Pakne Andre, Pakne Pio…

Sampai sekarang dalam pergaulan sehari-hari dengan tetangga, ketika menyapa seseorang, kata sapaan yang sering terucap adalah “mau kemana Pakne Pio” ato “dari mana Pakne Andre (jawa: pakne = ayahnya). Jarang saya mendengar sapaan yang langsung menyebut nama asli, kecuali bagi yang belum berkeluarga dan berputra.

Bagi yang belum berkeluarga termasuk saya teman-teman lebih sering memanggil dengan nama julukan, sebagai nama panggilan sehari-hari, terutama teman-teman laki-laki. Malah ada yang tidak hafal nama asli temannnya karena lebih di kenal dengan nama julukan…πŸ™‚

Entah kenapa, sekarang saya lebih nyaman memanggil teman sebaya saya yang sudah lebih dulu menikah dan sekarang sudah punya putra, Santoso, dengan panggilan Pakne Pio. Apalagi kalau beliaunya sedang bermain/menimang anaknya di depan rumah, nggak tahu kenapa kata-kata itu muncul dengan sendirinya. Toh yang punya nama juga nggak protes kok.πŸ™‚

Di Desa saya, dalam arisan kampung di catatan pembukuan borek (bandar/koordinator) yang dicatat bukan nama asli yang ikut arisan tapi nama anak tertua. Misal, yang ikut Bapak Yanto mempunyai anak pertama namanya Andre, maka dalam pembukuan arisan yang dicatat adalah PAK ANDRE atau YANTO PAK ANDRE.

Entah orang jaman dulu, yang memulai dan mewariskan budaya (kebiasaan) ini, mempunyai alasan khusus atau hanya masalah kebiasaan saja saya juga kurang tahu. Fenomena kebiasaan ini secara tidak sadar malah sering saya lakukan juga. Kalau di tempat anda mungkin tidak jauh berbeda ada juga kali ya?

11 Responses to “Pakne Andre, Pakne Pio…”


  1. 1 peyek Januari 23, 2008 pukul 2:03 pm

    lah..saya dipanggil peyek!

    sepertinya lebih egaliter! hehehehe…πŸ™‚

  2. 2 mybenjeng Januari 24, 2008 pukul 10:20 pm

    Iya mas, eh biar lebih egaliter gak pake mas ya. Iyo Yek… *gak sopan, :)*
    BTW mas peyek Pakne siapa neh?πŸ™‚

  3. 4 Tumes_semuT Februari 4, 2008 pukul 1:27 am

    mungkin sebagai wujud penghargaan bagi orang yang telah berputra, karena anak biasanya jadi kebanggaan orang tuanya jadi orang tua pasti senang orang yang menyapanya menyebut nama anaknya. tapi kalo kaya gitu yang gak punya anak jadi kepikiran terus ya…

  4. 5 Tumes_semuT Februari 4, 2008 pukul 1:28 am

    ~peyek~
    ono sejarahnya kok bisa dipanggil peyek?opo wes ono postingannya hehehe

  5. 6 mybenjeng Februari 4, 2008 pukul 2:01 pm

    @raditzhu
    dek tyonk ya?! blogmu serem yonk…πŸ™‚

    @Tumes_semuT
    lha ya itu, trus aku ambil anaknya sapa?

  6. 7 Arif Budiman Februari 9, 2008 pukul 10:25 pm

    Iya, kaya Emakku. Biasanya manggil Bapak dengan “Wak Luk” — Soalnya nama Kakakku yang pertama itu Khuluk — dan memanggil Bibikku dengan “Makne Mu” — soalnya anak Bibikku yang pertama namanya Mu –. Nggak tahu sih kenapa, tapi kayaknya itu sama dengan kebiasaan masyarakat Arab yang memanggil dengan Abu (…) dan Ummu (…)

  7. 8 mybenjeng Februari 10, 2008 pukul 12:08 pm

    @arif budiman
    kalo emak saya manggil suaminya dengan “bapakne arek-arek”.πŸ™‚

  8. 9 Ronggo Februari 20, 2008 pukul 11:25 am

    Jadi inget sunah Rasul yang mulia shallallahu alaihi wa salam untuk memakai nama kunyah(julukan). Contohnya Amirul Mukminin Umar bin Khattab rhadiyallahu anhu punya julukan “Abu Hafsh”(Bapaknya Hafsh) karena anak beliau namanya Hafsh. Jadi kalo nama anak pertamanya Ahmad ya kunyahnya Abu Ahmad kalo anaknya Adi ya kunyahnya Abu Adi. Asal jangan pakai nama Abul Qosim krn itu khusus bagi Nabi yang mulia Muhammad shallallahu alaihi wa salam. Dan jangan pake nama-nama pembesar kafir Quraisy kayak Abu Lahab, Abu Jahal, dan Abu-Abu yang lain yang bermasalah. terus jangan lupa sunnah2(yg wajib/sunnat) yg lain yg udah banyak dtinggalin spt Sholat jamaah lima waktu di masjid (Sedih Rek, ngGresik sing jarene kota santri tp masjide akeh sing sepi), tilawah Qur’an tiap hari, mengkaji ilmu agama(iku fardhu ‘ain rek,mosok ngaji pas jek cilik tok. nek wis gedhe tambah perlu lho ilmu agomo terbukti pengajian ilmu ning ngGresik jarang seru nek ono sepi seru).Wassalaam.

  9. 10 mybenjeng Februari 22, 2008 pukul 11:29 am

    @ronggo
    iya ki mas… aq saiki arang nang mesjid, opo maneh ngajine…πŸ™‚
    makasih pencerahannya…
    salam.


  1. 1 social network signals Lacak balik pada November 25, 2016 pukul 7:02 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: