Halaman Arsip 2

Facebook Diblokir Pemda?

Penggunaan situs jejaring sosial Facebook dan Yahoo! Messenger (YM) menyebabkan proses lelang di Pemerintah Kota Surabaya terhambat. Karena ribuan komputer dipakai internetan bersamaan mengakibatkan lemot-nya jaringan intranet Pemkot.   Akibatnya, sekitar 200 e-procurement yang harus diselesaikan sampai minggu depan terhambat.
Akibat overload-nya bandwidth pemkot, sepuluh CCTV yang dipasang Dinas Perhubungan juga tak semuanya bisa ditampilkan di layar monitor yang tersedia di ruang Area Traffic Control System (ATCS) Pemkot maupun di Kantor Dishub.
Karena itu, mulai minggu ini Facebook dan YM pada jaringan pemkot dibatasi. Penggunaan situs jejaring sosial itu hanya diperbolehkan setelah pukul 16.00. (JawaPos, 06-09-2009).

Kira-kira di Pemkot/Pemda lain, Pemda Gresik misalnya, mengalami hal serupa di atas atau nggak ya? Kalau iya, wah siap-siap saja tidak bisa ber-chating ria… :)

Juragan Selep Benjeng

Di setiap tempat pasti ada peluang bisnis/usaha, begitu pula di Kecamatan Benjeng. Tidak sedikit warga pendatang yang memanfaatkan peluang bisnis di sini, antara lain tempe penyet dan nasi boran Lamongan, potong rambut Madura, es rumput laut Sunda. Mungkin satu yang kurang, masakan Padang, masih belum ada di sini. :)

Untuk jenis usaha tersebut sebagian besar terdapat di ibu kota kecamatan, yang tempatnya ramai sehingga usaha apapun relatif bisa berjalan dengan lancar dan menjanjikan. Sedangkan di tempat yang jauh dari ibu kota kecamatan, masing-masing desa memiliki potensi usaha yang berbeda-beda. Namun usaha yang pasti ada di setiap desa di Benjeng yang mayoritas petani, adalah Penggilingan Padi.

Di setiap desa se-Kecamatan Benjeng, banyak berdiri usaha penggilingan padi (selep). Melayani warga petani yang mengupas gabah menjadi beras untuk konsumsi sehari-hari, maupun untuk sumbangan (buwuhan) di musim hajatan. Pengusaha selep mendapat upah jasa setiap kilo beras, dan keuntungan lain yaitu sekam dan dedak/katul yang bisa dijual lagi.

Yang lebih menguntungkan juragan selep mereka membeli gabah dari petani, kemudian di giling menjadi beras, lalu di jual kembali ke pasar dengan nilai lebih besar. Mulai dari utara sepanjang Desa Jatirembe, Punduttrate, Metatu, Klampok, Benjeng, sampai ke arah barat, Kedungrukem, Kalipadang, banyak berdiri selep dengan kapasitas produksi penggilingan padi yang cukup besar.

Bagi anda yang berminat menjadi juragan selep, jangan kuatir, masih banyak  tempat untuk penggilingan padi dan masih banyak tenaga/kuli dari warga sekitar yang siap dipekerjakan…

Benjeng, antara Cerme dan Balongpanggang

Cerme dan Balonpanggang menjadi batas wilayah Kecamatan Benjeng antara timur dan barat. Sebelah timur berbatasan langsung dengan desa Dadapkuning Kecamatan Cerme, dan di sebelah barat berdampingan dengan Desa Balongpanggang Kecamatan Balongpanggang.

Judul di atas, Benjeng di antara Cerme dan Balongpanggang adalah gambaran saya pribadi tentang keaadaan umum di wilayah Benjeng bisa saya tuliskan di blog ini.

* Pasar Benjeng

Di Kecamatan Benjeng, pasar desa tradisional, Pasar Benjeng, (mungkin) mengalahkan waralaba minimarket yang sangat terkenal yang sudah berdiri di Cerme dan Balongpanggang, buktinya (paling tidak) minimarket tersebut masih belum berdiri di Benjeng. Walaupun bisa jadi peluang bisnis di sini kurang menjanjikan dibanding di kecamatan sebelah… ;)

Atau mungkin perputaran uang sudah tersedot di Pasar Benjeng, karena perputaran uang di sini lebih banyak dibandingkan di pasar desa sebelahnya. Sekarang Pasar Benjeng menjadi tempat kulakan mlijo (pedagang sayur keliling), tidak kalah dengan Pasar Keputran Surabaya. Menjelang tengah malam sampai pagi pasar Benjeng tidak pernah tidur, ratusan mlijo menghabiskan uangnya membeli sayur-mayur dan lauk-pauk, untuk dijual esok pagi ke warga kampung Gresik bahkan tidak sedikit ke wilayah Kota Surabaya.

*Terminal Benjeng

Wah sejak kapan ada terminal di Benjeng, memang belum… :) Di kecamatan ini hanya menjadi pemberhentian sementara (ngetem) lyn BP (balongpanggang-pasar turi) dan lyn Orange (Balongpanggang-Gresik), Lyn merah (Metatu-Gresik).

Balongpanggang menjadi terminal strategis, karena menghubungkan Gresik, Lamongan dan Mojokerto. Di tempat ini setidaknya 3 lyn/angkutan umum yang menjadi tujuan/pemberhentian terakhir. Begitu juga Cerme menjadi pemberhentian akhir lyn Merah (Gresik – Cerme) dan Lyn Hijau (Cerme-Menganti). Makanya di wilayah ini warga yang menggunakan lyn relatif lebih ramai.

*Peluang bisnis lainnya? Besok-besok saya teruskan lagi, sementara ini dulu… :)

17an, Ngapur Jaro

Menyambut peringatan HUT Kemerdekaan RI, warga desa mulai bersih-bersih memperindah rumah dan lingkungan desa. Kata Pak Lurah, nanti ada lomba kebersihan desa, yang menang dapat hadiah dari Pak Camat.

Jam 6 pagi Pak Bau (kepala dusun) bersama Pak Bayan (perangkat desa), menabuh kentongan menandakan perintah kepada warga agar datang berkumpul untuk menuju lokasi. Warga segera berduyun-duyun menuju lokasi kerja bhakti yang kemarin sore sudah di woro-woro Pak Bau pada waktu ngabani (pemberitahuan) dari rumah ke rumah warga.

Dengan membawa peralatan yang dibutuhkan, pacul, arit dan sebagainya warga sudah siap melaksanakan tugas. Krocokan atau glidhik (kerja bakti) pagi ini dimulai dengan membersihkan rumput liar yang tumbuh di badan jalan. Jalan desa yang berkubang diurug dengan sirtu (campuran pasir dan batu), dan batu-batu sebesar kepalan tangan di tengah jalan ditata sedemikian rupa agar tidak membahayakan pengguna jalan, sehingga bisa dilalui dengan nyaman.

Capek kerja bhakti, istirahat sejenak. Sudah disiapkan ibu-ibu air putih di kendi dan kopi panas, plus makanan ubi rebus. “Godho gedhang godho telo, titik edang podho kroso”, walau makanannya sedikit asal semua kebagian.

Setelah jalan-jalan sudah rapih dan bersih, agar tampak lebih cerah tidak kusam, maka perlu dilakukan pengecatan pagar rumah. Warga desa biasanya menggunakan enjet atau apu (kapur), yang dicampur dengan air secukupnya. Pengapuran di lakukan pada jaro (pagar rumah dari kayu/bambu), batang pohon di pinggir jalan desa, wuwung rumah, dinding rumah, tiang bendera, dan lain-lain.

Umbul-umbul dipastikan selalu menjadi ciri khas Agustusan. Agar nampak lebih meriah, hiasan gondal-gandul berwarna merah putih, atau warna ngejreng kertap-kertip (berkilau) turut menambah ramainya wajah kampung.

Dulur, saya sudah ngapur jaro, sampeyan bikin apa 17-an tahun ini?

Asal Usul Cerme

Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik terletak di wilayah Gresik bagian selatan. Letak geografis sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Benjeng, sebelah timur Kecamatan Menganti dan Kecamatan Benowo Kota Surabaya, sebelah utara Kecamatan Duduksampeyan dan Kecamatan Kebomas, sebelah selatan Kecamatan Menganti dan Kecamatan Kedamean.

Kecamatan Cerme bersama 3 kecamatan lain pernah tergabung dalam Wilayah Kawedanan / Eks Pembantu Bupati. Tiga kecamatan tersebut adalah Benjeng, Balongpanggang dan Duduksampeyan. Pendopo kawedanan terletak di Kecamatan Cerme, yang sekarang di pakai Kantor PDAM, depanya Bank Jatim Cerme.

Luas wilayah 71,73 Ha, sebagian besar berupa sawah dan tambak. Ketinggian 4 meter di atas permukaan laut. Kecamatan Cerme membawahi  25 pemerintahan desa, yang memiliki 60 dusun , 350 RT dan 130 RW. Ibukota kecamatan adalah Desa Cerme Kidul, kantor Camat terletak di jalan Raya Cerme 65.

Sejarah asal-usul nama Cerme

Sampeyan pasti tahu buah Cerme. Bentuknya bulat sebesar kelereng, permukaannya bergelombang, berwarna kuning, rasanya manis dan asam. Satu pohon buahnya ratusan mungkin sampai ribuan. Nah, nama Kecamatan Cerme bukan berasal dari nama buah, walaupun namanya sama persis … :)

Sejarah nama Cerme berasal dari kata dalam bahasa Jawa “ancer – ancer rame” yang dalam bahasa Indonesia berarti “diperkirakan ramai”. Namun ada juga yang mengartikan “tanda-tandanya ramai”, karena kata ancer-ancer dipergunakan untuk menunjukkan arah dan tempat.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, pada suatu hari terjadi peperangan yang melibatkan prajurit dari Majapahit, melawan prajurit Giri dari Kerajaan Giri yang saling berperang di wilayah ini. Selanjutnya tempat ini menjadi sangat terkenal dan ramai karena peperangan tersebut.

Dahulu wilayah ini merupakan hutan, sesuai dengan kondisi permukaan tanah yang tidak rata seperti bukit, banyak tanjakan dan turunan, walaupun tidak terlalu curam. Wilayah hutan dahulu menjadi tempat yang sangat menguntukan untuk mengatur strategi perang terutama sebagai tempat bertahan prajurit Giri dari serbuan kerajaan Mojopahit yang sangat terkenal.

Selain itu tempat ini menjadi sangat strategis, karena menjadi jalur utama menuju ke Kota Giri (Gresik) dan ke Jalur Pantura Tuban (Lamongan). Dan sebaliknnya, menjadi jalur utama dari Giri menuju Majapahit (Mojokerto) dan Surabaya.

Di masa sekarang Kecamatan Cerme menjadi semakin ramai, berdirinya perumahan rakyat dengan harga yang cukup terjangkau, dan lokasinya yang strategis tidak jauh dari kota Gresik dan Surabaya.

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »