Kalau sudah takdir Lewis Hamilton, maka apapun bisa terjadi. Itu yang bisa saya ungkapkan ketika pembalap favorit saya menjadi juara GP formula 1 2008.
Di balapan terakhir dari delapan belas seri, pada lap terakhir dan tikungan terakhir pula, membuat saya dan penggemar F1 seluruh dunia sport jantung, terutama penggemar Ferrari dan McLaren. Bagaimana tidak, ketika Felipe Massa menyentuh garis finis, Hamilton masih posisi enam dan finis masih kurang tiga tikungan. Namun di tikungan terakhir Hamilton menyalip Timo Glock yang melambat karena masalah ban. Dan dengan hanya posisi lima, jumlah nilai hamilton unggul satu poin dari peringkat dua, yaitu Massa.
Well, Sedetik yang lalu kubu ferrari bersuka cita, namun sesaat kemuadian justru Lewis Hamilton membuat McLaren berpesta pora. Memecahkan rekor juara dunia termuda, dan juara dunia pertama dari kulit hitam.
Terima kasih Azrul Ananda, komentator F1 yang awalnya saya kenal suaranya di radio SSFM Surabaya, ulasannya tentang F1 di JawaPos yang menarik dan mudah dipahami yang selalu saya ikuti. Sehingga saya bisa tertarik dan menjadi salah satu penggemar formula 1. Walaupun sesungguhnya balapan ini tidak seatraktif GP motor atau superbike, namun entah mengapa saya lebih menyukai olahraga ini…

ga relaaa.. uh masi sakit hati
Wah, hebat tuh Lewis, salut.
dalam kehidupan ada nasehat:
BERbalap dengan mimpi
blogwalking aja cak