Jembatan Rasa

Tetangga saya baru saja datang dari Bali, dari rantau (pasti) mencari rezeki lebih, atau mencari tantangan hidup (kalau yang ini saya nggak yakin).

“PakWoh, kapan datang? Bagaimana Bali, menyenangkan?”

Bali tempat yang indah. Tempat yang bagus untuk menguji keteguhan hati, dan menempa kematangan spiritual. Segala macam kebaikan dan keburukan, kompleks menjadi satu, dan semuanya ada di depan mata, dan di situlah tantangan sebenarnya…!

Kalau ada kesempatan silakan ke Bali, dan kalau ada waktu (yang tidak sebentar) rasakan atmosfernya.

“Kehidupan sosial masyarakatnya seperti apa?”

Keadaan sekarang tidak seperti Bali 10 tahun yang lalu (waktu yang tidak terlalu lama menurut saya). Dahulu keakraban, kegotongroyongan, toleransi antar sesama, masih terpelihara…

10 tahun yang lalu, tidak ada orang mau mengambil barang yang bukan haknya, tidak ada orang pendatang yang tidak sampai tujuan karena tersesat (atau disesatkan orang), karena masih kuatnya jembatan rasa…

10 tahun yang lalu seorang miskin yang tidak punya apa-apa, bahkan untuk makan sehari-hari, bisa menjamu tamu dengan suguhan yang berlimpah, karena masih melekatnya jembatan rasa itu

Berjalannya waktu dengan perubahan pada jamannya. Masuknya pelancong dengan macam budaya, migrasi manusia dengan ragam sifatnya, mengabrasi dan mengikis jembatan rasa, lambat laun pudar dan mulai sirna. Tertindas (dengan sendirinya) oleh pemikiran logika, dan pemenuhan kebutuhan (kebanggaan) kemewahan duniawi.

“Ah, jembatan rasa…, saya mau ke Bali deh”

Eit…, tidak disarankan untuk kamu, sebelum punya “filter” yang cukup, memang di sini nggak bisa bangun jembatan rasa…?!!

7 Responses to “Jembatan Rasa”


  1. 1 kw Juli 1, 2007 pukul 6:19 am

    hi salam kenal.
    nice to meet u. jembatan rasa itu moral yang baik kah?

  2. 2 -tikabanget- Juli 1, 2007 pukul 9:42 am

    “Eit…, tidak disarankan untuk kamu, sebelum punya “filter” yang cukup,…”

    eh? sayah? ndak boleh juga?😦

  3. 3 karsonos Juli 1, 2007 pukul 12:34 pm

    boleh numpang lewat, nanti kapan2 saya mampir deh. makasih

  4. 4 mybenjeng Juli 2, 2007 pukul 12:02 am

    @kw
    moral yang baik, mungkin

    @-tikabanget-
    kayaknya ga blh jg🙂

    @karsonos
    monggo pinarak

  5. 5 Lintang Juli 3, 2007 pukul 12:03 am

    hmm jembatan rasa…sy kira jembatan beneran tadinya😀
    sy blm pernah ke bali nih…btw “filter” yg cukup itu “filter” semacam apa ya?? *sambil garuk2 kepala*😀

  6. 6 joesatch Juli 3, 2007 pukul 3:27 am

    bali memang top!
    kampung halamanku…oh…oh…oh…

  7. 7 mybenjeng Juli 3, 2007 pukul 4:11 pm

    @lintang
    kayak filter rokok kali ya…🙂

    @joesatch
    pengen banget ke sana…oh…oh…oh…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: