Suwuk Embah dan Jahe

Mei 7, 2008 at 10:33 pm | In gresik, nggersik-an |

Mulai hari senin kemarin siswa sekolah menengah pertama (SMP) melaksanakan ebtanas, eh, ujian nasional. Selama empat hari ini menjadi klimaks dari 3 tahun belajar di bangku sekolah. Waktu yang harus dipergunakan sebaik-baiknya, oleh siswa dan dukungan orang tua, agar si anak tidak mengulang setahun lagi atau lulus dengan ijasah SMP kejar paket. Walaupun tidak ada beda menurut saya, toh sama-sama lulus.

Saya jadi teringat pada waktu ebtanas SD. Saat hari pertama, pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke sekolah, para orang tua meminta suwuk (doa) anak-anaknya kepada Yai Tro. Suatu hal yang biasa pada masa itu ketika seseorang menghadapi hari-hari bersejarah dalam hidupnya, agar sukses dan diberi kemudahan.

Yai Tro adalah sesepuh desa ini. Orang tua yang dituakan, selain karena ketuaannya tentu saja karena ilmu suwuknya. Saya memanggilnya Embah, karena beliau Bapak dari Ibu saya.

Pagi itu, dihadapan beberapa anak SD yang diantar orangtuanya, mulut Yai Tro komat-kamit mengucap doa sambil memejamkan mata. Di akhir doa beliau mendekatkan mulutnya ke kening sang anak, kemudian bruss… Hembusan lembut tapi mantap hingga meninggalkan bekas basah di setiap kening anak-anak.

Setelah di suwuk, beliau memberikan syarat lain yaitu harus mengunyah jahe sebesar jempol. Agar tidak terlalu pedas boleh dicampur gula pasir. Dalam hati, saya tidak begitu yakin dan percaya, tapi setelah dewasa saya baru tahu setelah baca artikel kesehatan di koran. Ternyata Jahe mengandung zat yang berguna meningkatkan daya konsentrasi, tentu hal ini sangat dibutuhkan untuk membantu siswa dalam mengerjakan ebtanas, wow…!

Sekali lagi benar kata pak Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos, beliau mengajak kita semua untuk tegakkan akal sehat. Satu pelajaran lain bahwa tradisi remeh yang tidak masuk akal, mungkin di situ ada nilai ilmiah lain yang harus kita gali lebih dalam.

18 Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

  1. hmmm…. yai tro=mbah sastro kah? klo btul itu emg uda trkenal di seantero gresik kayaknya :mrgreen:

    Komentar oleh lovesomatic — Mei 7, 2008 #

  2. simbah njenengan emang bijak :D
    sementara orang jaman sekarang yang katanya mengandalkan rasio sering lupa kearifan lokal/tradisional.

    Komentar oleh dadan — Mei 8, 2008 #

  3. Bar disuwuk hasil`e UN yo opo mas? :D

    Komentar oleh leah — Mei 8, 2008 #

  4. sampean sbelum nulis ini wis disuwuk yai tro durung? wkwkwkwk

    Komentar oleh Anang — Mei 8, 2008 #

  5. trima kasih mengingatkan tentang perihal kiri kanan, btw potone wes tak balik hahaha

    Komentar oleh leah — Mei 8, 2008 #

  6. hehehehe..
    sudah tradisi..

    Komentar oleh diorockout — Mei 8, 2008 #

  7. @lovesomatic
    cuma nama aja sama, rejekinya beda… :)
    @dadan
    tapi orang sekarang pinter-pinter kok, meski kadang kurang santun, he2…
    @leah
    suwuke mbah pancen oye, lulus kabeh… ^_^
    @anang
    wis gedhe gak usah suwuk-suwukan… :D
    @leah
    wah, nakalan iki…
    @diorockout
    sekarang sih sudah gak ada…

    Komentar oleh mybenjeng — Mei 8, 2008 #

  8. suwuk artinya apaan yak ??

    Komentar oleh Okta Sihotang — Mei 8, 2008 #

  9. hehehe..wong ngGresik!

    Komentar oleh tony — Mei 8, 2008 #

  10. yuk tegakkan akal sehat

    Komentar oleh hanggadamai — Mei 9, 2008 #

  11. saya juga mengalaminya… hehehehehehe… di kalngan pedesaan, masih banyak model yg begitu itu.. dan alhamdulillah, jaman saya SD dulu mendapat predikat terbaik se-kecematan nomor 1 hehehehehe

    Komentar oleh gempur — Mei 9, 2008 #

  12. Kalau aku waktu UNAS SMA dulu… tp pelakunya bukan aku, tapi temanku yang seruangan sama aku, dibawah meja penjaganya ditaburi garam, konon katanya penjaganya ngantuk, dan bener juga lho… tak lupa disediakan pula koran dan tabloid, lengkap.. jadi penjaganya baca koran :)

    Komentar oleh Hasan Seru — Mei 9, 2008 #

  13. @okta sihotang
    suwuk=doa dari dukun :)
    @tony
    he2, wong jowo… :)
    @hanggadamai
    yuk…
    @gempur
    ah, masa iya karena suwuknya, he2…
    @hasan seru
    cerdas… :D

    Komentar oleh mybenjeng — Mei 9, 2008 #

  14. Wah,sayang ndek deso-ku gak ono dukun …..
    nek ono ngono mesti sering takparani, gawe nyuwuk lambe-ku cek’e selingkuhanku gampang tak bujuki. :)

    Komentar oleh aliyulwafa — Mei 10, 2008 #

  15. kok yah msh ada jg org2 yg percaya takhyul macem ituh yah? ;)

    Komentar oleh theloebizz — Mei 12, 2008 #

  16. @aliyulwafa
    dukune dadi penyanyi, Alam adike vety vera… :)
    @theloebizz
    saya nggak kok… :)

    Komentar oleh mybenjeng — Mei 12, 2008 #

  17. low, aku juga baru tau apa itu gunanya jahe. Aku jadi terinspirasi untuk minum jahe anget tiap sebelum kuliah, biar nyambung kalo lagi di kelas.
    Oya….spakat tuh untuk mengkaji tradisi2 nenek moyang kita dengan pengetahuan2 yg masuk akal…ayo posting yang kayak gini lagi ya…aku lagi suka ilmu2 kesehatan yang bisa diterapkan dalam kehipan sehari2 nih… ^_^

    Komentar oleh nuha — Mei 19, 2008 #

  18. Wooooow baru tahu kalo susuk bisa dihubungkan dengan ilmu kesehatan dan Yai Tro bilang ngunyah jahe tu asal2an atau karena udah tahu soal berita jahe. ???

    Komentar oleh don45 — Mei 26, 2008 #

Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.