya, nama-nama waliyullah yang pernah dikinjunginya antara lain:

  • Syekh Abdur Rosyid atau Mbah Sridi, pesareannya berada di Dusun Koang (Kebondalem Desa Kebonagung). Karena merasa lebih muda usianya Abdul Kholiq Al Hamid memanggil Syekh Abdur Rosyid dengan sapaan Kakang/Kang, maka  dari sapaan itu, kini dusun tersebut dikenal dengan nama dusun Koang.
  • Syekh Abdur Rohman (Mbah Panglen), pesareannya kini lebih dikenal dengan nama makam Panglen di Dusun Koang Kebondalem Kebonagung. Setelah dirasa cukup berguru dan menimba ilmu pada keduanya, maka Abdul Kholiq Al Hamid berpamitan untuk meneruskan pengembaraannya, namun sebelum berpisah Abdul Kholiq Al Hamid member gelar kepada Syekh Abdur Rohman dengan sapaan Mbah Panglen sebab dalam kesehariannya Syekh Abdur Rohman sebagai penjual barang-barang panglen (barang-barang kelontong).

Setelah berpamitan pada keduanya, Abdul Kholiq Al Hamid meneruskan pengembaraannya. Dalam pengembaraanya selama Sembilan tahun dan baru pada usia 23 tahun beliau menikah dengan gadis pilihannya bernama Siti Rohmah, gadis asal Dusun Siraman Dukun. Gadis bernama Siti Rohmah ini adalah anak seorang janda bernama Mukholidah. Alas an pernikahan beliau dengan Siti Rohmah adalah sebagai upaya proses isalamisasi (penyebaran Islam) di wilayah Dukun saat itu.

Setelah menikah, beliau melanjutkan pengembaraannya. Kali ini tidak berlangsung lama, hanya satu tahun, sebab secara kebetulan ketika beliau singgah di Kuncen Sidayu beliau bertemu Adipati Surya Adiningrat (Kanjeng Sepuh) yang tak lain adalah Bupati Gresik ke-8 Sidayu. Beliau menetap sebagai guru dan penasehat di bidang keagamaan di Kesepuhan Sidayu selama hamper 2 tahun. Dalam pengabdian tersebut terjadi peristiwa maha penting dalam babak sejarah perjalanan hidup Abdul Kholiq Al Hamid yaitu peristiwa adu banteng dengan manusia yang akhirnya menyatukan desa Pangkah dengan Sidayu dalam satu kesaman cerita rakyat (volk loor).

Adapun adu banteng dengan manusia di alon-alon kota Surakarta (Solo) dituturkan oleh Shohibul Hikayat sebagai berikut:
“Kanjeng Sepuh pada masa pemerintahan selalau berseberangan dengan kebijakan Kasunanan Solo (Raden Sayyid Abdur Rohman – yang juga ayahandanya sendiri), Kanjeng Sepuh sering dianggap kontoversial dan sangat membenci kehadiran Belanda di Jawa.

Karena Kanjeng Sepuh dianggap tidak se ide dan selalu menentang kebijakan pusat, maka sebagai hukumannya Kanjeng Sepuh diundag ke Solo untuk diadu dengan seekor banteng. Mendengar panggilan tersebut, Kanjeng Sepuh tampak susah, lesu dan bingung, dalam kebingungan tersebut Kanjeng Sepuh meminta bantuan kepada sang guru (Jiwo Suto) untuk membantunya.

Melihat sang murid dalam masalah, maka Jiwo Suto bertanya kepada Kanjeng Sepuh, “Apa yang sedang terjadi, sehingga Kanjeng tampak gelisah?”. Kanjeng Speuh menjawab, “Siapa yang tidak susah, sebentar lagi aku akan diadu dengan seekor banteng”. Jiwo Suto balik menjawab, Mengapa Kanjeng mesti susah, saya siap menggantikan jika menghendaki”.

Mendengar jawaban Jiwo Suto, Kanjeng Sepuh terdiam dan berfikir kemudian bertanya, “Apa hal itu boleh dilakukan?” Jiwo Suti kembali meyakinkan kepada Kanjeng Sepuh, “Kanjeng, marilah kita berganti baju, dengan demikian wajah kita pun akan berubah” (mungkin inilah yang disebut ilmu maleh rupo).

Dengan karomah dan kekuasaan Allah SWT, wajah keduanya berubah setelah berganti baju, maka berangkatlah keduanya dan berganti posisi, dimana Kanjeng Sepuh menjadi kusir dan Jiwo Suto duduk di belakang. Singkat cerita, sampailah kedua di lapangan Solo, di situ sudah berkumpul beribu massa untuk menyaksikan adu banteng ini.

Jiwo Suto (yang sudah berganti wajah Kanjeng Sepuh) turun dari kereta dan langsung menuju lapangan. Bantengpun dilepas dan terjadilah pertarungan sengit, karena pertarungan berlangsung lama, maka Jiwo Suto minta ijin kepada Susuhunan Solo untuk membunuh banteng tersebut. Setelah mendapat ijin, maka kepala banteng itu langdung dipukul dan ihancurkan berkeping-keping.

Setelah perarungan berakhir, maka kembalilah keduanya ke SIdayu. Mengingat jasa Jiwo Suto yang begitu besar kepada beliau, maka Kanjeng Speuh member hadiah kepada Abdul Kholiq Al Hamid untuk mengjadi penghulu (naib) selama tjuh turunan di Ujungpangkah.

Setelah Kanjeng Sepuh wafat tahun 1858 M, maka Abdul Kholiq Al Hamid pun kembali ke Siraman Dukun untuk menemui istrinya. Karena beliau tidak mempunyai keturunan yang hidup, maka beliau mengadopsi keponakannya bernama Jaziroh sebagai anak angkatnya. Hamper 5 tahun Jaziroh diasuhnya, namun dia akhirnya memilih tinggal dan kembali kepada orang tuanya.

Tak lama kemudian, istri beliau wafat dan selang beberapa tahun beliaupun menyusulnya dan dikebumikan di Siraman Dukun.

Selama hamper 25 tahun Abdul Kholiq Al Hamid disemayamkan di Siraman Dukun dalam perkembangannya di Siraman terjadi malapetaka (Pagebluk), dimana penduduk desa terjangkit macam-macam penyakit sehingga banyak yang meninggal. Akhirnya dalam suatu malam salah satu sesepuh desa tersebut mendapat petunjuk Allah SWT/nglamat, bahwa pagebluk yang menimpa penduduk Siraman ini akan berakhir bila jenazah Abdul Kholiq Al Hamid dipindah ke tanah kelahirannya di Pangkah.

Berdasarkan petunjuk Allah tersebut, maka jenasah beliau digali dan dipindah ke Pangkah dan keanehan terjadi manakala jasad yang terbaring selama 25 tahun tersebut ketika diangkat tetap utuh dan tidak rusak sama sekali. Atas keagungan, kebesaran Allah dan keanehan tersebut maka Abdul Kholiq Al Hamid mendapat julukan Jiwo Suto. Jiwo berarti jiwa, Suto berarti utuh, suci, sempurna. Dan sejak itu hingga kini nama Abdul Kholiq Al Hamid lebih dikenal dengan nama Jiwo Suto. Pesareannya berada di belakang Masjid Jami’ Ainul Yaqin Ujungpangkah.

sumber: majalah warta giri

1 Response to “Syekh Abdul Kholiq Al Hamid (Jiwo Suto)”


  1. 1 nggresik Juli 3, 2009 pukul 11:45 am

    jasad utuh selama 25 tahun…itulah bukti 4JJI Maha Besar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: