Bancakan Bubur Sengkolo
April 18, 2008 at 11:22 am | In gresik, nggersik-an | 9 CommentsDalam sebulan ini hampir semua teman kantor jatuh sakit. Dari mulai sakit flu, gigi (gusi) bengkak, diare, kepala nggliyeng (pusing), dan macem-macem. Saya pikir sakit bohongan (sepeti biasanya, he2…), eh ternyata semua punya surat keterangan dokter beserta hasil check up kesehatan dari laboratorium. Ada yang tekanan darah rendah kepalanya nggliyeng terus, gejala typhus perutnya sakit bikin nggak nafsu makan, kolesterol naik badannya cepet pegal.
Dari semua kesusahan yang menimpa kami, puncaknya adalah seminggu yang lalu. Salah satu pegawai di lingkungan kantor, teman kami seorang ibu muda mengalami kecelakan motor dan langsung meninggal di TKP.
“Kesialan” ini datang bertubi-tubi, dan sebagai orang Jawa untuk mencegah marabahaya tidak berlanjut maka kantor ini perlu bancakan (selamatan) nasi tumpeng plus ayam panggang, jajan pasar, dan bubur sengkolo (bubur marabahaya). Bubur ini terbuat dari beras ketan dibuat dua warna, putih dan merah (kecoklatan). Pagi ini, di kantor, saya sempat mencicipi bubur sengkolo. Yang putih rasanya tawar, yang merah kecoklatan karena warna gula jawa, tentu saja rasanya manis.
Bagi orang Jawa, ruwatan, selamatan dan semacamnya adalah suatu kebiasaan yang membudaya. Walaupun antara percaya dan tidak percaya terhadap hasilnya namun toh susah untuk dihilangkan. Dalam hal ini, bancakan atau selamatan, saya kok melihatnya sebagai terapi sugesti atau motivasi untuk bangkit dari perasaan ancaman datangnya kesialan pada seseorang.
Saya percaya Tuhan yang mengatur “kesialan” ini, dan saya yakin Tuhan nggak butuh sekadar bubur, he2… Apalagi setelah membaca buku Ganti Hati Dahlan Iskan dan melihat wawancaranya di Kick Andy beberapa waktu lalu, semakin meyakinkan saya bahwa kita harus “tegakkan akal sehat”. Kalau jalan supranatural kadang memberi solusi mungkin itu kebetulan saja.
9 Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

Biasane arek cilik pas wetone digawekno bubur sengkolo. b
Komentar oleh leah — April 18, 2008 #
waduh jadi pingin bubur deh.. kirim ke dubai donk..
Komentar oleh franya — April 18, 2008 #
@leah
iya buk biar gak sakit-sakitan
@franya
yang merah atau yang putih bu…?
Komentar oleh mybenjeng — April 19, 2008 #
kenapa nggak pake bubur roomo!
Komentar oleh peyek — April 19, 2008 #
Bancakan Bubur Sengkolo <== apa si artinya? heehe maklum ngga ngerti sepenuhnya, tapi klo budayannya hampir sama dengan Banjar….
slm ^,^
Komentar oleh hafidzi — April 20, 2008 #
jd, hrz bancaan kyk gt ya..
kl pgn bebas dr sengkala..
aku br tahu
*lm ya g silaturahim*
Komentar oleh akafuji — April 20, 2008 #
hmmm, memang adat istiadat yg seperti ini kadang tidak bisa dihilangkan
Komentar oleh hanggadamai — April 20, 2008 #
@peyek

halah, tukune adoh cak…
_
@hafidzi
bancakan=selamatan
sengkolo=marabahaya, petaka, sial
budayanya hampir sama, beda nama saja kali ya…
_
@akafuji
percaya gak percaya sih…
ngilang kemana aja bu…?
_
@hanggadamai
susah cak…
Komentar oleh mybenjeng — April 21, 2008 #
Percaya gak Percaya….!
Sampeyan pernah gak kena penyakit Sawan (sawanen ;jawa). penyakit awak nggreges sing mempan suntik iku lho cak, pnyakit sing gara-gara takut ambek something, sering wong ndeso sing kenek penyakit iku, disuntikno nang dokter endi wae ora waras-waras.
nDilalah, sakmarine di”suwukno” nang “abah” kok yo bablas penyakite, lha wong obate lhoo cuma dikongkon ngusap saputangan sing mari diusapno nang Velg sepeda, jarene “abah” sawanen Bel montor.
ono-ono wae to kang, Percaya …..?
Komentar oleh aliyulwafa — April 27, 2008 #