Jasa-jasa Jiwo Suto

Ada tiga jasa besar Syekh Abdul Kholiq Al Hamid yang bisa kita catat dalam perjalanan hidup beliau, antara lain dalam penyebaran agama islam dan perjuangan  kemerdekaan Indonesia. Berikut ini catatan-catatan kecil tokoh Gresik utara yang sangat terkenal itu.

1. Salah satu pendiri masjid jami’ Ainul Yaqin

Untuk mengupas dan mengungkap jasa-saja beliau, maka kita tidak akan lepas dari keberadaan masjid jami’ Ainul Yaqin Ujungpangkah. Sebab di tempat itulah seorang penghulu (naib) menjalankan tugas kesehariannya melayani umat (masyarakat ujungpangkah), khususnya hal-hal yang menyangkut masalah keagamaan. Bahkan menurut cerita, pada lokasi sekitar masjid dan alon-alon Ujungpangkah dahulu merupakan sentral aktifitas kehidupan masyarakat Ujungpangkah yang masih diwarnai oleh pengaruh Hindu – Budha.

Di depan masid dulu terdapat dua tugu/candi bentar (dalam konsep Hindu – Budha bangunan tersebut disebut paduraksa) yang berfungsi sebagai pintu gerbang sebuah kerajaan, tapal batas dan pura, tempat pemujaan kepada leluhur .

Dengan diangkatnya Jiwo Suto sebagai penghulu di Ujungpangkah oleh Kanjeng Sepuh, maka beliau membangun sebuah surau/langgar dimana di tempat itu sebagai sarana melaksanakan aktifitasnya sebagai penghulu. Maka, mulailah beliau melakukan akulturasi (memadukan budaya Hindu – Budha dengan Islam) sehingga secara lambat laun bangunan candi atau tugu yang semula menjadi tempat pemujaan dialih fungsikan menjadi qori agung atau gapura pintu masuk surau/langgar.

Pada saat yang sama pada tahun 1857 dilakukan renovasi masjid agung Sunan Giri. Dalam cerita rakyat Ujungpangkah tiang Masjid Jami’ Ainul Yaqin merupakan kiriman dari Sunan Giri yang dibawa oleh santirnya bernama Raden Mas Kiriman. Oleh karena itu, masjid jami’ Ujungpangkah diberi nama Ainul Yaqin sesuai dengan salah satu nama Kanjeng Sunan Giri.

Dari cerita rakyat di atas dan proses renovasi Masjid Agung Sunan Giri, dapat ditarik garis lurus bahwa apabila empat tiang (soko) Masjid Jami’ Ainul Yaqin merupakan sisa tiang Masjid Agung Sunan Giri yang telah direnovasi tahun 1857. Maka proses pembangunan masjid jami’ Ainul Yaqin tidak lepas dari jasa Abdul Kholik Al Hamid (Jiwo Suto) karena pada tahun tersebut beliau masih hidup (menjabat sebagai penghulu) dan bertempat tinggal di sekitar masjid jami’ Ainul Yaqin.

2. Pahlawan dan pejuang kemerdekaan

Secara kronologis masa hidup Jiwo Suto adalah masa dimana bangsa Indonesia sedang berjuang melawan penjajah (masa revolusi kemerdekaan). Peran serta dan ketokohan beliau sebagai seorang wali menjadi benteng awal dan penggerak perjuangan merebut kemerdekaan, hal tersebut sama halnya dilakukan oleh Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan, dan tokoh-tokoh lainnya.

Kebencian beliau terhadap penjajah dapat dilihat jelas atas kesediaan dan keterlibatan Jiwo Suto yang mau menggantikan posisi Kanjeng Sepuh diadu dengan banteng di Alun-alun Surakarta sebagai hukuman atas sikap Kanjeng Sepuh yang membenci kehadiran Belanda di tanah Jawa (Solo).

Pertanyaan adalah, mengapa Jiwo Suto bersedia menggantikan Kanjeng Speuh menerima hukuman diadu dengan banteng di Solo? Apa sebatas seorang guru yang membela sang murid? Ataukah jiwo suto ingin mendapat ujian atau imbalan dari Kanjeng Sepuh? Jawabannya jelas, bahwa rasa nasionalisme dan kecintaan Jiwo Suto terhadap bangsa dan negara ini menjadi dasar baginya untuk berani mengambil resiko serta sebagai ungkapan dan sikap perlawanannya terhadap kehadiran penjajah Belanda di Indonesia.

Dari berapa uraian di atas, maka dapat di simpulkan bahwa Jiwo Suto mempunyai jasa dan andil yang besar tidak hanya bagi masyarakat Ujungpangkah secara khusus, tetapi juga terhadap bangsa dan negara.

3. Penyebar Islam (Waliyullah) di Gresik Utara

Tidak diragukan lagi bahwa Jiwo Suto merupakan salah satu dari sekian banyak waliyullah (penyebar islam) di Gresik Utara. Hal tersebut dapat dikeumakan karena peran dan kedudukan beliau sebagai guru sekaligus penasehat Kanjeng Sepuh yang sudah tentu mempunyai posisi penting dan berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan Kanjeng Sepuh atas wilayah yang dipimpinnya (wilayah kawedanan Sidayu dan sekitarnya).

Peran dan perjuangan beliau semakin Nampak jelas bagi masyarakat Ujungpangkah tatkala beliau diangkat menjadi penghulu (naib), dimana jabatan tersebut menyebabkan Jiwo Suto adalah sebagai figur sentral (panutan) masyarakat, sebagai tempat menambah ilmu, memecahkan berbagai masalah dan persoalan masyarakat tidak hanya terbatas masalah-masalah agama tetapi juga masalah sosial.

Atas jasa beliau tersebut, maka tak heran jika Jiwo Suto dikenal luas oleh masyarakat Ujungpangkah, SIdayu dari semua lapisan, semua generasi dan semua golongan. Bahkan bagi masyarakat Ujungpangkah dan Sidayu, tokoh ini dianggap sebagai lem perekat sejarah Ujungpangkah dan Sidayu, yang menyatukan keanekaragaman masyarakat kedua wilayah tersebut.

Sumber : majalah warta giri pemkab gresik

About these ads

17 Responses to “Jasa-jasa Jiwo Suto”


  1. 1 deteksi Juli 4, 2009 pukul 10:48 pm

    terimakasih mas infonya, menambah wawasan sejarah

  2. 2 nggresik Juli 6, 2009 pukul 11:46 am

    matur suwon dateng Syekh Abdul Kholiq Al Hamid atas jasa-jasa beliau semoga 4JJI menerima dan membalas amal ibadah beliau…amin

  3. 3 jihan hudzaqy Agustus 12, 2009 pukul 3:12 am

    permisi,,
    aku anak ujungpangkah, ikut nyomot artikel buat ngepost di grup facebook ujungpangkah ya….

    terimakasih……

  4. 4 Boenalie September 29, 2009 pukul 10:57 am

    mathur suwun artikele, lebaran 2009 dekwingi aku diceritani tentang kisah jiwo suto alis syeh abdul kholiq al-hamid…menurut ceritone wong legowo-bungah jiwo suto melihat kanjeng sepuh kepikiran akan undangan dari keraton ngayokyokarto, disana akan sabung kesaktian melawan jagoan soko banten ( yang meleh dadi macan ) …ditengah kebingungan tersebut, jiwo seto menawarkan diri ke kanjeng sepuh, maka disepakati, kanjeng sepuh berubah diri dadi jiwo suto dan sebaliknya,konon kanjeng sepuh dadi kusir dan jiwo suto dadi juragane…, ditengah adu kesaktian tersebut jiwo suto berubah dadi palu godem…, sing akhire jagoan banten nyerah.. atas jasane kanjeng sepuh nganugerahi sak keturunane jiwo suto dadi naib/ penghulu….., jiwo suto dimakamne nang mesjid agung ujung pangkah

    • 5 zain anak pangkah 100% Juli 27, 2010 pukul 9:06 am

      critanya gini kanjeng sepuh itu adalah kalau sekarang itu camat daerah kaweaddanan siday dia tidak pernah menghadap adipati gresik (sekarang itu bupati)dikarenakan memang usia beliau sudah tua maka dari itu adipati gresik memberikan hukuman berupa tantangan dengan mengaduh antara kanjengsepuh dengan banteng yang besar dan ganas berita itu terdengar oleh jiwosuto dia merasa ibah karena orang yang sudah tua mau diaduh dengan banteng di bersediah untuk menerimah permintaaan kanjeng sepuh untuk menggantikan duel lawan banteng dengan nyepo(= berubah wujud)menjadi kaneng sepuh.
      duel tersebut diadahkan di alun2 sidayu dan disaksikan banyak orang barang siapa yang menonton dan dia menjelekan kanjeng sepuh maka dia akan pulang sakit dan mati dan sebaliknya yang merash iba kepada kanjeng sepuh akan mendapat rizki
      pada duel yang menenggagangkan itu dengan alunan gamelan hanya dengan 1 keplak’am (=tempelengan) jwo suto yang nyepo manjadi kanjeng sepuh membuat klenger dan mati banteng yang ganas karena memenangkan duel tersebut jiwo suto di hadiah’i 1 set gamelan yang sekarang masih tersimpan di kawasan kanjengsepuh sidayu by zain

  5. 6 Romi anak pangkah Maret 24, 2010 pukul 12:39 pm

    Terimah Kasih Mbah Jiwo suto Sekarang Desa Pangkah menjadi Makmur Tentram dan Damai atas jasa beliau saya ucapkan Terimah kasih sebesar besarnya

  6. 8 ankara murka generation pangkah September 1, 2010 pukul 9:57 am

    terimakasih, telah membukukan sejara2 wonk pangkah, byar generasi peneruz wong pangkah gak lupa akan sejarahnya…………..

  7. 9 zakaria September 20, 2010 pukul 10:32 pm

    kulo nuwun derek,,,,, salam kenal sedoyo… kulo njeh lare gresik,, tp kulo mboten mudeng kale boso jowo alus,,,,, hehehe

  8. 10 Agus Syahrul Adib Oktober 25, 2010 pukul 12:24 am

    Ya ALLAH… Ampunilah hamba njenengan yang lemah ini.
    Assalamu’alaikum Wr.Wb…!
    Dengan segala rasa hormat, Kepada Yth Bapak dan Ibu guru saya sewaktu saya masih sekolah dulu, dan Kepada segenap masyarakat Ujung Pangkah – Gresik : ijinkan dan mohon doa kan saya karena saya insyaAllah akan segera membangun dermaga Pelabuhan Internasional khusus peti kemas ditepi pantai utara Ngimboh–Ujung Pangkah–Gresik dengan nama (PT. Ujungpangkah International Container Terminal).
    Yang mana saat ini masih dalam tahap pembebasan lahan dengan total lahan 2.000 Ha, (dengan perincian reklamasi laut 100 Ha, dan lahan darat 1900 Ha). insyaAllah proyek tsb akan saya kerjakan sendiri (yaitu PT. Graha Pantura Adibindo) dengan sindikasi investor dari Perancis dengan nilai proyek 10 Trilyun.
    Semoga… dengan adanya Pelabuhan Internasional Peti Kemas nantinya bisa bermaanfaat dan bertambah makmurnya bagi masyarakat UjungPangkah dan sekitarnya, Amin…!
    salam hormat saya, AGUS SYAHRUL ADIB JAMZURI, 25-10-2010, 00:24 Wib.

  9. 11 Soga yulian Juni 16, 2011 pukul 10:12 am

    Assalaamualikum
    Sy ingin lbh mengenal dan memperdlm ilmu allah yg di anugrahkan kpd syeh jiwo seto.

  10. 12 masnukhan Desember 27, 2011 pukul 4:46 pm

    JIWOSUTO PUTRA SUNAN BONANG TUBAN
    JIWOSUTO, 25 TAHUN DIKUBUR JASADNYA MINTA DIPINDAH
    Oleh: Masnukhan
    (Tenaga Edukatif SMPN 1 Ujungpangkah Gresik)

    Jiwosuto adalah salah seorang tokoh legendaris Ujungpangkah. Setiap orang Ujungpangkah mengenal ketokohannya. Beliau seorang ulama yang memiliki ilmu kedigdayaan tingkat tinggi. Namanya tidak hanya dikenal oleh masyarakan Ujungpangkah dan sekitarnya. Hampir di setiap perguruan kanuragan di tanah Jawa ini selalu menjadikannya sebagai sosok guru atau pendekar kanuragan pujaan. Kebesaran nama Jiwosuto bagi masyarakat Ujungpangkah ditularkan secara lisan atau dari mulut ke mulut dari para sesepuh Ujungpangkah hingga saat ini..
    Nama asli Jiwosuto adalah Syeh Abdul Hamid. Nama itu diterima dari para leluhur Ujungpangkah. Tentang asal usul Jiwosuto belum banyak diketahui masyarakat Ujungpangkah karena selama ini belum ada referensi tertulis yang dijadikan pijakan.
    Lewat tulisan ini, penulis ingin menyampaikan sekilas riwayat Jiwosuto berdasarkan referensi tertulis.yaitu buku Primbon Sunan Bonang. Buku primbon itu sampai sekarang diwarisi dan dipegang oleh keturunan keempat belas Sunan Bonang yang berada di Ujungpangkah Buku itu tulisan tangan Sunan Bonang. Kiyai Muridin, keturunan kelima Sunan Bonang atau keturunan keempar Jayeng Katon menambahkan sejarah asal usul Ujungpangkah dalam buku primbon tersebut.
    Menurut Muridin nama panggilan awal Jiwosuto adalah Jayeng Katon. Dipanggil demikian, karena beliau mempunyai ilmu halimunan atau ilmu menghilang. Kadang beliau terlihat kadang tidak terlihat. Kata katon dari bahasa Jawa yang berarti kelihatan.
    Jayeng Katon adalah putra Sunan Bonang. Beliau datang ke wilayah Ujungpangkah untuk menyebarkan agama Islam. Beliau ditemani oleh putra pertamanya yang bernama Pendil Wesi dan seorang santri Sunan Bonang. Pendel Wesi putra Jayeng Katon dengan Nyai Jika, nama panggilan istri Jayeng Katon. Ketika itu Pendel Wesi masih kecil sedang Nyai Jika masih pergi melaksanakan ibadah haji. Jayeng Katon membawa kuda kesayangannya yang dipanggil Sembrani atau kuda Sembrani.
    Di wilayah Ujungpangkah, mula-mula ketiga pengembara itu tinggal di Koang desa Kebunagung Ujungpangkah. Di tempat itu Jayeng Katon mendirikan pondok sebagai sarana berdakwah mengajarkan Islam kepada penduduk Di pondoknya dilengkapi dengan sebuah sumur sebagai tempat untuk berwudlu dan mandi santri-santrinya. Di sisi sumur itu ditanami pohon beringin untuk tanda untuk mempermudah bila ada tamu yang mencarinya.
    Tak seberapa lama adiknya yang dipanggil Jayeng Rono datang menyusulnya. Jayeng Rono ditugasi Sunan Bonang untuk menemani kakaknya berdakwah karena Pendel Wesi putranya masih kecil. Jayeng Katon bertemu kakaknya di pondoknya di Koang. Tempat bertemu Jayeng Rono dengan Jayeng Katon itu diabadikan sebagai nama tempat yaitu Koang. Koang dari panggilan kakang atau koang (bahasa Jawa, panggilan dari jauh).
    Kedua putra Sunan Bonang itu tidak lama berdakwah di Koang dan sekitarnya. Keduanya akhirnya berpindah ke Ujungpangkah. Pondok yang ditinggalkan itu kelak diteruskan oleh putra Jayeng Rono yang bernama panggilan Sridi. Sridi mengasuh pondok itu sampai akhir hayatnya. Sridi dimakamkan tidak jauh dari pondok peninggalan Jayeng Katon. Bahkan namanya menjadi nama lomplek pemakaman itu yaitu Makam Sridi Koang.
    Kedatangan ketiga keturunan Sunan Bonang di Ujungpangkah itu ditandai dengan penanaman tiga pohon asem. Asem Resik atau Semersik berada di pertigaan jalan Sitarda, Asem Growok atau Semgrowok berada jalan Jiwosuto dan Asem Angker atau Semangker. Asem Angker letaknya sekitar empat puluh meter ke utara letak Asem Growok dan sekarang berada di wilayah kampung Bauman Barat.
    Di Ujungpangkah Jayeng Katon, Jayeng Rono, Pendel Wesi, dan seorang santri Sunan Bonang itu mendirikan rumah sekaligus sebagai pondok pesantren di tepi pantai Ujungpangkah. Pondok itu berada sekitar tiga puluh meter dari bibir pantai pulau Jawa. Di pondok itu, Jayeng Katon membuat sumur senggot dan beji atau jublangan yang digunakan sebagai tempat berwudlu dan mandi para santrinya. Di sisi sumur senggot terdapat watu gilang.
    Keberadaan pondok Jayeng Katon mendapat sambutan dari penduduk Ujungpangkah dan sekitarnya. Banyak santri yang datang berguru ilmu agama maupun ilmu kanuragan kepada Jayeng Katon. Bahkan putra bangsawan dari Tuban datang berguru kepadanya misalnya Ronggo Janur, Ronggo Seto, dan Ronggo Lawe.
    Kabar keberhasilan Jayeng Katon dalam pengembangan Islam di wilayah Ujungpangkah sampai juga ke Sunan Bonang ayahandanya di Tuban. Karena pondok Jayeng Katon belum mempunyai masjid yang dapat menampung penduduk bila melaksanakan salat Jumat, Sunan Bonang mengutus seorang santrinya mengirimkan kayu-kayu jati gelondongan untuk bahan pembangunan masjid di pondok putranya. Kayu-kayu itu dilarung ke laut. Kayu-kayu itu akan berhenti sendiri di tempat yang dituju. Kayu-kayu itu dikawal seorang santri Sunan Bonang yang dikenal dengan nama panggilan Maskiriman.
    Kayu-kayu yang diikat dengan tali lingir dari tematan yang dikawal Maskiriman itu berhenti di pantai Ujungpangkah. Sebagaimana pesan Sunan Bonang kayu-kayu itu harus dijadikan sebuah masjid di tempat kayu-kayu itu berhenti. Tempat berhentinya kayu itu kini dinamai kampung Kramat karena tempat itu dianggap sebagai tempat yang kramat. Tempat berhentinya kayu-kayu itu tepat di sebelah utara pondok Jayeng Katon.
    Jayeng Katon bersama kelima putranya, para santrinya dan penduduk Ujungpangkah santri itu membangun masjid. Masjid itu semuanya terbuat dari bahan kayu jati. Masjid itu beratap susun tiga. Atap susun yang paling atas semuanya terbuat dari kayu, termasuk gentingnya. Kayu penyangga atap susun ketika itu diikat dengan tali lingir. Masjid itu berukuran 12 m x 12 m dengan empat tiang sokoguru, dan 32 pilar. Di tengah-tengah masjid terdapat tangga untuk ke atas menara. Masjid itu dilengkapi dengan mimbar yang mempunyai sandi sengkala naga kale warni tunggal yang menunjukkan tahun 1428 saka/ 1506 masehi/ 911 hijriah).Masjid itu dinamai masjid Jamik artinya masjid untuk berjamaah Jumat. Masjid itu berpagar tembok keliling dengan satu pintu gapura. Pintu itu bentuknya mirip dengan pintu gapura memasuki kompleks pemakaman Sunan Bonang. Di pintu masuk terdapat batu hitam berukuran 1,5 m x 0,30 m x 0,15 m. Batu itu sejenis dengan batu yang digunakan untuk membangun Kakbah di Mekkah. Batu itu dibawa oleh Nyai Jika sepulang dari menunaikan ibadah haji. Batu hitam itu disandingi dengan batu berbentuk keris. Batu itu merupakan replika keris Aji Saka. Sejak tahun 1975, masjid itu dinamai Masjid Jamik Ainul Yaqin Ujungpangkah.
    Di timur Masjid terdapat alun-alun yang ditanami lima pohon beringin. Lima pohon beringin itu sebagai tempat berteduh atau bernaung. Berjumlah lima melambangkan lima rukun Islam. Lima pohon beringin mengisyaratkan lima putra Jayeng Katon yang siap membawa masyarakat Ujungpangkah di bawah perlindungan ajaran Allah yakni agama Islam. Kelima putra Jayeng Katon sebagai penerus perjuangan adalah Pendel Wesi, Jaka Karang Wesi, Jaka Berek Sawonggaling, Jaka Sekintel alias Cinde Amo, dan Jaka Slining alias Jaka Tingkir.
    Kelima putra Jayeng Katon mengikuti jejak abahnya dalam mengembangkan Islam. Mereka juga mendirikan pondok sebagai sarananya. Pendek Wesi mendirikan pondok Bekuto di Bekuto Ujungpangkah, Jaka Karang Wesi mendirikan pondok Rebuyut di Rebuyut Ujungpangkah, Cinde Amo mendirikan pondok Unusan di Unusan Ujungpangkah, dan Jaka Slining mendirikan pondok Sabilan di Sabilan Ujungpangkah. Hanya Jaka Berek Sawonggaling yang tidak mendirikan pondok baru karena ia mengasuh pondok Pangkah menggantikan Jayeng Katon.
    Suatu hari Jayeng Katon kedatangan tamu seorang bupati Sidayu yang bernama Kanjeng Sepuh. Sebenarnya kedatangan Kanjeng Sepuh ini bukan yang pertama melainkan sudah kali ketiga. Yang pertama beliau datang untuk meminta tolong kepada Jayeng Katon untuk merawatkan kuda, kali kedua beliau meminta tolong untuk menanamkan pohon asem di sepanjang jalan Sidayu. Kedatangan beliau kali ketiga ini juga untuk meminta bantuan. Kali ini beliau hadir dengan membawa persoalan yang berat. Betapa tidak, beliau meminta kepada Jayeng Katon untuk menghadapi seekor banteng. Kanjeng Sepuh menerima sayembara dari atasannya bahwa bupati yang bisa mengalahkan banteng akan dinaikkan pangkatnya dan diperluas wilayah kekuasaannya.
    Jayeng Katon alias Jiwosuto berpikir dengan tenang dan diam beberapa saat sebelum memberikan jawaban terhadap permintaan itu. Dengan nada rendah Jayeng Katon akan berusaha membantunya. Berbunga-bunga hati Kanjeng Sepuh mendengar jawaban yang keluar dari mulut orang yang sangat dikagumi itu.
    Pada saat yang telah ditentukan Kanjeng Sepuh, Jayeng Katon dan rombongan dari pejabat kabupaten Sidayu berangkat menuju alun-alun Tuban untuk menghadiri sayembara itu. Sebelum berangkat Jayeng Katon meminta kepada Kanjeng Sepuh untuk bertukar baju dengan baju dengan Jayeng Katon. Setelah bertukar baju wajah Jayeng Katon berubah menjadi Kanjeng Sepuh. Begitu juga sebaliknya.
    Dalam sayembara adu dengan banteng itu Jayeng Katon yang berpakaian kebesaran kabupaten Sidayu dapat mengalahkan banteng. Banteng itu dikeplak menjadi hancur berkeping-keping. Rombangan Kanjeng Sepuh pulang ke Sidayu dengan membawa kemenangan dan perasaan lega.
    Atas jasa-jasa Jayeng Katon, Kanjeng Sepuh memberikan beberapa penghargaan atau hadiah kepada Jayeng Katon. Beliau memberikan beslit kepada Jayeng Katon bila keturunan Jayeng Katon menghendaki menjadi seorang naib tinggal menunjukkan berslit tersebut. Kanjeng Sepuh juga memberikan kewenangan penuh kepada Jayeng Katon untuk mengatur pemerintahan wilayah Ujungpangkah.Ujungpangkah dijadikan sebagai tanah merdikan atau semacam otonom di bawah kekuasaan Jayeng Katon, namun masih tetap berada di bawah wilayah kabupaten Sidayu. Disamping itu, Kanjeng Sepuh membangunkan tugu di dua pintu masuk Ujungpangkah.
    Setelah peristiwa adu banteng itu, Jayeng Katon hatinya merasa sedih dan perasaan bersalah karena telah membunuh binatang yang tidak bersalah. Untuk mengobati kegundaan hatinya, beliau berkholwat di goa Melirang Bunga selama tujuh hari tujuh malam untuk meminta ampun kepada Allah. Setelah itu, beliau mengembara untuk menyebarkan Islam di nusantara sambil bersilaturrahim ke sanak famili dan para santrinya.
    Dalam pengembaraan itu, suatu malam Jayeng Katon bermimpi didatangi banyak orang berpakaian serba putih. Ini merupakan isyarat bahwa umur beliau tidak lama lagi. Beliau bergegas hendak pulang ke Ujungpangkah dengan kuda sembrani kesayangannya. Sampai di desa Siraman Dukun beliau tidak sanggup melakukan perjalanan lagi. Kebetulan di tempat itu ada seorang petani yang sedang menyirami tanaman. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, beliau berpesan bila Allah mengambil ajalnya untuk mengabarkan kepada keluarganya di Ujungpangkah.
    Allah menakdirkan Jayeng Katon wafat di desa Siraman. Beliau dikuburkan di desa itu oleh penduduk Siraman. Selama 25 tahun wafat Jayeng Katon penduduk dilanda wabah penyakit atau pageblug. Wabah ini menyadarkan seorang petani yang pernah diwasiati Jayeng Katon. Petani itu menyampaikan wasiat Jayeng Katon sebelum wafat kepada ulama setempat namun, ulama itu tidak percaya begitu saja. Tokoh itu melakukan istikhoro. Hasilnya, membenarkan ucapan petani itu. Jayeng Katon yang sudah terkubur selama 25 itu minta dipindah ke Ujungpangkah.
    Kuburan Jayeng Katon digali dan disaksikan Nyai Jika, istrinya, dan kelima putranya serta penduduk setempat. Jasad itu tidak berubah sama sekali. Kain kafan pembungkusnya tidak rusak tetapi masih putih seperti sedia kala. Untuk memastikan kebenarannya, kelima putra Jayeng Katon membuka kain kapannya. Subhanallah, wajah Jayeng Katon seperti orang tidur. Karena jasad beliau masih utuh tatkala dibuka, sejak saat itu Jayeng Katon dijuluki JIWOSUTO..
    Kabar pemindahan jasad Syekh Abdul Hamid alias Jayeng Katon alias Jiwosuto didengar oleh keluarga Kanjeng Sepuh Sidayu. Putra Kanjeng Sepuh dan keluarga ikut menghadiri penggalian itu. Ia menyiapkan kain kafan dan keranda untuk jasad Syekh Abdul Hamid. Itu dilakukan berkat jasa-jasa Syekh Abdul Hamid kepada Kanjeng Sepuh. Namun, kain kapan tidak terpakai karena kain kapan pembungkus Syekh Abdul Hamid masih utuh seperti semula. Termasuk keranda yang disiapkan. Karena banyaknya orang yang berebut untuk membawa jasadnya. Jasad itu dibawa dari tangan ke tangan mulai dari desa Siraman Dukun sampai ke Ujungpangkah.
    Ketika jasad Syekh Abdul Hamid sampai di pertigaan jalan menuju Ujungpangkah, keluarga Kanjeng Sepuh meminta agar jasad Syekh Abdul Hamid dikuburkan di sebelah Kanjeng Sepuh di Sidayu. Setiap kali jasad itu akan dibawa ke arah timur menuju Sidayu, jasad itu seperti menolak. Pembawa jasad itu tidak mampu melangkahkan kakinya ke arah Sidayu, namun tatkala diarahkan ke utara menuju ke Ujungpangkah, pembawa jasad itu seakan-akan berjalan tanpa beban. Kejadian itu berulang-ulang. Atas peristiwa itu keluarga Syekh Abdul Hamid membawa ke Ujungpangkah. Keluarga Kanjeng Sepuh menerimanya dengan lapang dada. Jasad beliau akhirnya dikuburkan di belakang Masjid Jamik Pangkah, sekarang bernama Masjid Jamik Ainul Yaqin Ujungpangkah.

  11. 13 sanri nakal Mei 17, 2012 pukul 10:49 pm

    salam kenal mas, artikelnya menarik

  12. 14 mobiandroid Januari 17, 2013 pukul 2:05 pm

    makasih infonya mas, artikel yang bagus

  13. 15 Irmaniez Maidah April 4, 2013 pukul 2:07 pm

    maksih… sangat membantu sekali artikel dan sejarahnya

  14. 16 Adnan sampurnan Juni 25, 2013 pukul 10:17 am

    aQ sneng bnget.,kmrin aQ berkesempetan brziar0h lngsung k mkm syekh abdul kh0liq al hamid.

    *Alhamdulillah yaa r0bb..

  15. 17 Cara Berhijab Juli 24, 2014 pukul 9:31 pm

    Semoga jasa-jasa beliau selalu di kenang masyarakat khusunya warga gresik,, suwun kang sampon porong posting artikel niki sehingga kita dapat mengenalnya lebih dekat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: