Mengenang masa kecil pada musim-musim seperti ini, peralihan musim hujan ke musim kemarau. Biasanya saat seperti ini petani sudah mulai panen kedelai. Orang tua kami memanen di sawahnya sendiri, atau bergantian menjadi buruh tani di sawah tetangga. Tangkai kedelai yang sudah berwarna coklat tua, daunnya mengering, dipotong satu-satu dengan sabit.
Hasil sabitan ditaruh dibelakang petani, dijajar bertumpuk, agar nanti mudah diangkut. Setelah selesai satu petak sawah, kemudian diangkut, petani membawa ikat, menumpuk tangkai kedelai menjadi satu ikat besar, lalu dipikul menuju sisi petak sawah. Ditaruh dan ditumpuk menjadi satu, seperti gunung kecil setinggi orang dewasa, hingga semuanya selesai. Lalu selanjutnya proses penggilingan/pemecahan kulit kedelai, menjadi butri-butir kedelai yang siap dijual.
Sedangkan anak-anak kecil seperti kami, bila musim panen kedelai, seusai sekolah kami mencari sawah yang sudah selesai dipanen, kemudian kami memungut sisa-sisa tangkai kedelai yang berceceran, kami menyebutnya nggacar. Tangkai kedelai sisa ini biasanya dari sabitan yang kurang cermat, dan ceceran pengangkutan ketika buruh tani mengangkut dengan pikul atau ikat pelepah pisang.
Setelah dapat satu ikat kecil, dibawa pulang. Lalu digeblok, tangkai kedelai dipukul dengan kayu sebesar lengan, hingga kulit kedelai pecah. Biji kedelai bercampur dengan debu dan kawul kulit kedelai, lalu dibersihkan hingga didapat butir-butir kedelai yang bersih. Rata-rata kami bisa mendapatkan 1/4 kg sampai 1/2 kg.
Biji kedelai kami jual, harganya pada waktu itu cukup wah…, karena kami tidak pernah punya uang sendiri sebanyak itu. Meski hasil keringat sendiri, sebagian uang kami berikan kepada orang tua, sisanya kami buat jajan dan saku sekolah esok hari.

dulu, semasa es-de, saya banyak menjumpai penjual kedelai masak lengkap disajikan dengan tangkai-tangkainya. tapi sekarang semakin jarang dijumpai, wah… jadi pengen kolak kedelai, hehehe…
tuku kacang kedele gawe tempe ndok Gresik sebelah endi yo….???
Mengingatkanku sewaktu masih kecil